Ditempati 6 Anak Yatim, Rumah Ini Tak Layak Huni

3START NEWS – Miris. Di tengah terpuruknya perekonomian masyarakat, lembaga wakil rakyat justru sibuk memperjuangkan anggaran pengamanan dan Hari Ulang Tahun DPRD. Sementara, rumah tak layak huni luput dari pandangan mereka.

Salah satu di antara rumah tak layak huni yang menghiasi sudut-sudut Kota Salak itu adalah milik Ahmad Amin. Kakek kelahiran 3 April 1945 itu tinggal bersama istri dan keenam cucunya yang sudah yatim di rumah berukuran 6 x 6 meter itu.

Kesehariannya, pria berusia 71 tahun ini tengah sibuk dengan barang-barang bekas makanan atau minuman maupun kaleng yang masih dapat dijual ke tempat pengumpul (Parbotot, red).
Dulu, kakek ini ini bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu dinas pada masa pemerintahan Tapanuli Selatan.

Kemiskinan yang menderanya terlihat dari gubuk yang dibangunnya sejak puluhan tahun silam, di atas tanah miliknya berukuran 6×6 meter di Kampung Selamat, Kelurahan Wek I, Kecamatan Padangsidimpuan Utara.

“Dulu tidak ada rumah di daerah sini. Dari jalan ini dulunya memang tanahku juga. Hanya saya dan ada beberapa orang Tionghoa itulah temanku di kampung ini,” beber Ahmad Amin kepada Metro Tabagsel, Kamis (17/12).

Ditemui di rumahnya, Ahmad Amin duduk di kursi tua di dalam ruangan rumah yang menyatu dengan kamar mandi serta dapur, tempat memasak.

Dia tidak tinggal sendirian. Di rumah berdinding papan yang mulai lapuk dimakan usia itu, ia ditemani istrinya, Khadijah beserta enam orang cucu yang telah menjadi yatim.

“Oh, di sini (rumah, red) ada istri dan keenam cucuku. Kalau pekerjaan saya masih mocok-mocok (memulung). Cukup-cukup buat makan lah,” ujarnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar dan diiringi batuk-batuk.

Sebenarnya, Ahmad Amin memiliki tujuh orang anak. Akan tetapi anaknya yang masih hidup tinggal dua orang. Itu pun tinggal di luar kota Psp. Dari wajahnya yang legam, terlihat ia mengharapkan bantuan untuk memenuhi kelayakan hidup cucunya. “Anak-anak itu cucuku. Mereka sudah yatim. Ibu mereka ada, tapi tidak di sini,” ujarnya seraya menghunjuk seorang gadis kecil yang mulai beranjak remaja tengah memasak sesuatu di dalam rumah reot itu.

Dari dalam rumah, tidak ada tempat tidur maupun kamar pemisah. Yang ada hanya lapisan semen sebagai lantai rumahnya yang sekaligus menjadi dapur. Namun, pekerjaan yang hanya memulung dan bertani, keduanya tetap berjuang memberikan pendidikan kepada keenam cucu mereka.

Rumah reot yang juga dilewati pohon jambu air itu, menunjukkan ketidaklayakan dan jauh dari sebutan sejahtera.

“Saya sebenarnya tidak terlalu mengharapkan bantuan. Dulu, rumah ini sudah pernah dicek pekerja entah dari mana. Tapi tidak ada sampai sekarang,” sebutnya sembari tertawa ringan.

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...