Gerakan Membumikan Ekonomi Syariah

Gerakan Membumikan Ekonomi Syariah

Artikel dan Opini – Perkembangan ekonomi syariah  yang marak   dewasa ini merupakan cerminan dan kerinduan ummat Islam Indonesia untuk kembali menghidupkan semangat para entrepreneur muslim masa silam dalam dunia bisnis  dan perdagangan,  sebagaimana juga menjadi ajaran Nabi Muhammad SAW dan sunnah yang diteladankannya kepada umatnya. Bangsa Besar adalah bangsa yang bisa menangkap peluang dan tanda zaman serta berpikir jauh ke depan, Ekonomi Syariah tidak sekedar kebutuhan umat Islam. Melainkan sudah menjadi trend  global, yang bersifat universal.

Sejarah pergerakan ekonomi Ekonomi Syariah di Indonesia sebenarnya telah berlangsung sejak tahun 1911, yaitu sejak berdirinya organisasi Syarikat Dagang Islam yang dibidani oleh para entrepreneur dan para tokoh Muslim saat itu. Bahkan jika kita menarik sejarah jauh ke belakang, jauh sebelum tahun 1911, peran dan kiprah para santri (umat Islam)  dalam dunia perdagangan cukup besar. Hasil  penelitian para ahli sejarah dan antropologi  membuktilan fakta tersebut.

Perkembangan ekonomi syariah  yang marak   dewasa ini merupakan cerminan dan kerinduan ummat Islam Indonesia untuk kembali menghidupkan semangat para entrepreneur muslim masa silam dalam dunia bisnis  dan perdagangan,  sebagaimana juga menjadi ajaran Nabi Muhammad Saw dan sunnah yang diteladankannya kepada umatnya.

Dalam masa yang panjang  peran umat Islam dalam dunia bisnis dan perdagangan di Indonesia cendrung termarginalkan. Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia mulai mendapatkan momentumnya untuk tumbuh kembali, semenjak didirikannya Bank Muamalat Indonesia pada 1 November 1991 atau 24 Rabi’us Tsani 1412 H. Pendirian Bank Muamalat Indonesia digagas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan pengusaha muslim yang kemudian mendapat dukungan dari Pemerintah Republik Indonesia. Sejak resmi beroperasi pada 1 Mei 1992 atau 27 Syawal 1412 H, Bank Muamalat Indonesia terus berinovasi dan mengeluarkan produkproduk keuangan syariah seperti Asuransi Syariah (Asuransi Takaful), Dana Pensiun Lembaga Keuangan Muamalat (DPLK Muamalat) dan multifinance syariah (Al-Ijarah Indonesia Finance) yang seluruhnya menjadi terobosan di Indonesia. Selain itu produk Bank yaitu Shar-e yang diluncurkan pada tahun 2004 juga merupakan tabungan instan pertama di Indonesia. Produk Shar-e Gold Debit Visa yang diluncurkan pada tahun 2011 tersebut mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Kartu Debit Syariah dengan teknologi chip pertama di Indonesia serta layanan e-channel seperti internet banking, mobile banking, ATM, dan cash management. Seluruh produk-produk tersebut menjadi pionir produk syariah di Indonesia dan menjadi tonggak sejarah penting di industri perbankan syariah.

Pada 27 Oktober 1994, Bank Muamalat Indonesia mendapatkan izin sebagai Bank Devisa dan terdaftar sebagai perusahaan publik yang tidak listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada tahun 2003, Bank dengan percaya diri melakukan Penawaran Umum Terbatas (PUT) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) sebanyak 5 (lima) kali dan merupakan lembaga perbankan pertama di Indonesia yang mengeluarkan Sukuk Subordinasi Mudharabah. Aksi korporasi tersebut semakin menegaskan posisi Bank Muamalat Indonesia di peta industri perbankan Indonesia. Hanya berselang 2 tahun setelah pendiriannya, pada tanggal 27 Oktober 1994, Bank Muamalat berhasil menyandang predikat sebagai Bank Devisa. Ini makin memperkokoh posisinya sebagai bank syariah pertama dan terkemuka di Indonesia dengan beragam jasa dan produk yang terus dikembangkan. Seiring dengan pesatnya perkembangan ekonomi syariah dengan banyaknya berdiri dan integrasi bank syariah lainnya, menjadi hal yang positif dalam membumikan ekonomi syariah, tentunya bank muamalat kita harapkan terus mampu untuk berkiprah sebagai bank pertama syariah di Indonesia sebagai spirit bagi perkembangan ekonomi syariah di Indonesia dan dunia dan Indonesia menjadi Kiblatnya Ekonomi Syariah yang terus mampu mengubah peradaban dunia yang lebih baik  dan maju dengan berSyariah.

Setelah terjadi krisis 1997, hampir seluruh bank konvensional dilikuidasi karena mengalami negative spread, kecuali bank yang mendapat rekap dari pemerintah melalui BLBI dalam jumlah besar mencapai Rp 650 triliun. Bank-bank konvensional itu bisa diselamatkan dengan mengorbankan kepentingan rakyat banyak.

Krisis tersebut membawa hikmah bagi pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Pemerintah dan DPR mengeluarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan terhadap Undang-Undang No 7/1992. Pasca UU tersebut sejumlah bank konvensional konversi kepada syariah dan membuka unit usaha syariah. Perkembangan itu selanjutnya diikuti oleh lembaga-lembaga keuangan syariah lainnya, seperti asuransi syariah, pasar modal syariah, reksadana syariah. obligasi syariah, pegadaian syariah dan sebelumnya telah berkembang lembaga keuangan mikro syariah BMT.

Berdasarkan kinerja bank-bank syariah dan lembaga keuangan syariah yang sangat bagus, sementara lembaga-lembaga perbankan konvensional telah mendatangkan mafsadat dan mudarat dengan sistem riba, maka menjadi keniscayaan bagi bangsa Indonesia untuk menjadikan ekonomi syariah sebagai solusi ekonomi Indonesia untuk keluar dari krisis dan lebih resisten dalam menghadapi gejolak krisis.

Sistem ekonomi ribawi bersama perangkat-perangkatnya berupa  maysir, gharar dan batil, telah terbukti membawa penderitaan yang memilukan bagi bangsa Indonesia. Sehubungan dengan itu upaya pembumian ekonomi syariah menjadi sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan.

Pembicaraan mengenai Pendidikan berbasis Islam menjadi menarik di tengah kemajuan Ilmu pengetahuan di abad 21 ini, salah satunya mengenai membumikan ekonomi syariah bagi masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan 87 persen mayoritas muslim, Indonesia mempunyai potensi besar sebagai pusat ekonomi syariah di dunia ini. Faktanya, Indeks membumikan keuangan Islam yang dirilis oleh Otoritas jasa Keuangan tahun 2016 masih berada di angka 8,11 persen, artinya pemahaman masyarakat Indonesia mengenai ekonomi syariah masih minim. Di samping itu, keberadaan membumikan dan inklusi keuangan Islam mempunyai hubungan yang erat sehingga indeks inklusi keuangan syariah pun masih terbilang kecil di kisaran 11,06 persen pada tahun 2016. Realita ini sepatutnya menjadi perhatian bagi para pemerhati ekonomi syariah di Indonesia. Dengan demikian, Gerakan membumikan ekonomi syariah yang sistematis dan berkelanjutan adalah sebuah keharusan agar masyarakat Indonesia menjadi well-literate terhadap ekonomi syariah.

Miris kiranya ketika perkembangan ekonomi syariah yang begitu pesat, namun tidak didasari dengan pengenalan dan sosialisasi. Tongkat estafet untuk membumikan ekonomi syariah ditangan kita, sekaranglah saatnya pengenalan ekonomi syariah dimulai digalakkan. Menurut penulis, dalam mensosialisasikan ekonomi syariah, pertama, sosialisasi ekonomi syariah hendaknya dimulai dari diri kita sendiri, Sudahkan kita bertanya pada diri masing-masing, apakah kita telah mempraktekkan sistem ekonomi syariah? Mulailah dari diri sendiri, dengan mengutamakan prinsip-prinsip Islam dalam setiap kegiatan muamalah kita, pengenalan ekonomi syariah bagi diri adalah mengedepankan produk-produk halal dalam berkomsumsi, merubah rekening yang awalnya konvensional menjadi rekening syari’ah, dari hal-hal yang dianggap biasa oleh orang lain tetapi sangat bermanfaat yang tujuannya untuk kebaikan.

Halal juga kini sudah menjadi trend di dunia. 1/3 populasi dunia adalah Muslim. Islam menjadi salah satu agama terbesar yang paling cepat berkembang di dunia, saat ini mencapai 1,8 Milyar orang. Berbicara tentang halal belakangan ini tidak hanya booming di masyarakat muslim saja, tetapi sudah menjadi urusan banyak kalangan termasuk di negara maju di Asia, Eropa dan Amerika.

Produk yang menjadi pengisi pasar halal pun sekarang sudah tidak hanya seputar makanan dan minuman saja, namun telah meluas ke industri obat, vaksin, kosmetik, fashion, hingga industri pariwisata seperti hotel dan travel (pariwisata). Melihat respon positif dari dunia, gaya hidup halal menjadi mudah diterapkan di seluruh belahan dunia.

Kesadaran memenuhi hak atas pangan halal oleh produsen terus meningkat secara global. Di negeri yang tidak akrab dengan term halal pun, pangan halal kini tidak lagi barang langka. Banyak maskapai kelas dunia menyediakan menu halal. Dikenal dengan sebutan Moslem Meal (MoML) diantaranya maskapai, mulai Japan Airlines, American Airlines, Singapore Airlines, Qantas, Chatay Pacific (Hong Kong), Saudia, Emirates, Qatar Airways, sampai Malaysia Airlines. Dalam penerbangan domestik India dan China pun, tersedia menu halal.
Mengkonsumsi produk halal, ia melanjutkan, adalah hak dasar setiap muslim. Ada dimensi kesehatan dan ekonomi di dalamnya. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, tanpa diminta, seharusnya negara hadir melindungi hak dasar warganya. Hal ini dilakukan supaya pengusaha sadar akan tanggung jawabnya dalam melindungi konsumen.

Konsep halal dapat dipandang dari dua perspektif yang pertama perspektif agama yaitu sebagai hukum makanan sehingga konsumen muslim mendapat hak untuk mengkonsumsi makanan sesuai keyakinannya. Ini membawa konsuekensi adanyaperlindungan konsumen. Yang kedua adalah perspektif industri. Bagi produsen pangan, konsep halal ini dapat ditangkap sebagai suatu peluang bisnis. Bagi industri pangan yang target konsumennyasebagian besar muslim, maka tentu saja dengan adanya jaminan kehalalan produk akan meningkatkan nilainya yang berupa intangible value.

Al-Quran surah Ar-Rad ayat 11 menjelaskan bahwa “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri“. Ayat diatas jelas menggambarkan kepada kita bahwa untuk beranjak menuju kebaikan diperlukan adanya kekuatan dan niat yang kuat bagi diri untuk menggapainya. Anggapan bahwa akan adanya banyak rintangan dalam pencapaian kebaikan tersebut harus untuk segera dihilangkan. Dalam kaitannya dengan ekonomi syariah, segala praktik ekonomi konvensional meskipun banyak didalamnya kemudahan dan kenikmatan dalam menggunakannya juga perlu disingkirkan mengingat praktik tersebut sangat bertentangan dengan sistem perekonomian Islam.

Kedua, ekonomi syariah harus dimasukkan dalam kurikulum pendidikan sebagai salah satu mata pelajaran ditingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas yang tujuannya memberikan pemahaman kepada setiap murid sejak dini tentang ekonomi syariah. Saat ini pengenalan ekonomi syariah masih terfokus pada tingkat perguruan tinggi. Yang mana jurusan ekonomi syariah banyak diminati oleh calon-calon akademisi yang ingin mengetahui ekonomi syariah lebih dalam lagi karena perkembangan dan prospek dunia kerja untuk ekonomi syariah sangat dibutuhkan, oleh karena itu, banyak universitas-universitas yang membuka jurusan ekonomi syariah, dengan berkembangnya ekonomi syariah sebagai salah satu jurusan ditingkat universitas hendaknya juga ekonomi syariah digalakkan menjadi kurikulum pada pelajaran.

Tentunya dengan menjadikan ekonomi syariah sebagai kurikulum di tingkat pendidikan dasar merupakan dukungan dan harapan untuk semakin memperbaiki diri, pendidikan bukan hanya proses transfer pengetahuan tetapi yang jauh lebih penting adalah mempraktekkan nilai-nilai ekonomi syariah dalam aktivitas hidup dan efektif diterapkan semenjak pendidikan dasar. Di Negara tetangga yaitu Malaysia, dimana pelajaran ekonomi syariah sudah diajarkan semenjak kelas 1 SMA sejak 20 tahun yang lalu, dan kurikulum dikembangkan sesuai dengan perkembangan ekonomi syariah. Penulis berharap pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan terkait ekonomi syariah dijadikan sebagai kurikulum dan tidak hanya menjadi wacana tanpa dibarengi dengan kerja nyata yang berdampak pada sosialisasi ekonomi syariah seluruh masyarakat khususnya siswa-siswa sejak dini.

Ketiga, mensosialisasikan ekonomi syariah dengan pelatihan kepada para muballigh terkait pentingnya ekonomi syariah untuk dikenalkan kepada masyarakat, dengan pelatihan kepada muballigh merupakan cara yang paling efektif dalam menjangkau segala lapisan masyarakat baik perkotaan maupun pedesaan. Permasalahan yang terjadi adalah kurangnya wadah dan informasi untuk menjangkau masyarakat pedesaan, tidak adanya akses media tentang ekonomi syariah, kurangnya sosialisasi dari pemerintah daerah, dan ceramah dimasjid-masjid masih terbatas mengenai ibadah.

Oleh karena itu,  para muballigh seharusnya diberikan pelatihan yang tujuannya sebagai salah satu alternatif yang sangat berpengaruh dalam mensosialisasikan dan mengembangkan ekonomi syariah dikalangan masyarakat pedesaan, dengan ceramah atau khutbah ekonomi syariah mampu memberikan pengetahuan baru kepada seluruh masyarakat terkhusus masyarakat pedesaan. Yang paling mendasar dalam mensosialisasikan ekonomi syariah kepada masyarakat dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa perbankan syari’ah sangat jauh berbeda dengan bank konvensional, dimana masyarakat menganggap bahwa perbankan syari’ah sama dengan perbankan konvensional, dimana system dalam perbankan syari’ah tidak adanya bunga yang dalam kajiannya bahwa bunga bank adalah riba dan dilarang dalam agama.

Terdapat 5  poin yang sudah dilakukan pemerintah Indonesia dalam membumikan ekonomi syariah antara lain, pertama, berhasilnya OJK dalam menyusun roadmap perbankan syariah, pasar modal syariah dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) dengan jangka waktu 4 tahun yakni 2015 hingga 2019. Hal ini merupakan hal yang perlu kita apresiasi kepada Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan membumikan ekonomi syariah secara strategis dan berkesinambungan untuk diimplementasikan di Indonesia.

Kedua, Dibentuknya Komite Nasional Keuangan Syariah pada tanggal 27 Juli 2017. Komite Nasional Keuangan Syariah atau disingkat dengan KNKS ini dibentuk mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2016 tentang Komite Nasional Keuangan Syariah. Komite ini dipimpin langsung oleh Presiden dan Wakil Presiden langsung dan beranggotakan 10 pimpinan dari unsur pemerintah dan otoritas terkait.

Ketiga, Munculnya gerakan-gerakan yang bersifat akademis dan non-akademis dalam rangka mendukung pengembangan ekonomi syariah di Indonesia seperti ISEFID, IAEI dll. Keempat, hadirnya acara seminar, simposium, forum riset, di Indonesia dengan mengangkat tema ekonomi syariah. Hal ini merupakan sebuah stimulus positif untuk meningkatkan edukasi ekonomi syariah di perguruan tinggi. Dan juga, hasil daripada riset-riset mahasiswa dan dosen bisa dijadikan referensi bagi Pemerintah dalam mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia.

Kelima, Terbuatnya undang-undang mengenai perbankan syariah Nomor 21 tahun 2008. Meskipun dalam pembentukan undang-undang ini terjadi tarik-ulur antar pemangku kepentingan di lembaga legislatif tetapi hal ini merupakan sebuah proses yang perlu dihargai karena dengan adanya regulasi yang jelas, perbankan syariah secara yuridis diakui eksistensinya. Lebih jauh, undang-undang ini juga mampu menjadi sarana edukasi untuk meningkatkan membumikan ekonomi syariah.

Selanjutnya, beberapa hal yang perlu ditambahkan kedepannya, pertama, perlu dibangunnya lembaga riset khusus untuk penelitian dan pengkajian terkait ekonomi syariah mengacu pada masterplan OJK. Lembaga ini bertujuan untuk menstimulasi dan mendorong penelitian dan pengkajian untuk melahirkan formulasi baru dan fatwa-fatwa fiqih kontemporer yang akan berkontribusi dalam meningkatkan edukasi nilai-nilai Islam dalam ekonomi sebagaimana Malaysia yang membangun INCEIF sebagai kampusnya dan ISRA sebagai lembaga risetnya.

Kedua, Optimalisasi Komite Nasional Keuangan Syariah sebagai lembaga intermediasi antara lembaga pemerintah dalam bidang ekonomi dan keuangan. Pendekatan kelembagaan ini tidak hanya bottom-up, tetapi juga top-down sebagaimana yang diterapkan oleh Malaysia dalam mengembangkan ekonomi syariahnya. Ketiga, Perlunya standardisasi kompetensi dan kurikulum bagi perguruan tinggi yang membuka jurusan ekonomi syariah atau sejenisnya. Dengan fakta di lapangan bahwa lulusan ekonomi syariah banyak yang belum sinkron dengan industri keuangan syariah perlu menjadi evaluasi bagi perguruan tinggi. Dengan itu, perlu adanya sinkronisasi antara industri keuangan syariah dan perguruan tinggi demi mencetak SDM yang profesional dan tepat guna

Keempat, Melakukan sosialisasi besar-besaran melalui media online dan offline. Sosialisasi ini perlu dilakukan secara kolaboratif antar pemangku kepentingan dan stakeholders. Sosialisasi juga perlu dilakukan secara terintegrasi dan berkesinambungan tidak hanya dalam sektor keuangan namun juga sektor riil. Bukan tidak mungkin, hal ini akan memberikan pengaruh yang massif terhadap perkembangan ekonomi syariah di Indonesia.

Menyadari bahwa meningkatkan edukasi dan membumikan ekonomi syariah agar masyarakat menjadi well-literate terhadap ekonomi syariah membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mencapainya. Tapi hal ini bukan berarti tidak bisa karena Islam adalah agama yang komprehensif dan juga universal. Dengan mengetahui latar belakang historis, terminologis, problematika, peran pemerintah, dan solusi yang disebutkan diatas maka semua kembali kepada 3 nilai-nilai Islam yang dapat menyatukan pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan membumikan ekonomi syariah yakni pemahaman mengenai Aqidah, Akhlaq, dan Syariah yang sesuai dengan Al-Quran dan Hadits. 3 hal ini merupakan pondasi dan rancang bangun ekonomi syariah.

Keyakinan bahwa ekonomi syariah adalah sistem yang komprehensif dan universal harus menjadi mindset kita. Seberat apapun tantangan yang ada seyogyanya menjadi pemacu pemerintah dan masyarakat untuk terus mengembangkan membumikan ekonomi syariah. Optimisme masyarakat serta peran pemerintah dalam hal ini bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi pusat ekonomi syariah dunia yang akan memberikan pengaruh besar bagi kehidupan secara lokal, nasional, dan internasional. Melalui hal ini diharapkan umat Islam mampu menjadi problem solver sebagai prakarsa kebajikan (amal shalih) untuk sama-sama berlomba dalam kebaikan (istibaq fi al khairat). Semoga Allah senantiasa memudahkan kita dalam membumikan ekonomi syariah di Indonesia, //GERAKAN MEMBUMIKAN EKONOMI SYARIAH//TANGGUNG JAWAB KITA SEMUA//.

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI)Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan Pengamat Ekonomi / Penulis Aktif Harian Waspada

 

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...