Analisis Politik Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA Debat Sang Pemimpin

Medan, StArtNews- “Debat ini adalah bagian dari rangkaian Pilkada”, kata Mulia Banurea, Ketua KPU Sumut, yang menandakan bahwa debat tersebut harus dilakukan, meskipun belum pernah diteliti kegiatan yang tendernya dimenangkan Kompas TV ini seperlu apa kegiatan bagi rakyat.

Seperti yang dikatakan Presiden Jokowi, “masalah itu di lapangan, bukan di debat”. Tapi debat tetaplah perlu untuk melihat bagaimana calon Kepala Daerah dapat memetakan persoalan dan solusi bagi daerah yang akan dipimpinnya.

Teramat banyak masalah yang diperdebatkan dan terlalu kompleks sisi yang sejatinya dianalisis. Namun izinkan dalam kesempatan ini saya akan menganalisis sisi tertentu dari dialog yang menjadi perhelatan KPU, lembaga pemikul amanah rakyat ini.

Ingin Mengangkat Martabat

Kedua calon Dubsu tampak ingin ‘membolo’ Sumatera Utara, namun dengan mentalitas yang berbeda. Djarot memulai dengan menempatkan Sumut sebagai daerah yang penuh kebobrokan, jual beli jabatan, permainan APBD. Pokoknya cenderung terlihat bahwa daerah ini penuh kebobrokan, makanya dia datang ‘sebagai penyelamat’.

Lain halnya dengan Edy Rahmayadi, serdadu yang terbiasa menjunjung harkat dan martabat kampungnya, walaupun  ‘berdarah-darah di hutan’ dalam mempertahankan kemerdekaan kampungnya. Sering rakyat tidak tahu apa yang dihadapinya di Medan perang, namun dia tidak boleh menceritakan derita pada rakyat. Sebab ini kampungku. Right or wrong it’s my country’. Itulah sebabnya ‘seakan darahnya mendidih saat daerahnya dipojokkan’.

Sistem sudah baik, orangya pun pilihan rakyat. Tapi seringkali iman tidak kuat, bahkan ada yang sering menggadaikan keimanannya, hingga kesalahan dan korupsi sering dilakukan. Tetapi mengambil harta negara itu  bukan tugas mereka. Itu kesalahan manusia. Maka, sebagai pemimpin, ini yang harus kita perbaiki.

Akseleratif

 Seorang pemimpin perlu memetakan modal daerah untuk bisa bangkit. Namun ini tak terakselerasi dalam debat. Soal-soal yang dipersiapkan ahli cenderung skematis. Melihat yang cetek-cetek saja. Hingga Djoss misalnya, bersiplipikasi, dengan merampingkan struktur maka kantong rakyat akan berisi.

Dua kali Edy Rahmayadi mencoba membukan mind set debat dengan menekankan bahwa negeri ini secara geografis dan SDA amat kaya, the best, kata dia. Pemerintahan harus menggunakan amunisi dan perbekalan yang ada untuk menggempur kebekuan daerah, menggali potensi yang ada, dan itulah tugas pemerintahan agar daerah ini dapat lebih lebih maju dan rakyatnya lebih sejahtera.

Anti Korupsi

Kedua pemimpin ini sama-sama menunjukkan sikap anti korupsi yang tidak perlu diragukan lagi. Djoss ingin membalik Sumut (semua urusan mesti dengan uang tunai) menjadi  Sumut (semua urusan mudah dan transparan).

Gagasan yang seolah revolusioner ini terkesan paradoks. Sebab statemen ini mengandaikan sikap Sumut yang tertutup. Namun berlawanan dengan pengakuannya sendiri bahwa salah satu ke’arifan lokal daerah ini adalah sikapnya yang terbuka.

Cara menghindarkan aparat dari korupsi adalah ‘jangan coba-coba ambil ‘ini’ sebab kalian akan diawasi. Bahkan aparat yang kurang mampu, sebaiknya akan dirampingkan, dinonjobkan?

Edy Rahmayadi, karena terbiasa di hutan. Tau betul mana ‘lurah’ mana gunung, mana tebing, dan mana lumpur di napa-napa daerah ini,  mengatakan:” bukan soal jumlah aparat. Ini 33 kabupaten. “Bukan seperti Jakarta yang yang hanya 3 kabupaten”.

Jadi, problema kampung perjuangan ini bukan karena penduduknya kebanyakan, dan bukan pula karena aparatnya melimpah ruah. Tapi kekayaannya yang belum digali, belum didayagunakan, dan aparatnya belum memiliki kemampuan, sebagaiman diharapkan. Maka yang mesti dilakukan adalah menggali dan mendayagunakan kekayaan daerah ini. Untuk itu aparatur harus ditingkatkan kemampuannya melalui peningkatan pengetahuan, pelatihan, dan sudah barang tentu, peningkatan keimanannya.

Penutup

Edy Rahmayadi menutup dengan closing statemen; ” Negeri kita amat kaya. Mari kita bersama menggali kekayaan dan meningkatkan kemampuan dan kapasitas kita. Pelayanan publik harus sampai ke bawah. Sebab dengan itu kita akan dapat meningkatkan martabat dan kesejahteraan kita.

Djoss menutup dengan kalimat: Kami datang untuk menjadikan Sumut sebagai semua urusan mudah dan transparan, dan dengan itu kita akan sejahtra. Pelayanan akan sampai ke bawah dan dekat dengan rakyat.

ReporterZein Nasution

Editor : Hanapi Lubis

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...