Politik Bebas Aktif untuk Saudi-Iran

1POJOK REDAKSI – TIDAK salah jika politik dunia di era globalisasi ini diibaratkan sebagai jaring laba-laba besar. Dengan segala keterkaitannya, getaran di mana pun akan terasa hingga ke sudut terjauh jaring tersebut.

Itulah pula yang sedang terjadi dalam politik dunia pascaeksekusi Nimr al-Nimr. Tokoh terkemuka Syiah itu menjadi satu di antara 47 orang yang dieksekusi mati pemerintah Arab Saudi, akhir minggu lalu, dengan tuduhan terorisme.

Kematian Al-Nimr memperbesar getaran konflik antara Saudi dan Iran. Selama ini keduanya telah menjadi poros-poros utama dalam sentimen panjang sektarianisme di Timur Tengah. Konflik kedua negara dipicu pertikaian antara Sunni dan Syiah dengan bumbu utama politik.

Buntut dari eksekusi itu hampir pasti tidak hanya berhenti pada penyerangan gedung kedutaan atau pemutusan hubungan diplomatik di antara kedua negara. Eksekusi itu bagai bensin yang menjalarkan api ke negara-negara Arab lainnya.

Negara-negara di luar kawasan Timur Tengah juga sulit menjadi penonton semata. Besarnya pengaruh politik, ekonomi, dan ideologi jazirah tersebut membuat getaran bisa berubah menjadi guncangan dunia. Salah satunya ialah kemungkinan kembali meroketnya harga minyak dunia.

Berbagai dampak itu pula yang sepatutnya disadari Indonesia. Konflik Saudi-Iran juga menjadi ujian bagi kebesaran politik bebas aktif kita sebagai negara yang telah lama aktif dalam percaturan dunia.

Inilah saatnya menunjukkan wajah Indonesia yang tidak hanya terdepan dalam soal kerja sama dan kesepakatan internasional, tetapi juga dalam upaya perdamaian.

Oleh karena itu, kita mengapresiasi langkah Majelis Ulama Indonesia yang tanggap meminta pemerintah untuk mengambil peran dalam meredakan konflik. Pasalnya, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia dan memiliki hubungan baik dengan kedua belah pihak, kita mesti berperan aktif mendamaikan keduanya, atau sekurang-kurangnya tidak meluas ke negara-negara lain.

Tidak hanya itu, dalam berbagai era konflik yang terjadi di Timur Tengah, Indonesia dapat mempertahankan sikap netral. Hubungan Indonesia dengan Iran yang telah terjalin sejak akhir era 70-an semakin erat di era 90-an dan berlanjut sampai kini.

Kepercayaan Iran terhadap Indonesia juga diperlihatkan dengan dukungannya di berbagai forum internasional, termasuk untuk posisi ketua Gerakan Non-Blok. Sebaliknya pula dengan Arab Saudi, kerja sama telah terjalin kuat, baik dalam politik, ekonomi, maupun pendidikan.

Di sisi lain, pentingnya peran Indonesia dalam meredakan konflik itu juga demi stabilitas di dalam negeri. Kita tidak ingin konflik Saudi-Iran merembet ke Tanah Air dalam bentuk pertikaian antara penganut Sunni yang mayoritas dan Syiah yang minoritas.

Kita semua wajib mencegah itu. Kita semua harus mampu menahan diri. Kehadiran negara wajib hukumnya untuk mencegah konflik horizontal di dalam negeri sebagai akibat konflik Saudi-Iran.

Intinya, peran aktif dan netralitas Indonesia kita harapkan bisa meredakan konflik Saudi-Iran, juga mampu mencegah konflik itu menjalar ke dalam negeri.

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...