Curhat Yudhoyono

Pojok Redaksi- NEGERI ini inflasi pemimpin yang bukan negarawan, lebih banyak pemimpin yang doyan memakai pencitraan untuk menuai simpati publik. Jauh lebih buruk lagi ialah mencitrakan diri melalui victim game seakan-akan ia menjadi korban dalam sebuah pertarungan politik.

Pertarungan politik kian keras untuk membangun koalisi pengusung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Ada yang terakomodasi dan ada pula yang terpental.

Partai Demokrat terpental dari koalisi pendukung Joko Widodo. Padahal, partai yang didirikan Susilo Bambang Yudhoyono itu sudah setahun belakangan ini menjalin komunikasi dengan Jokowi untuk menjajaki kebersamaan dalam pemerintahan.

Yudhoyono menumpahkan curahan hati alias curhat dalam konperensi pers, Rabu (25/7). Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menjadi sosok yang ditekankan Yudhoyono soal halangan berkoalisi dengan Jokowi.

Presiden Ke-6 RI itu menyebut hubungannya dengan Presiden Ke-5 RI masih belum pulih. Tidak berhenti di situ, Yudhoyono pun membawa-bawa Tuhan dalam hubungan mereka yang disebutnya masih ada jarak itu. “Tuhan Yang Mahakuasa belum menakdirkan hubungan kami kembali normal.”

Harus tegas dikatakan, Jokowi didukung enam partai politik yang mempunyai kursi di DPR. Karena itu, Megawati bukanlah satu-satunya penentu boleh-tidaknya partai politik lain untuk ikut bergabung. Karena itu, tidaklah berlebihan jika dikatakan penyebutan Megawati sebagai faktor halangan koalisi hanyalah perasaan, bukan fakta sesungguhnya.

Fakta sesungguhnya ialah koalisi pendukung Jokowi sangat solid dan berkedudukan setara. Semua keputusan diambil secara musyawarah seperti soal penentuan cawapres menjadi hak prerogatif Jokowi.

Membeberkan hubungan pribadi yang kurang harmonis di ruang publik tentu bukanlah ciri pemimpin yang bijak. Elok nian bila mantan presiden memberikan keteladanan politik. Perbedaan pilihan politik tidak mesti meniadakan hubungan pribadi. Jika itu yang terjadi, mereka bukanlah pemimpin berjiwa besar.

Sejarah menyediakan cukup banyak contoh pemimpin berjiwa besar. Bung Karno dan Bung Hatta, misalnya, berpisah di panggung kekuasaan, tetapi tidak dalam hubungan pribadi. Contoh lain, karena politik, Bung Karno yang presiden bahkan memenjarakan Mohamad Roem, yang Masyumi. Namun, keduanya tidak kehilangan rasa hormat sesama anak manusia.

Terus terang, pengakuan Yudhoyono soal hubungannya yang kurang harmonis dengan Megawati menimbulkan ragam interpretasi. Salah satunya ialah pengakuan itu hanya bertujuan meraih simpatik elektoral sebab keduanya sempat bersalaman hangat saat menghadiri peringatan kemerdekaan di Istana Negara pada tahun lalu. Salam hangat mereka saat itu dianggap sebagai simbol untuk mengakhiri praktik ketidakdewasaan politik di antara elite.

Terlepas dari apa pun motivasi Yudhoyono, kita juga harus mengatakan tak baik bila PDIP bereaksi berlebihan. Reaksi berlebihan, misalnya, menyebut kegagalan koalisi karena Yudyohono menyodorkan anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono, sebagai pendamping Jokowi. Elok nian bila PDIP memaafkan curhat Yudhoyono, anggap saja dia tidak tahu apa yang dikatakannya.

Hubungan yang kurang harmonis di antara pemimpin itu bisa berimbas kepada pengikut mereka. Permusuhan di antara mereka tidak baik bagi pembelajaran politik. Persatuan dan kesatuan bangsa yang selalu dipidatokan mereka tidak lagi memiliki makna. Hanya pemimpin kerdil yang lain kata lain pula lakunya. Pemimpin yang negarawan tentu saja menanggalkan topeng pencitraan.

Sumber : mediaindonesia.com

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...