Batahan Kotanopan, Salah Satu Potret Desa Tertinggal di Madina

Kotanopan – Start News – Desa Batahan Kec. Kotanopan termasuk salah satu desa yang tertinggal di daerah Kab. Mandailing Natal. Betapa tidak, sudah puluhan bahkan ratusan tahun, kondisi infrastruktur jalan kedesa ini masih memprihatinkan.

Jalan sepanjang 9 Km  dari desa Pagar Gunung masih terbuat dari tanah. Enam bulan terakhir ini kondisinya semakin rusak. Jangankan untuk dilalui kenderaan roda dua, untuk jalan kaki saja susah melewatinya.

Batahan Kotanopan, Salah Satu Potret Desa Tertinggal di Madina

Untuk mencapai desa yang berjarak sekitar 21 Km dari pusat Kecamatan  ini harus berjalan kaki sejauh 9 km dari desa Pagar Gunung dengan kondisi jalan tanah liat dan tanjakan. Bukan itu saja, kalau lagi hujan jalan kedesa ini sama sekali tidak bisa di lewati di sebabkan licin dan becek. Kondisi jalan tidak ubahnya seperti kubangan kerbau dan di badan jalan berbentuk parit.

Padahal, kalau dilihat keberadaan desa ini  termasuk salah satu desa tertua di daerah Kecamatan Kotanopan. Namun ironis sekali, jalan dan kondisi ekonomi warganya sangat jauh terpuruk.  Dari 75 KK yang tinggal di daerah ini, tarap ekonominnya jauh di bawah rata-rata. Setiap hari, aktivitas yang bisa dilakukan wargahanya bertani, namun sangat disayangkan hasil pertaniannya tidak bisa di jual kepasaran disebabkan kondisi prasarana jalan yang sangat buruk. Kalaupun bisa, mereka harus rela membayar ongkos hasil alamnya sebesar Rp. 5000/kg agar sampai di desa Pagar Gunung.

Buruknya infrastruktur jalan juga menyebabkan warga jarang keluar dari desa. Sebab, mobil angkutan tidak ada sama sekali yang masuk kemari, kalau pun ada ongkosnya mencapai Rp. 50.000 ribu. Untuk mencapai kecamatan, warga terpaksa berjalan kaki selama 4-5 jam lebih. Dalam kondisi ini, mereka tidak mungkin membawa  anak-anaknya berjalan sejauh 9 km, akibatnya anak-anak mereka tertinggal dari pendidikan dan informasi.

Kepala Desa Batahan, Samuel , 38,  di dampingi tokoh masyarakat Ramlan Batubara yang di jumpai  mengakui kalau tarap ekonomi warganya jauh di bawah rata-rata, begitu juga dengan pendidikannya jauh tertinggal.

Samuel menambahkan, bahwa benar tarap ekonomi warga desa termasuk miskin di karenakan mereka tidak bisa menjual hasil alamnya keluar daerah. Faktor infrasturktur jalan salah satu penyebabnya, bayangkan saja kalau kita membawa hasil alam untuk mencapai desa Pagar Gunung warga harus mengeluarkan biaya untuk ongkos Rp. 3000/kg. Berapa lagi nanti untung yang mereka dapatkan dari hasil penjualan ini.

Di katakannya, parahnya kondisi jalan ini menyebabkan harga bahan pokok dan barang lainnya jauh melambung tinggi. Serba susah, kita menjual di sini murah, sedangkan membeli bahan pokok untuk keperluan sehari-hari kepada pedagang  yang ada di sini sangat mahal mengingat pedagangpun mengeluarkan biaya yang mahal untuk transportasi agar barangnya sampai ke Batahan ini.

Terkait jalan menuju desa, dua tahun terakhir memang sudah ada pelebaran, tapi dinilai masih kurang karena panjangnya hanya sekitar 2 Km, selebihnya swadaya masyarakat dan dana desa. Terus terang saja, 5 tahun lalu jalan kedesa ini masih setapak, namun alhamdulillah belakangan ini ada dana desa kita peruntukkan untuk memperlebar jalan ini. Tapi ini belum cukup,  masih perlu pelebaran, pengerasan dan pengaspalan.  Lihat saja kondisinya masih tanah liat dan kalau hujan sangat becek, licin dan tidak bisa di lewati.

Kontributor : Lokot H. Lubis

Admin : MJS

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...