Cewek Tapteng Itu Mencuri Dikomandoi Mama

indexSTART NEWS – Hotferida br Pardede (20), pelaku pencurian khusus kos-kosan di wilayah Psp akhirnya mengaku bahwa aksi pencurian yang dilakukannya sudah terorganisir.

Selasa (22/12), Hotferida mengaku, sebelum menjalankan aksinya, dia diorganisir oleh seorang wanita yang usianya diperkirakan sekitar 32 tahun. Wanita itu biasanya dipanggil ‘Mama atau Bunda’.

Setiap hendak beraksi, Hotferida bersama rekannya selalu di antar oleh wanita yang biasa mereka panggil ‘Mama atau Bunda’ itu.

“Saya ditempatkan khusus di rumah kos-kosan di Kota Psp,” kata wanita berkulit putih ini.
Hanya saja, ketika didesak identitas wanita yang disebut ‘Mama atau Bunda’ itu, perempuan asal Desa Sipan, Kecamatan Sarudik, Tapanuli Tengah (Tapteng) ini mendadak gugup. Dia kemudian berdalih tidak begitu kenal sama wanita tersebut. Dengan alasan, setiap kali mereka bertemu, wanita itu selalu pakai cadar.

“Saya tidak kenal namanya. Tetapi, dia selalu berpakaian rapi dan menggunakan Honda Scoopy warna cream. Saya kenal dia waktu pulang dari Jakarta dari Medan ke Balige. Dia meminta nomor handphoneku. Dari situ kami berhubungan. Saat saya sedang mencari pekerjaan, dia menawarkan pekerjaan. Katanya ada kerjaan di di Sidimpuan dan dia minta saya datang,” ujarnya berbelit-belit.

Setelah tiba di Kota Psp tepatnya Oktober lalu, ia kemudian menemui wanita yang dipanggil Mama itu di salah satu hotel di kota itu. Ternyata, di hotel itu, Hotferida dipertemukan dengan dua perempuan yang masih muda, yang katanya sebagai eksekutor pencurian di tempat berbeda.

“Mama mengajak saya ke hotel. Di sana saya bertemu dengan dua orang wanita muda. Tapi saya tidak ingat namanya. Ada yang kelahiran 1992 dan 1993. Logat bahasanya seperti orang Sidimpuan. Satu lagi memang orang Medan. Saya ditugaskan disini, satu ke Medan dan satu lagi ke Pahae, Taput,” bebernya saat berada di sel Satreskrim Polres Psp.
Setiap kali beraksi, Hotferida mengaku selalu diantar Mama ke tempat yang dihunjuk Mama setelah dibekali trik pendekatan.

“Carana begitulah. Pura-pura bertamu mau mencari kos-kosan. Pertama mengatakan salam dulu. Memperkenalkan diri. Kalau namaku saya bilang Ida dari Aceh. Setelah itu, ngobrol-ngobrol di dalam kos sampai cukup akrab dan bergolek-golek. Namanya anak kuliah, capek setelah pulang. Saya pura-pura mau ke kamar mandi atau pura-pura nelpon. Disitulah saya lihat-lihat apa yang bisa diambil. Begitu mereka lalai, saya langsung pamit pulang. Yang saya incar bukannya barang milik yang saya ajak ngobrol itu, tetapi milik temannya supaya tidak tahu,” bebernya.

Setelah berhasil menggasak barang korbannya dari kos-kosan, mereka kemudian memberi kabar pada Mama untuk menjemput.

“Kalau barang yang saya dapat sikit, dia tidak minta bagian. Sementara uang hasil pencurian itu, sebagian saya kasih sama kakak untuk melunasi hutang,” akunya berusaha menyembunyikan sesuatu di balik cerita itu.

Tentang Mama yang dimaksud gadis ini, ia mengaku baru beberapa kali bertemu tanpa mengetahui seluruh wajah Mama tersebut.

“Dia pakai penutup wajah. Kami ketemu selalu begitu. Tapi, kami pernah bertemu di Pandan, Tapteng, ada delapan cewek lain yang begini juga. Cuma, saya tidak sempat mengenalnya satu per satu,” ungkapnya.

Untuk diketahui, Gadis spesialis maling kos-kosan asal Tapanuli Tengah ini ditangkap warga usai membongkar kosan di Jalan Sutan M Arif, Kota Padangsidimpuan.
Terkuaknya serangkaian aksi Hotperida bermula ketika ia baru saja membongkar kosan yang ditempati Eva Susanti di Jalan Sutan M Arif. Saat itu Eva yang berstatus mahasiswi di Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) ini baru saja pulang, Senin (21/12) siang. Begitu berada di depan kosan, Eva kaget. Saat itu ia berpapasan dengan Hotperida yang baru saja keluar.

Merasa tak mengenal pelaku, Eva pun cepat-cepat masuk dan melihat ruangan kosnya sudah berantakan. Ia semakin curiga dan memeriksa barang-barang miliknya satu persatu. Saat itulah diketahui satu unit Hp Blackberry miliknya sudah tak berada di lokasi.

Selanjutnya Eva berlari mengejar Hotperida yang bergegas meninggalkan lokasi. Takut kalah cepat dengan pelaku, Eva sempat berteriak maling. Beberapa warga membantunya mengejar. Tak lama mengejar, Hotperida pun didapati terpojok di Gang Perahu, tepatnya di depan Warung Kopi Ayu, jaraknya 20 meter dari kosan yang ditempatinya.

Selanjutya ia pun diamankan dan diinterogasi warga. Ternyata sebelumnya, Hotperida juga disebut-sebut warga beraksi di kosan milik Indri yang tak begitu jauh dari kosan Eva. Namun di kosan Indri itu, Hotperida tak mendapatkan apa-apa.

“Tadinya memang dari sini. Tapi memang tidak ada barang yang hilang bang. Hanya berantakan saja,” ucap Indri menjelaskan bahwa pelaku sebelumnya membongkar kosannya.
Sementara pemilik warung, Ayu, mengatakan bahwa pelaku sempat lari dan dikejar warga hingga dapat di warungnya.

“Memang di sini tadi ditangkap orang, selanjutnya diserahkan ke kantor polisi oleh warga,” ucap perempuan itu.

Sementara Hotperida yang diwawancarai di kantor polisi, mengaku sebagai anak pertama dari dua bersaudara yang tinggal di Desa Sipan, Kecamatan Sarudik, Tapanuli Tengah. Wanita yang mengaku lulusan dari sekolah Tri Ratna Sibolga ini juga mengaku sudah berulangkali beraksi di kos-kosan milik mahasiswi di Kota Padangsidimpuan (Psp) dalam waktu yang berbeda.

Yang lebih mengejutkan adalah melihat caranya beraksi. Sesuai pengakuannya, ia kerap menyamar sebagai mahasiswi yang hendak bertamu ke kosan temannya.

Untuk lebih meyakinkan, ia pun kerap berpakaian layaknya anak kuliahan dan memakai kerudung, serta mengucapkan salam kepada orang-orang yang berada di sekitar kosan targetnya. Yang lebih mengejutkan, ia tidak menetap di Padangsidimpuan, melainkan pulang pergi dari Sibolga menuju Psp. “PP (pulang pergi, red)-nya aku ke sini bang. Memang sendirinya aku.”
Menurut Hotperida, sejauh ini ia sudah tiga kali beraksi di Kota Psp.
“Yang pertama di kawasan HKBP (Gereja Kota), kemudian di sekitar Jalan Merdeka dan kosan yang dua ini (Indri serta Eva, red),” ucapnya parau sembari merundukkan wajah saat diperiksa di ruang Satreskrim Polres Psp.

Saat aksi pertama, kata gadis berkulit putih ini, ia berhasil menggasak handphone merk Oppo dan kalung emas.

“Pertama di HKBP pada bulan November bang. Mulainya jam 9 pagi,” akunya sembari menerangkan bahwa pada aksi kedua ia berhasil mencuri uang senilai Rp150 ribu dan tas berisi make-up dari kosan di Jalan Merdeka.

Selanjutnya kemarin pagi, ia mendatangi rumah kos (milik Indri) di Jalan Sutan M Arif, tepatnya tak jauh dari gerbang UMTS itu. Ternyata dari kosan itu tak ada barang berharga bisa diambil. Kemudian ia pun berpindah ke kos milik Eva yang berada di samping UMTS. Di situ Eva Susanti mengetahui Hp Blackberry-nya dicuri. Pelaku pun dikejar hingga tersudut di Gang Perahu, tepatnya di Warung Kopi Ayu.

Masih dari Hotferida br Pardede, gadis yang mengaku baru pulang merantau dari Cikarang ini sengaja mengenakan kerudung dan membawa tas untuk memuluskan aksinya.

“Saya melakukan itu karena berhutang sama kakak Ratna br Situmeang sebesar Rp4 juta. Uangnya waktu itu dibawa kabur sama calo. Katanya untuk mengurus passport ke Malaysia,” terang wanita yang juga mengaku sebagai anak dari salah satu staf di kantor Kecamatan Sarudik ini.Kasat Reskrim Polres Psp AKP DB Diriono Sihotang keapda New Tapanuli mengatakan, pelaku yang telah banyak melakukan aksi pencurian itu akan disangkakan dengan pasal 363 KUHPidana.

“Karena masih banyak kasusnya dan masih terus diselidiki di man asana ia beraksi. Ini akan diproses di tempat ini tanpa harus memanggil orangtuanya,” tandasnya.

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...