Seminar Nasional : Dalihan Na Tolu Ditinjau dari Semua Agama dan Pancasila

Seminar Nasional Kebangsaan “Penerapan Dalihan Na Tolu Ditinjau dari Pandangan Semua Agama dan Pancasila Menuju Indonesia Gemilang, di Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru.

Panyabungan.StArtNews-Seminar Nasional Kebangsaan “Penerapan Dalihan Na Tolu Ditinjau dari Pandangan Semua Agama dan Pancasila Menuju Indonesia Gemilang, dilaksanakan di Ruang Perpustakaan Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Kecamatan Lembah Sorik Marapi, kab. Mandailing Natal, Kamis, (23/3)

Seminar ini digelar  Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) bekerja sama dengan Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru dan Pemerintah Daerah Kabupaten Mandailing Natal yang diselenggarakan selama 2 hari dari tanggal 23 – 24 Maret 2017.

Pelaksanaan Seminar Nasional Kebangsaan “Penerapan Dalihan Na Tolu Ditinjau dari Pandangan Semua Agama dan Pancasila Menuju Indonesia Gemilang” ini merupakan bagian dari rangkaian agenda kunjungan kerja Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo ke Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru.

Hadir dalam kesempatan itu Wakil Bupati Mandailing Natal,  Muhammad Ja’far Sukhairi Nasution, Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Mandailing Natal diwakili Kasubbag Tata Usaha Irfansyah Nasution dan Humas Kemenag Mandailing Natal Armen Rahmad Hasibuan dan pimpinan SKPD Madina.

Sedangkan peserta Seminar ini dikuti  150 orang  yang terdiri PNS, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Pimpinan Pondok Pesantren, Ormas Islam, OKP dan mahasiswa, dan menghadirkan tokoh-tokoh nasional sebagai nara sumber dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Negeri Medan, Tokoh Agama Islam dan Budha.

Ketua Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI), Brigjen H. Albiner Sitompul yang diwakili oleh Wakil Ketua JBMI Asril Pasaribu dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf dari Ketua JBMI tidak dapat hadir pada seminar ini, karena beliau pada saat ini berada di Bandara Udara Ferdinand Lumban Tobing untuk menyambut Presiden RI Joko Widodo dan Persiapan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Monumen Titik Nol masuknya Islam di Barus.

Wakil Bupati Mandailing Natal, Muhammad Ja’far Sukhairi Nasution  dalam sambutannya, menyampaikan bahwa filosofi adat Mandailing yang telah berratus tahun menjadi sebuah kearifan lokal masyarakat Mandailing  adalah Adat Dalihan Na Tolu. Dalihan Na Tolu yang berarti tungku yang berkaki tiga, merupakan filosofi kedua dalam kehidupan masyarakat Batak setelah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT.

Dalihan Na Tolu berkaki tiga maksudnya  agar terjadi sebuah keseimbangan yang tetap menjaga keharmonisan hubungan dalam tungku kekeluargaan. Tungku yang berkaki tiga tersebut adalah Kahanggi (dongan sabutuha), Anak boru / bere dan Mora (hula-hula).

Dikatakannya, ketiga istilah dalam Dalihan Na Tolu tersebut melekat pada diri setiap orang Mandailing. Setiap orang Mandailing pada suatu waktu akan berposisi sebagai salah satu diantara mora atau hula-hula, atau berposisi sebagai anak boru dan atau berposisi sebagai kahanggi atau dongan tubu.  Hal itu tergantung sebagai apa posisinya dalam adat pada waktu sebuah pesta adat dilaksanakan.

Jadi, perbedaan posisi dalam Dalihan Na Tolu tersebut menunjukkan adanya keberagaman dalam adat Mandailing, keberagaman dan kebhinnekaan itu harus sama sama kita jaga dan pelihara, dan tidak perlu kita pertentangkan,” ujar Wakil Bupati.

Ditambahkannya, mari kita jadikan perbedaan dan keanekaragaman tersebut sebagai rahmat dan saling melengkapi untuk menutupi kekurangan dan kelemahan diantara kita, serta kita jadikan sebgai modal dan kekuatan untuk membangun daerah, bangsa dan negara kita ini.

Sedangkan, Mudir Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, H. Musthafa Bakri Nasution dalam sambutannya yang dibacakan H. Zulkarnaen menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ketua Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) yang telah memilih Pesantren Musthafawiyah sebagai tempat pelaksanaan seminar ini.

Repoter : Lokot Husda

Editor : Hanapi Lubis

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...