Beginilah Jadinya kalo Gak menghormati Tuan tanah Dayak

MUSIK & INFORMASI PAGI – Kasus kerusuhan bernuansa etnis di Sampit menambah panjang daftar kisah perseteruan antara etnis Dayak dan Madura. Sebelumnya, dua etnis ini juga saling bertikai di Sanggau Ledo, Sambas Kalimantan Barat, dan meluas hingga Kotamadya Pontianak, di pergantian tahun 1996-1997. Ribuan rumah hancur, dan ratusan jiwa melayang, sebagian besar dari etnis Madura.

Kasus kerusuhan bernuansa etnis di Sampit menambah panjang daftar kisah perseteruan antara etnis Dayak dan Madura. Sebelumnya, dua etnis ini juga saling bertikai di Sanggau Ledo, Sambas Kalimantan Barat, dan meluas hingga Kotamadya Pontianak, di pergantian tahun 1996-1997. Ribuan rumah hancur, dan ratusan jiwa melayang, sebagian besar dari etnis Madura.

Kasus kerusuhan bernuansa etnis di Sampit menambah panjang daftar kisah perseteruan antara etnis Dayak dan Madura. Sebelumnya, dua etnis ini juga saling bertikai di Sanggau Ledo, Sambas Kalimantan Barat, dan meluas hingga Kotamadya Pontianak, di pergantian tahun 1996-1997. Ribuan rumah hancur, dan ratusan jiwa melayang, sebagian besar dari etnis Madura.
Pertengahan Maret 1999, Tragedi Sambas kembali berulang. Kala itu bukan antar etnis Madura-Dayak, tetapi antara Madura dengan Melayu. Ribuan rumah hangus terbakar, dan ratusan orang meninggal.

Tapi, konflik yang paling sering terjadi memang antara etnis Madura dan Dayak. Menurut Stephanus Djuweng, pendiri dan peneliti senior Institut Dayakologi, sebuah lembaga yang melakukan studi tentang masyarakat Dayak, konflik antara kedua etnis sudah dimulai sejak 1950. Kemudian terjadi lagi pada pada tahun 1968. Ini, sampai 1997, konflik terjadi setiap rata-rata 2,6 tahun.

Mengapa konflik itu selalu terjadi dan berulang? Salah satu penyebabnya adalah karena orang Dayak selama ini merasa terpinggirkan. Mereka adalah penduduk mayoritas di Kalimantan Barat, namun mereka tersisih secara ekonomi, budaya, maupun politik. Ketersisihan ini membuat orang Dayak tertekan dan frustasi.

Suku Madura menjadi sasaran konflik karena dianggap mewakili kaum pendatang yang menjarah kekayaan milik orang Dayak. Selain itu, etnis Madura juga dikenal agresif, baik dalam keseharian atau mencari nafkah. “Tapi, ini hanya salah satu sebab. Dalam konflik seperti ini, penyebabnya tidak tunggal tapi kompleks,” jelasnya kepada detikcom.

Pengamat tentang budaya dan masyarakat Dayak ini lalu menunjuk pola pendidikan yang mendewakan keseragaman, dan menabukan perbedaan selama 30 tahun masa orde baru. Ini menyebabkan orang tidak menerima segala yang berbeda dari dirinya. Termasuk, etnis dan budaya.

Kelompok Diskusi Kalbar di Singkawang, dalam kajiannya tak lama setelah Tragedi Sambas 1999, melihat masalah perbenturan budaya sebagai salah satu akar konflik antara etnis Madura dengan Dayak maupun Melayu.

Sebelum etnis Madura masuk Kalbar, sekitar 1902, budaya Melayu dan Dayak relatif menjadi panutan. Nilai-nilai budaya kelembutan, kesantunan, penghormatan yang tinggi terhadap hukum adat (juga hukum formal) dilatarbelakangi faktor topografis dan geografis, serta sentuhan peradaban besar seperti Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen.

Kemudian masuk masyarakat Madura yang berbudaya tegalan di lahan kering dan tandus. Budaya ini tidak ditransformasikan, tapi sebaliknya cenderung dipelihara, sehingga secara diametral bertentangan dan menimbulkan konflik etnis antara Dayak dengan Madura. Yaitu konflik antara lembaga budaya ngayau dan carok.

Itu yang terjadi di Kalbar, bagaimana di Kalteng? Prof Usop bahkan lebih terang-terangan melihat etnis Madura sebagai biang konflik. Masyarakat Dayak, katanya, sebenarnya menyukai hidup damai, bersifat terbuka, dan dapat menerima warga pendatang. Asal, mereka bisa beradaptasi dan menghargai budaya dan masyarakat setempat.

Xem thêm:

 

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...