Paska Teror Paris, Pengungsi Suriah di Eropa Merasa Terancam

8MUSIK & INFOMASI PAGI – Di tengah laporan bahwa salah satu penyerang dalam aksi teror Paris adalah pengungsi Suriah, pemimpin sayap kanan Perancis Marine Le Pen telah menyerukan penghentian segera penerimaan para pencari suaka.

Namun Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker, telah memperingatkan masyarakat dan pemimpin Eropa yang menentang namun bingung membedakan pengungsi dan teroris, meminta mereka untuk tidak bereaksi secara berlebihan.

Dan sebagaimana dilansir dari laman Independent, Senin 16 November 2015, seorang pengungsi Suriah, Ghaled mengatakan, ia berharap empati untuk ratusan jumlah korban tewas Paris dapat diterjemahkan ke empati untuk ratusan ribu orang yang tewas di negara asalnya.

Mengunjungi Kedutaan Besar Prancis di Berlin untuk memberikan penghormatan pada korban tragedi Paris, Ghaled mengatakan ia takut ketidakpercayaan pada orang-orang Arab di seluruh Eropa kini beralih menjadi kebencian.

“Apa yang terjadi pada mereka (di Paris) terjadi setiap hari di Suriah, 100 kali per hari selama lima tahun, jadi kami tahu apa artinya,” kata pemuda berusia 22 tahun itu dikutip dari laman Independent.

Ghaled menegaskan bahwa mereka yang menyerang Paris adalah penjahat, bukan pengungsi, bukan pencari suaka. “Mereka yang mengorganisir serangan ini adalah mereka yang karenanya pengungsi melarikan diri, bukan sebaliknya,” katanya.

Ismail Snussi, imam masjid dari Luce, kota kecil di pinggiran Chartes, Perancis, tempat mayoritas komunitas Muslim bermukim, mengatakan kepada The Independent bahwa ia takut pada apa yang bakal terjadi kedepannya.

Osmar Ismail Mostefai, penembak yang pertama kali diidentifikasi oleh polisi pasca serangan, dilaporkan menghadiri masjid di Luce sampai hingga dua tahun lalu sebelum ia menghilang.

“Apa yang dia lakukan bukan bagian dari Islam,” kata Snussi. “Agama kami yang sebenarnya adalah tentang perdamaian dan ko-eksistensi, tapi sekarang saya takut untuk apa yang terjadi kedepannya. Kami khawatir tentang tindakan keras, dari negara, polisi, dan pers. Kami mungkin menjadi fokus kemarahan rakyat,” kata Mostefai.

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, lebih dari 200.000 warga Suriah dilaporkan telah tewas sejak dimulainya perang sipil di negara itu pada 2011.

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...