Mempergesit Gerak Mesin Infrastrukt

POJOK REDAKSI – MEWUJUDKAN Indonesiasentris, cita-cita besar rezim pemerintahan saat ini, bukan perkara mudah. Pola pembangunan wilayah dan ekonomi bangsa ini sudah amat lama terkonsentrasi hanya di Jakarta dan Pulau Jawa. Sejak Orde Baru, niat memeratakan pembangunan hanya riuh di panggung, menjadi sekadar retorika yang minim realisasi. Pemerintahan Presiden Joko Widodo sudah sejak awal menegaskan bakal menghapus pola-pola pembangunan yang Jawasentris atau Jakartasentris. Dengan menggelorakan pengembangan infrastruktur kawasan timur Indonesia dan kawasan perbatasan, ekonomi diharapkan dapat menyebar ke semua wilayah.

Sekali lagi, itu tidak gampang, tetapi harus diwujudkan. Jalan ke arah itu sudah terlihat walaupun belum amat benderang. Kemarin, misalnya, enam proyek yang merupakan bagian dari proyek infrastruktur strategis nasional dan proyek prioritas ditandatangani di hadapan Presiden.

Dari keenam proyek tersebut tampak sekali spirit Indonesiasentris betul-betul sedang diaplikasikan. Tiga di antara proyek-proyek itu berlokasi di luar Jawa, yakni Tol Manado-Bitung terbentang sepanjang 39 km, Tol Balikpapan-Samarinda sepanjang 99 km, dan Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung sepanjang 185 km.

Sebelumnya, Presiden juga berkeliling dari Papua hingga Aceh untuk meresmikan sejumlah proyek infrastruktur jalan, pelabuhan, bandara, bendungan, dan pembangkit listrik. Semuanya ada 225 proyek strategis nasional yang akan dikejar dalam tiga tahun ke depan.

Pembangunan itu, seperti dikatakan berkali-kali oleh Presiden, ialah untuk meminimalisasi disparitas pembangunan antara kawasan barat dan timur sekaligus meningkatkan konektivitas antarwilayah. Selanjutnya juga akan berdampak mendorong pertumbuhan, membuka lapangan kerja, dan memiliki efek ganda di wilayah sekitar. Namun, harus diingat, ini baru awal. Ketika komitmen sudah kuat, yang ditunggu berikutnya ialah realisasi dari komitmen-komitmen itu. Yang namanya pembangunan, apalagi infrastruktur, tentu tidak boleh berhenti hanya di seremonial peresmian.

“Saya tidak ingin berhenti di tanda tangan saja, di lapangan pengerjaan pasti saya ikuti. Kita semuanya berharap rakyat bisa merasakan manfaatnya secara langsung,” kata Presiden. Untuk merampungkan proyek-proyek prioritas itu sesuai target, sekadar mengandalkan semangat besar dari Presiden jelas tidak cukup. Yang sudah pasti di depan mata, proyek-proyek infrastruktur berskala besar tentu butuh dana besar, yang memerlukan sumber pembiayaan lain karena APBN saja jelas tak memadai.

Selain itu, banyak tantangan lain yang juga bakal menghadang ambisi besar pemerintah itu. Karena itu, tidak bisa tidak, membangun infrastruktur berbasis pengembangan wilayah harus dijadikan komitmen bersama yang diwujudkan lewat dukungan, sinergi, dan kerja sama luar biasa dari segala komponen bangsa. Pemerintah daerah, BUMN, dan swasta mesti terlibat aktif menyokong gerak pemerintah pusat. Toh skema untuk kerja sama-kerja sama seperti itu sudah disiapkan.
Pencapaian riil dari proyek-proyek strategis itu akan sangat bergantung pada bagaimana semua mesin bekerja. Pusat mesti memimpin mesin-mesin itu bekerja lebih gesit dan cepat daripada yang sudah-sudah.

– See more at: http://www.mediaindonesia.com/editorial/read/765/mempergesit-gerak-mesin-infrastruktur/2016-06-10#sthash.aWxh97qh.dpuf

                                                                                                                                                                                      Admin Website : Musly Joss Start

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...