*Peran Seorang Ayah Dalam Keluarga (Membesarkan Anak).*.

Ayah-mengasuh-bayi1INSPIRASI ANDA – Kesibukan mencari nafkah, kadang mengabaikan kedekatan ayah dengan anak.

Ini kisah nyata. Seorang ibu muda tidak berdaya menghadapi ketiga putranya. Si sulung berusia enam tahun, sedang kedua adiknya masih balita. Si ibu sangat kewalahan menghadapi si sulung yang tidak mau berbagi apapun kepada adiknya.

Meski sebentar saja, si sulung akan merebut mainan yang dipegang sang adik. Akibatnya, terjadi saling tarik dan dorong memperebutkan mainan. Rumah jadi berantakan dan tangisan sang adik yang kalah berebut jadi rutinitas keseharian.

Sang ibu ingin mengubah sikap buruk anak sulungnya. Ia memberi nasihat, bahkan hukuman. Tapi tak satupun cara yang ia terapkan berhasil. Keadaan diperparah dengan sikap egois ayah yang tidak mau membantu istrinya menangani si sulung.

Setelah diamati, ternyata akar dari masalah yang membelit keluarga itu sumbernya bukan dari si sulung. Sang anak adalah efek dari inti masalah. Sedang masalah sesungguhnya berasal dari sang ayah.

Lho, kok bisa? Bukankah sang ayah bekerja seharian di luar rumah, tentu nyaris tak pernah bertemu dengan keluarga?

Nah, di situlah pangkal dari semua masalah keluarga muda yang secara sepintas nampak bahagia karena semua kebutuhan materi sudah tercukupi. Lalu apa yang kurang?

Karena kesibukan sang ayah bekerja, bahkan terkesan workaholic, membuatnya jarang berkomunikasi dengan keluarga. Sang ayah terkesan menghindar dari segala hal yang ‘berbau’ rumah. Ia menghindar bila sang anak ingin bermain dengannya. Ia merasa asing dengan keluarganya sendiri karena ia punya dunia sendiri. Hand phone, komputer dan urusan kerjanya, itulah dunianya.

Anak adalah peniru ulung. Sikap egois sang ayah ternyata ditiru putra sulungnya. Setelah melalui penyadaran yang cukup melelahkan pada sang ayah, akhirnya ia mau mengubah sikap terhadap keluarganya. Dampaknya luar biasa. Perubahan sikap sang ayah juga berdampak kepada si sulung. Ternyata tidak terlalu lama sikap tidak mau berbagi si sulung sedikit demi sedikit mulai berkurang.

Figur Ayah

Penting, setiap anak merasakan sosok figur ayah hadir di hati mereka. Mereka rindu belaian tangan kekar seorang ayah, mereka rindu suara tegas ayah, mereka butuh figur seorang ayah untuk jadi contoh teladan dalam bersikap.

Bila semua itu tak terpenuhi, bisa dipahami bila di kemudian hari anak-anak ini menjadi pribadi yang bermasalah. Bila keadaan bertambah parah, baru kita tersadar ada yang salah dari anak kita. Fatalnya, sebagian orangtua jarang mau mengakui kesalahan itu, selalu anak yang disalahkan. Padahal, sesungguhnya orangtualah yang membuat mereka menjadi pribadi yang bermasalah.

Ayah Pendidik

Tidak bisa disangkal bahwa ayah adalah tulang punggung keluarga. Ia curahkan seluruh kemampuan dan waktunya untuk mencari nafkah agar tercukupi kebutuhan keluarganya. Sedang istri di rumah mengurus rumah, menjaga dan merawat serta mendidik putra-putrinya.

Tetapi belajar dari pengalaman keluarga di atas, ternyata peran ayah tidak berhenti hanya mencari nafkah. Kalau mau dirinci sebenarnya peran ayah sangat besar, bahkan sama dengan peran istri, khususnya dalam pendidikan keluarga. Jadi, suatu kesalahan bila beban pendidikan anak hanya diserahkan sepenuhnya kepada sang istri.

Mencari nafkah memang tugas berat bagi suami. Apalagi, jika suami juga berdakwah membina umat yang sepertinya tidak ada putusnya. Tanpa mengurangi tanggung jawab tersebut, mendidik keluarga harusnya juga dimasukan dalam agenda pembinaan. Jangan sampai sukses di luar, tapi istri dan anak terabaikan. Bukankah sebagai pemimpin keluarga dituntut untuk menyelematkan keluarga dari api neraka?

“Hai orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang di perintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim [66]: 6).

Dalam suatu riwayat dikisahkan, seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Dia bertanya, ”Hai Rasulullah, apakah hak-hak bagi anakku terhadap diriku?” Rasulullah SAW menjawab: ”Hendaklah engkau memberinya nama yang bagus, mendidiknya dengan baik, dan menempatkannya di tempat yang baik.”

Ayah Penuh Cinta

Betapa sering kita abaikan anak-anak yang dititipkan pada kita. Padahal, anak adalah amanah sekaligus anugerah terindah dari-Nya. Kita sering memposisikan anak sebagai milik kita sehingga kita bebas memperlakukan mereka.

Kata ‘mendidik dengan baik’ dari Hadits di atas mengandung pengertian perlakuan yang baik. Bukankah anak belajar dari perilaku kita? Bukankah anak akan belajar membenci bila kita sering mencelanya. Begitupun ia akan belajar mencintai bila kita mencintai dan menyayanginya.

Terkait dengan menyayangi anak, Rasulullah SAW berpesan: ”Barangsiapa mencium anaknya, Allah akan menuliskan untuknya satu kebajikan. Barangsiapa menggembirakan anaknya Allah akan menggembirakannya di hari kiamat kelak. Barangsiapa mengajarkan al-Qur’an kepada anaknya, maka kedua ibu bapaknya akan dipanggil untuk diberi dua pasang pakaian yang indah dan dari wajah mereka akan tampak bahwa mereka adalah penghuni surga.”

Siapa yang tidak tahu bahwa tugas kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah sangat berat. Jadwal hidupnya sangat padat untuk berdakwah dan mengurus umat, tapi beliau masih tetap memperhatikan keluarganya. Cucu beliau, Hasan dan Husein tidak takut menaiki punggungnya untuk bermain. Rasulullah SAW juga tidak canggung bermain dengan anak-anak. Beliau biasa mencium anak perempuannya ketika masyarakat Quraisy sangat membenci memiliki anak perempuan.

Begitupun ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW, sering memberi pesan kepada putranya Hasan sebagai wujud cinta dan perhatiannya pada putranya. Simaklah pesannya:

“…dan kudapati engkau sebagai bagian diriku, malahan kudapati engkau sebagai keseluruhan diriku, sehingga kalau ada sesuatu menimpamu, maka hal itu pun menimpa diriku. Seandainya kematian datang kepadamu, maka hal itu juga datang kepadaku. Apa saja yang engkau derita juga menjadikan diriku menderita.”

Jikalau ikatan perasaan yang amat agung itu merupakan perasaan para ayah yang dicurahkan kepada anaknya, maka dengan sendirinya akan timbul rasa hormat dan bakti anak terhadap sang ayah. Ikatan agung inilah yang akhirnya melahirkan generasi-generasi rabbani, generasi terbaik sepanjang masa yang siap menyongsong kehidupan penuh rahmah.

Tidak disangsikan lagi lahirnya pahlawan dan ulama sekaliber Hasan, Husein, ‘Abdullah bin Zubair, ‘Urwah bin Zubair, Anas bin Malik, ‘Abdullah bin Ja’far, Fadhl bin Abbas, dan ‘Abdullah bin Abbas adalah karena banyaknya manusia-manusia yang berkualitas pada saat itu. Sehingga zaman itu disebut sebagai khairul-qurun, sebaik-baik masa.

Kalau kita ingin anak kita seperti generasi khairul-qurun, maka peran ayah dalam pendidikan keluarga tidak bisa diabaikan. Wallahua’lam bish-shawab.

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...