Peran Ekonomi Syariah dalam Perdagangan global

Oleh : Sunarji Harahap,  M.M.

Peran Ekonomi Syariah dalam perdagangan global

Pojok Redaksi- Amerika Serikat (AS) telah mengalami berbagai krisis keuangan. Krisis terakhir terjadi pada 2008 yang menyebabkan resesi besar-besaran dan jutaan lapangan kerja menghilang. Dampak tersebut pun juga dirasakan di berbagai negara di dunia. Butuh bertahun-tahun untuk kembali pulih, bahkan bagi AS sendiri. Kini, krisis tersebut seakan-akan terulang kembali. Banyak saham-saham yang menjadi ikon Wall Street hancur  berguguran. Efek dari krisis ekonomi AS telah merambah ke negara-negara di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia.

sistem ekonomi konvensional yang telah melahirkan makro ekonomi yang membawa ketidak seimbangan defisit, inflasi, tanggungan hutang, pengangguran, kemiskinan, kelaparan, monopoli dan memecah belah status masyarakat. Hasilnya terdapat jurang perbedaan yang amat dalam antara yang miskin dan kaya, yang membawa fenomena sosio-politik yang tidak stabil. Oleh karena itu, sistem ekonomi Islam yang berdasarkan Tauhid dilihat sebagai alternatif dalam menguruskan ekonomi negara. Hal ini adalah selaras dengan perkembangan sistem ekonomi Islam yang semakin nampak keunggulannya. Dalam era globalisasi atau orde baru sistem ekonomi Islam mempunyai peran yang besar supaya masalah-masalah ekonomi tersebut dapat diatasi. Oleh karena itu, beberapa strategi yang dapat mendukung peran, prospek dan perubahan sistem ekonomi konvensional kepada sistem ekonomi Islam.

Strategi yang mendukung peran ekonomi Islam dalam era globalisasi dilihat dari dua aspek, yaitu strategi primer dan strategi skunder. Strategi primer mengacu kepada perubahan-perubahan yang dilakukan dalam sistem ekonomi kepada sistem ekonomi Islam dan perubahan-perubahan tersebut membawa perubahan dalam semua bidang seperti politik, sosial, keselamatan dan sebagainya. Metode yang disarankan ialah SWOT strengths, weakness, opportunities and treats) yang dianggap sebagai strategi primer. Kekuatan (strengths) mengacu kepada penonjolan kerakteristik istimewa yang ada dalam ekonomi Islam berbanding dengan sistem ekonomi konvensional seperti persamaan peluang untuk memiliki kekayaan dan modal dari sumber-sumber ekonomi yang ada, persamaan kepentingan individu dan masyarakat, keadilan pembagian pendapatan dan kekayaan negara, pengharaman riba yang menindas golongan pengusaha oleh para pemilik modal yang kaya raya, penolakan unsur-unsur negatif dalam aktivitas ekonomi seperti konsumsi dan produksi. Sistem ekonomi Islam yang sesuai untuk semua keadaan, tempat dan masa sudah pasti diterima sebagai sistem ekonomi dunia yang sehat dan disinilah letak kelemahan sistem ekonomi konvensional yang sudah lapuk ketinggalan zaman. Sistem penciptaan pemikiran manusia ini dilihat mengutamakan negara maju dan melahirkan jurang yang begitu luas antara negara kaya dengan negara miskin dan hasilnya ketidakseimbangan dalam ekonomi dunia terjadi. Inilah kelemahan (weakness) hasil dari pelaksanaan sistem ekonomi konvensional di negara-negara dunia dewasa ini.

Strategi yang ketiga ialah peluang (opportunities) kepada sistem ekonomi Islam bagi menggantikan sistem ekonomi konvensional dalam era globalisasi. Negara-negara Islam yang menjadi pembangkit terhadap pertumbuhan sistem ekonomi Islam berperan utama untuk merebut peluang emas ini supaya sistem ini diterima oleh semua negara dunia. Peluang-peluang juga dikaitkan dengan pemilikan-pemilikan sumber produksi setiap negara seperti sumber daya alam, tenaga kerja, teknologi, ilmu pengetahuan, kestabilan dan sebagaiannya membuktikan sistem ekonomi Islam berpotensi besar untuk menjadi alternatif kepada sistem ekonomi yang sudah ada.

Strategi yang keempat ialah ancaman (threats) yang akan dihadapi dalam proses pelaksanaan sistem ekonomi Islam di negara-negara dunia. Oleh demikian, pihak-pihak berkenaan harus memperlihatkan keunggulan sistem ekonomi Islam berbanding dengan sistem ekonomi konvensional dari prinsip penghematan, menentang budaya berhutang, budaya persaingan, mengharamkan sistem riba, pembagian untung dan rugi dalam sistem perbankan dan keuangan Islam dan sebagaiannya. Apabila strategi ini berhasil maka sistem ekonomi Islam dapat diterima oleh negara-negara dunia dalam kehidupan perekonomian mereka terutama dalam era globalisasi.

 

Beberapa tantangan yang perlu diatasi untuk mencapai tujuan supaya ekonomi Islam dapat membawa perubahan sistem ekonomi dunia yang berdasarkan kepada prinsip-prinsip Syariah dalam era globalisasi. Meskipun ada pihak-pihak yang meragukan kemampuan ekonomi Islam menjadi alternatif dan sekaligus mengganti sistem ekonomi konvensional yang dipraktekan di kebanyakan negara, namun begitu keberhasilan melaksanakan prinsip-prinsip Syariah dalam amalan sistem perbankan dan keuangan di banyak negara termasuk negara-negara bukan Islam akan menjadi pencetus ke arah tersebut.

Ekonomi syariah yang memiliki orientasi terhadap kehidupan duniawi serta surgawi hadir sebagai alternatif dari  sistem ekonomi konvensional yang dianggap kurang kokoh dalam membentengi perekonomian dunia. Diharapkan sistem ekonomi islam dapat berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi suatu negara dan pembangunan bangsa, khususnya Indonesia.Kata ‘Ekonomi Konvensional’ mulai mencuat ketika ekonomi islam mulai mulai berkembang. Sebelumnya kata ‘Ekonomi Konvensional’ biasa kita sebut dengan kata ‘Ekonomi’ saja. Berikut adalah perbedaan yang mendasar antara ekonomi islam dengan ekonomi konvensional:1.Dalam ekonomi konvensional terdapat masalah kelangkaan (scarcity). Sedangkan dalam ekonomi islam tidak mengenal kelangkaan karena Allah membuat segala sesuatunya didunia ini dengan tepat ukuran (Q.S Qamar:49).2.Dalam ekonomi konvensional tidak ada elemen nilai dan norma sehingga sering terjadi konflik dan kecurangan saat pelaksanaannya. Berbanding terbalik dengan ekonomi islam yang menonjolkan sikap adil, jujur dan bertanggungjawab.3.Ekonomi konvensional berpijak pada materialisme dan sekulerisme. Sementara ekonomi islam berpijak pada Al-Quran, As-Sunnah serta kajian para ulama.4.Ekonomi islam menguntungkan semua pihak, termasuk masyarakat kecil. Sedangkan ekonomi konvensional hanya menguntungkan pihak tertentu saja.

Dalam era globalisasi ini, persaingan untuk menjadi salah satu penguasa ekonomi dunia sering dikaitkan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dalam bidang sains, kemajuan dalam teknologi informasi, penelitian, pertahanan, jaringan perdagangan internasional dan sebagaiannya. Umat Islam supaya menguasaidan melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan tersebut, sebagaimana terdapat pada Surat Az-Zumar : 9 , Artinya: (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Melalui berbagai pendekatan dalam pelaksanaan sistem ekonomi Islam, sistem ini akan dapat memainkan peran yang penting dalam era globalisasi tanpa batasan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT pada surat Al-Jumu’ah : 10 , Artinya: apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Tantangan selanjutnya yang dihadapi oleh umat Islam termasuk di Indonesia kini ialah harus mengambil kesempatan dari era globalisasi. Dari aspek ekonomi, negara-negara tidak boleh menutup pintu dari pasar ekonomi dunia karena seandainya pasar komoditas sebuah negara itu terlalu kecil, ekonominya akan terhalang dan tidak berkembang. Namun demikian, negara-negara membeaskan diri dari cengkraman negara-negara maju blok Timur maupun blok Barat dan membangun hubungan antara negara-negara Islam tersebut dalam berbagai aspek termasuk ekonomi seperti membangun hubungan dengan negara-negara Islam yang tergabung dalam negara OIC dan sebagaianya.

Umat Islam di Indonesia haruss memanfaatkan era globalisasi ini dengan mencari peluang-peluang baru dalam pasar produk-produk negara seupaya dapat bersaing di pasar internasional. Selain itu, umat Islam juga harus membuat cara untuk menghilangkan paradigma supaya dapat menjadi umat manusia yang disegani dan dihormati oleh negara-negara lain melalui pencapaian dalam bidang ekonomi, sains dan teknologi serta penghayatan Syariah secara menyeluruh dalam diri dan semua aspek kehidupan dan bernegara.

Tantangan lain yang dilihat tidak sehat dan dapat menjadi tembok penghalang kebangkitan kembali sistem ekonomi Islam ialah dampak-dampak pengamalan sistem ekonomi konvensional. Diantaranya dampak tersebut ialah pembangunan ekonomi yang tidak seimbang, persaingan yang tidak sehat, inflasi, deflasi, beban hutang dari dalam dan luar negara serta monopoli. Masalah-masalah di atas akan digambarkan sebagai kelemahan-kelemahan sistem ekonomi Islam yang dilaksanakan oleh negara-negara berkenaan.

Sistem perekonomian Islam sukses membuktikan peranannya bertahan di tengah pusaran krisis, karena itu, perekonomian syariah dinilai tepat untuk mengatasi dampak pengaruh krisis global terkhusus bagi Indonesia yang saat ini rupiah melemah. Sistem ini tidak berjarak dari sistem riil sehingga terhindar dari aksi spekulan yang acap menimbulkan gejolak pada sistem keuangan dunia, sehingga perlu ada perhatian oleh semua pihak baik pemerintah lewat regulasinya, akademisi dan praktisi untuk duduk bersama memikirkan agar masyarakat yang selama ini belum terjangka dapat ikut merasakan manfaat perbankan syariah, krisis ekonomi dan kemiskinan yang diakibatkan oleh kapitalisme maka ekonomi syariah sebagai jawaban atas masalah perekonomian global.

*) Sunarji Harahap,  M.M.

Penulis Adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam universitas Islam Negeri Sumatera Utara / Pengamat Ekonomi Syariah/ Penulis Aktif Opini Harian Waspada

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...