Menindaklanjuti Hasil Audit Petral

AUDIT forensik terhadap Pertamina Energy Trading Limited atau Petral menguatkan dugaan selama ini bahwa ada kongkalikong di dalamnya. Permufakatan jahat itu telah diungkap dan kini giliran penegak hukum memastikan mereka yang bersalah tak lepas dari jerat hukum. Sudah bertahun-tahun Petral ibarat borok yang dipelihara.

Ia sumber penyakit, tetapi terus dibiarkan eksis oleh mereka yang punya kuasa. Di satu sisi ia menjadi penyebab mahalnya harga minyak yang memberatkan rakyat, tetapi di sisi lain menjadi sumber penghasilan para pihak tersebut. Tak cuma jutaan atau miliaran rupiah, Petral ialah lumbung uang triliunan rupiah untuk mereka-mereka yang berkuasa itu.

Tak percuma pemerintah menunjuk Kordhmentha, sebuah perusahaan auditor asal Australia, untuk mengaudit forensik Petral yang sudah dibubarkan pada Mei 2015. Audit yang dilakukan empat bulan sejak 1 Juli 2015 dengan periode audit mulai 1 Januari 2012 sampai 31 Mei 2015 tersebut mencuatkan tiga temuan. Pertama, ada pengaturan volume minyak mentah dan BBM oleh Petral kepada perusahaan minyak nasional.

Kedua, ada kebocoran informasi rahasia dalam proses pengadaan seperti patokan harga dan volume minyak impor di Petral. Temuan ketiga, ada pihak eksternal di luar manajemen Pertamina dan Petral Group yang membuat harga minyak ke Indonesia menjadi lebih tinggi. Saking hebatnya pihak eksternal, mereka bisa memengaruhi pengembangan bisnis, mitra, dan negosiasi.

Kita patut menyambut positif sikap pemerintah kali ini yang tampaknya tak main-main terhadap pengelolaan tata niaga minyak. Ada keseriusan, ada pula keberanian untuk melakukan bersih-bersih terhadap kekotoran di Petral yang sudah berkarat karena sangat lama dibiarkan. Audit forensik terhadap Petral merupakan bentuk keseriusan dan keberanian itu.

Namun, ia tak cukup hanya berhenti di situ. Harus dipastikan bahwa hasil audit forensik tersebut bukan sekadar temuan tanpa makna, melainkan mesti ditindaklanjuti dengan langkah nyata. Harus dipastikan bahwa hasil audit forensik bukanlah akhir, melainkan awal dari reformasi tata kelola minyak dan gas yang sekian lama karut-marut.

Hasil audit forensik yang tak menyebutkan siapa saja yang mengeruk untung dari kongkalikong Petral tersebut ialah pertanyaan besar yang harus dijawab seterang-terangnya. Itulah tugas penegak hukum. Mereka harus mampu menjawab pertanyaan pelik yang muncul dari hasil audit forensik, yakni siapa yang selama ini bermain di Petral.

Juga, siapa pihak eksternal yang begitu berkuasa hingga Pertamina, Petral, dan pemerintah masa lalu seakan bertekuk lutut menuruti segala kemauannya. Kita menyambut baik pihak Pertamina yang berjanji untuk terbuka terhadap tindak lanjut dari hasil audit forensik tersebut. Kita juga mengapresiasi tekad mereka untuk melakukan penelitian internal karena seperti dikatakan Dirut Pertamina Dwi Sutjipto, ada orang-orang internal Pertamina yang kurang kooperatif selama masa audit.

Ada kesan ada sesuatu yang hendak mereka sembunyikan untuk menjaga kebusukan tetap tersembunyi di ruang gelap. Kita juga menyambut positif kesiapan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk mengusut tuntas patgulipat di Petral. Kita pun mendesak hasil audit forensik itu segera diserahkan ke KPK sehingga KPK bisa selekasnya menyelisik, menyelidik, dan menyidik.

Meski hasil audit forensik tak membeberkan jumlah kerugian negara akibat permainan kotor di Petral, kita berani memastikan nilainya berukuran mega. Karena itu, tidak ada secuil pun alasan untuk menempatkan hasil audit tersebut sebagai dokumen semata. Ia harus menjadi pintu masuk untuk membongkar habis praktik culas itu dan menyeret para pelakunya ke balik penjara.

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...