HET LPG Berbeda di Tiap Kecamatan

03-12-2014_toptap_004START NEWS – TAPTENG – Berlin Dolok Saribu, Kadisperindag Tapteng, membantah kalau harga LPG 3 Kg di wilayah kerjanya, mahal, seperti yang disampaikan warga. Bahkan, Berlin mengaku heran dengan pernyataan warga tersebut, karena menurut hasil survei mereka, setiap pangkalan mengaku menjual sesuai dengan HET yang sudah ditetapkan.

Keterangan tersebut disampaikan Berlin melalui telepon selularnya, Senin (4/1). Katanya, pihaknya sudah sering melakukan survei harga di setiap pangkalan dan tidak menemukan adanya harga yang bervariasi.

“Kalau kita tanya pangkalan, katanya gak ada. Karena, kuota kita saja berlebih, mana mungkin bisa dijual mahal,” kata Berlin.

Kemudian mengenai penetapan HET, diakuinya memang sudah ada. Bahkan dijelaskannya, untuk setiap kecamatan berbeda-beda, tidak sama antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya. “Berbeda-beda setiap kecamatan, mana mungkin sama,” tuturnya.

Namun, ketika ditanya berapa HET yang sudah ditetapkan untuk masing-masing kecamatan dan masa berlakunya terhitung mulai kapan, Berlin malah mengaku tidak tahu. “Tunggu saya cek dulu, gak ingat saya, ya,” ketusnya.

Bukan itu saja, Berlin juga tak bisa menjelaskan bagaimana sistem pengawasan yang mereka terapkan terhadap pangkalan untuk mengontrol HET yang ada. Seperti di Kota Sibolga, HET dikontrol dengan pemasangan plang harga di setiap pangkalan. “Tunggu saya lihat dulu ya,” tukasnya.

Meski demikian, Berlin meminta wartawan untuk membeberkan nama-nama pangkalan yang menjual LPG 3 Kg di atas HET yang sudah ada. Menurutnya, agar pihaknya bisa melakukan survei dan penindakan terhadap pangkalan nakal tersebut. “Nanti kita akan lakukan survei lagi. Kalau bisa dikasih tahu di mana-mana saja itu yang menjual mahal, biar bisa kita kasih teguran,” pungkasnya.

Menanggapi itu, Sahat (37) warga Aek Tolang Pandan, mengaku sangat menyayangkan pernyataan Kepala Disperindag Tapteng tersebut. Pasalnya, selaku instansi yang bertanggung jawab terhadap pendistribusian bahan bakar bersubsidi tersebut, Disperindag harus mempunyai data yang akurat, sebagai bukti, benar sudah melaksanakan tupoksinya sebagai pengawas.

“Kok malah minta data, berarti selama ini mereka (Disperindag) benar tidak pernah survei lapangan,” ketus Sahat.

Karena, lanjut disampaikannya, variasi harga LPG 3 Kg untuk wilayah Tapteng bukan rahasia umum lagi. Bahkan, sudah merata di seluruh wilayah Tapteng. “Jangan ditanya ke pangkalannya, ya tentu mereka tidak akan mengaku. Tanya sama warga langsung, biar jelas tahu, berapa warga beli dari pangkalan. Karena, ini sudah merata di seluruh Tapteng. Hampir di seluruh tempat menjual di atas Rp20 ribu, silahkan dicek kebenarannya,” pungkasnya.

Sebelumnya, informasi yang dihimpun dari sumber yang layak dipercaya, yang pernah menjadi staf di Disperindag Tapteng beberapa tahun lalu mengatakan, HET LPG 3 Kg untuk Tapteng sudah ditetapkan sejak 2013. “HET sudah ada, kalau gak salah tahun 2013 yang lalu, Rp16.500 per tabung,” katanya meminta namanya agar tidak dikorankan, Kamis (31/12).

Anehnya, hingga kini, harga bahan bakar yang disubsidi pemerintah tersebut tidak sesuai dengan HET-nya, masih tetap mahal di pasaran, bahkan mencapai harga Rp25 ribu per tabung. Tak sedikit warga yang kecewa atas sikap Disperindag Tapteng, yang tidak melakukan pengawasan terhadap kebutuhan masyarakat kecil tersebut.

Seperti penuturan salah seorang warga, Ridwan Simatupang (32) warga Kelurahan Aek Tolang, Kecamatan Pandan yang menyebut kalau harga beli mereka di kedai sekitar tempat tinggalnya masih Rp20 ribu per tabung. “Masih Rp20 ribu, belum ada perubahan,” sebut Ridwan.

Bahkan Sahat sendiri juga mengaku di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, harga beli mereka terhadap bahan bakar bersubsidi tersebut malah lebih mahal, hingga Rp23 ribu per tabung. “Kalau di sini Rp23 ribu,” akunya.

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...