Fahrizal Ependi Nasution: Tidak Benar Empat Desa di Panyabungan Utara Dianaktirikan

Panyabungan, StArtNews- Fahrizal Ependi Nasution, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara bantah 4 Desa di Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal dianaktirikan dalam hal pembangunan. Hal ini dikatakannya pada Redaksi StArtNews Jumat 20/04.

Dikatakannya, masalah pembangunan infrastruktur di 4 desa di wilayah Panyabungan Utara yakni desa Sopo Sorik, Torbanuaraja, desa Bulu Mario serta Desa Tomuan selalu ada pengalokasian anggaran untuk pembangunan Infrasteuktur. Namun Fahrizal Efendi Nasution mengakui bahwa masyarakat lebih dominan menggunakan Perahu Rakit sebagai alat transportasi untuk menyeberangi Sungai Batang Gadis menuju Ibu Kota Kecamatan.

Kondisi ini bukan tidak dipikirkan pemerintah untuk membangun sebuah jembatan gantuang atau Jembatan Permanen. Namun masalahnya kata Anggota DPRD Propinsi dari Paratai Hanura  itu ada di Sungai Batang Gadis yang sifatnya labil dan berpindah pindah.

Fakta hari ini jalan di wilayah itu sudah terancam putus dan pengalokasian anggaran pembangunan jalan sering dapat perhatian pemerintah bahkan pembangunan rambin sampai dua tahun anggaran pernah dialokasikan namun tetap gagal akibat banjir  pada saat pelaksanaan pembangunan.” tegasnya.

Lalu kemudian jika dilakukan pelurusan aliran sungai papar Fahrizal Ependi Nasution, terkendala di masalahnya pembebasan lahan dimana masyarakatnya tidak mau menyerahkan lahannya. Pembangunan infrastruktur lain temasuk jalan sering mendapat alokasi pembangunan yang bersumber dari APBD, contoh pada tahun anggaran 2012 kembali dilakukan pengerasan jalan  dan 2013 dilanjutkan dengan pengaspalan Lapen.

Seperti diberitakan StArtNews sebelumnya bahwa Ratusan Pelajar dan Masyarakat dari empat desa di seberang Sungai Batang Gadis yang masuk wilayah Kecamatan Panyabungan Utara masih menggunakan Perahu Rakit sebagai alat transportasi warga untuk menyeberangi sungai. Demikian halnya dengan kondisi jalan yang nyaris amblas karena terkikis air Sungai Batang Gadis.

Kondisi ini dikeluhkan warga khususnya pelajar karena mereka kerap terlambat ke sekolah akibat kondisi jalan yang tidak memadai dan ketiadaan Jembatan peyeberangan untuk menuju sekolah. Apabila air Sungai Batang Gadis membesar, Perahu Rakit yang biasa menjadi alat transportasi penyeberangan tidak akan beroperasi yang akhirnya para pelajar di wilayah tersebut kerap tidak masuk sekolah.

Reporter : Tim Redaksi StArtNews

Editor : Hanapi Lubis

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...