Sampuraga, Destinasi Wisata Sejarah yang Terabaikan

Panyabungan.StArtNews-Lokasinya tidak jauh dari permukiman padat Desa Sirambas Kecamatan Panyabungan Barat, beberapa kolam yang air nya panas tampak dipagari dengan bilah bambu. Kolam yang dipagari dikelilingi semak belukar, tempat ini disebut Sampuraga, tempat wisata sejarah, namun terabaikan.

Meski tak seelok tempat wisata lainnya di Kabupaten Mandailing Natal, tempat ini tetap mempunyai daya tarik untuk dikunjungi wisatawan lokal .

Akses menuju tempat wisata bersejarah ini pun cukup mudah karena bisa dilewati kendaraan roda empat, untuk masuk ke lokasi, anda tidak dipungut biaya apapun.

Perlu diketahui bahwa legenda Sampuraga berasal dari Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Legenda Sampuraga bercerita tentang anak laki-laki yang durhaka pada ibunya  setelah dia menjadi kaya raya.

Singkat cerita, Hati Sampuraga benar-benar sudah tertutup. Ia tega sekali mengingkari dan mengusir Ibu kandungnya sendiri saat pesta pernikahannya berlangsung. Semua undangan yang menyaksikan kejadian itu menjadi terharu. Namun, tak seorang pun yang berani menengahinya.

Perempuan tua yang malang itu kemudian diseret oleh dua orang sewaan Sampuraga untuk meninggalkan pesta itu. Dengan derai air mata, perempuan tua itu berdoa: “Ya, Tuhan! Jika benar pemuda itu adalah Sampuraga, berilah ia pelajaran! Ia telah mengingkari ibu kandungnya sendiri

Seketika itu juga, tiba-tiba langit diselimuti awan tebal dan hitam. Petir menyambar bersahut-sahutan. Tak lama kemudian, hujan deras pun turun diikuti suara guntur yang menggelegar seakan memecah gendang telinga. Seluruh penduduk yang hadir dalam pesta berlarian menyelamatkan diri, sementara ibu Sampuraga menghilang entah ke mana. Dalam waktu singkat, tempat penyelenggaraan pesta itu tenggelam seketika. Tak seorang pun penduduk yang selamat, termasuk Sampuraga dan istrinya.

Beberapa hari kemudian, tempat itu telah berubah menjadi kolam air yang sangat panas. Di sekitarnya terdapat beberapa batu kapur berukuran besar yang bentuknya menyerupai kerbau. Selain itu, juga terdapat dua unggukan tanah berpasir dan lumpur warna yang bentuknya menyerupai bahan makanan. Penduduk setempat menganggap bahwa semua itu adalah penjelmaan dari upacara pernikahan Sampuraga yang terkena kutukan. Oleh masyarakat setempat, tempat itu kemudian diberi nama “Kolam Sampuraga”. Hingga kini, tempat ini telah menjadi salah satu daerah pariwisata di daerah Mandailing yang ramai dikunjungi orang.

Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada tiga pesan moral yang dapat diambil sebagai pelajaran dari cerita di atas, yaitu: sifat rajin bekerja, sifat jujur dan sifat durhaka terhadap orang tua. Ketiga sifat tersebut tercermin pada sifat dan perilaku Sampuraga.

Demikian cerita sampuraga yang telah di ambil dari berbagai sumber, sehingga legenda yang mulai terlupkan oleh segenap warga demi untuk melihat betapa hebatnya ganjaran yang didapat seorang anak bila durhaka kepada orang tua. Cerita yang bisa menarik objek wisata ini seolah terabaikan oleh pemerintah demi untuk tetap menjaga alkisah sampuraga dengan berbagai peninggalan sejarah yang melegenda secara nasional.

Disekolah juga sudah jarang terdengar bagaimana legenda dahulu yang bisa menggugah hati para siswa agar sampuraga adalah anak durhaka yang tidak perlu ditiru sebab pendidikan akhlak sangt minim, sehingga adat istiadat Mandailing yang punya tutur sapa yang halus dan lembut kini mulai pudar akibat dari berbagai kebudayaan barat yang sudah menjadi bahan tontonan di berbagai media televisi.

Dari legenda juga adat istiadat yang bisa menuntun generasi penerus bangsa harus tetap dilestarikan dengan berbagai metode pendidikan sekolah untuk tidak mentiadakan adat dan budaya Mandailing yang kini sudah terkikis oleh zaman.

Pemerintah Daerah, DPRD Madina juga pemangku adat harus tetap menjaga anak sebagai penenerus untuk tetap mengetahui adat istiadat Mandailing yang mempunyai adab yang tinggi juga alkisah yang harus tetap menjadi bahan contoh untuk semua orang agar tetap menghargai orang tua sebagaimana legenda sampuraga.

Reporter : Zein Nasution

Editor : Hanapi Lubis

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...