Itak Poul-poul Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Mandailing oleh BPNB

Panyabungan, StArtNews- Askolani Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Mandailing Natal, Sumatera Utara, Baru saja dapat kabar dari Balai Pelestarian Nilai Budaya, UPT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa Itak Poul-Poul ditetapkan sebagai warisan budaya Mandailing Natal. Penetapan ini yang ketiga setelah Gordang Sambilan dan Toge Panyabungan dan Bulan yang lalu pihaknya juga mengusulkan Sitogol, dan masih dalam proses.

Askolani mengakui, dengan ditetapkannya 3 warisan Budaya Mandailing ini menjadi Warisan Budaya Mandailing, tentu masih banyak warisan budaya yang harus diperjuangkan, baik di bidang arsitektur, seni (musik, rupa, relief, pahat, tari, sastra), kuliner, busana, dan lain-lain. Dan semua butuh proses pengumpulan data dan sidang-sidang penetapan di kementerian dan UNESCO. Repotnya, karena ada beberapa entitas itu juga ada di etnis sub-Tapanuli lain. Dan kita selalu meneguhkan bahwa Mandailing adalah etnis yang utuh, bukan subordinasi dari etnis manapun.

Dikatakannya, Bagian Kebudayaan memang memiliki mitra kerja di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui UPT mereka yang ada di Sumatera, mulai dari Balai Pelestarian Nilai Budaya, Balai Arkeologi, Balai Bahasa, dan Balai Cagar Budaya. Syukurnya, sejak lima tahun terakhir, kita selalu punya hubungan personal yang intens dengan mereka untuk penggalian entitas kearifan lokal yang ada di kawasan ini.

Dijelaskan Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Mandailing Natal bahwa Itak Poul-poul sendiri terbuat dari bahan tepung beras, gula, kelapa, dan sedikit garam. Tepung beras pada masa lalu ditumbuk sendiri pada sebuah lesung. Dikerjakan anak-anak gadis dengan dua atau tiga alu yang ditumbuk bergantian pada sebuah lesung bersama. Pekerjaan menumbuhk beras tersebut disebut dengan “manduda itak”.

Tepung tersebut kemudian dicampur dengan gula, sedikit garam, dan santan perekatnya, diaduk sedemikian rupa hingga bisa dibentuk. Lalu dibentuk dengan kepalan tangan dengan tanda jari yang melekat pada kepalannya. Karena berbentuk kepalan tangan, maka itak tersebut sering disebut “Itak Poul-poul” atau “itak kepalan tangan”. Bulatan yang sudah terbentuk menyerupai kepalan tangan tersebut kemudian dikukus. Lalu disajikan dengan tiga potong dalam setiap piring ceper.

Selain itu kata Askolani , ada juga yang disebut dengan “Itak Mata”, karena memang tidak dimasak, tapi disuguhkan begitu saja kepada yang hadir dalam prosesi adat tertentu. Itak memang melekat makna budaya Mandailing Natal. Biasanya disajikan bersamaan dengan proses “markobar boru” atau untuk menjenguk anak yang baru lahir. Dibentuk seperti kepalan tangan merupakan penanda bahwa gadis mereka yang dulu pergi sekarang masih tetap ada, ditandai dengan bekas kepalan tangannya pada makanan itu.

Redaksi StArtNews

Editor : Hanapi Lubis

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...