Pakkat Masih Jajanan Andalan Warga Jelang Berbuka Puasa

Mandailing Natal, StArtNews – Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah bagi banyak orang, seperti  bagi para pedagang makanan dan minuman di jalan lintas timur Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal.

Setiap datangnya bulan Ramadan, jalan ini termasuk menjadi pasar sentra dadakan bagi pedagang makanan dan minuman untuk keperluan berbuka puasa.

Sebagian warga Panyabungan juga terpantau ramai menegunjugi tempat ini, mereka memilih dan membeli makanan yang akan disantap saat berbuka puasa nanti.

Di tempat ini, warga sangat mudah untuk menemukan menu untuk berbuka, mulai dari kolak, es cendol, sop buah dan berbagai jenis makanan lainnya.

“Tiap bulan ramadhan memang selalu ke sini untuk cari makanan berbuka puasa,” kata Nur Ainun Warga Jalan Durian 7 Kelurahan Sipolu-Sipolu Kecamatan Panyabungan.

Namun di tempat ini ada satu makanan yang menarik, makanan ini adalah salah satu makanan yang sudah tidak terlihat asing lagi dan biasanya makanan ini muncul di setiap bulan Ramadhan namanya adalah Pakkat sepanjang 1 meter lebih berwana hitam pekat.

Pakkat yang berasal dari pucuk rotan ini dari tahun ke tahun masih menjadi makanan idaman bagi warga Mandailing di saat berbuka puasa.

Amri salah satu pedagang mengaku setiap bulan Ramadhan dia berjualan ditempat ini dan ada yang berbeda terkait penjulan pakkat pada tahun ini.

“Ditahun sebelumnya pakkat biasa terjual samapi 500 batang dan di tahun sekarang ini sangat beda jauh batang pakkat hanya terjual 200 batang pakkat,” katanya Senin (13/05/19).

Biasanya para pembeli pakkat ini dijadikan sebagai santapan saat berbuka puasa, batang pakkat  yang sudah dipotong-potong itu dicampur cabai dengan irisan bawang dan di campur sedikit parutan kelapa.

“Dulu batang pakkat di jual sekitar tiga ribuan namun dengan alasan kondisi sekarang ini pakkat dijual ada Rp.10 ribu 2 batang pakkat dan ada juga Rp.15 ribu itu pun tergantung besar kecilnya pakkat ,” tambahnya.

Amri juga memgakui, Pakkat yang berasal dari pucuk rotan muda ini terlebih dulu dibakar sebelum dijual ke para pembeli sampai kelihatan hitam untuk menghasilkan biji pakkat berwarna putih.

“Biasanya proses pematangannya memakan waktu sekitar 2 jam setengah dan ada juga yang lebih karena batang pakkat terpacu dengan warna Kulitnya yang harus kelihatan menghitam (gosong) biar hasilnya bagus dan agar enak di makan,” katanya.

Reporter : Hasmar Lubis

Editor : Hanapi Lubis


Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...