Dituding Dampak Pandemi, Penjualan Hewan Kurban di Madina Merosot Tajam

Penjualan hewan kurban di Madina tahun ini merosot tajam akibat pandemi Covid-19. (FOTO: STARTNEWS/HASMAR LUBIS)

Panyabungan, StartNews Lagi-lagi pagebluk Covid-19 menjadi batu sandungan bagi para pedagang meraih untung. Hari Raya Idul Adha yang mereka harapkan menjadi momen meraih untung dari penjualan hewan kurban, tahun ini terpaksa mengecewakan.

Paling tidak, itulah yang dirasakan sejumlah pedagang hewan kurban di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Mereka mengeluhkan volume penjualan lembu yang jauh berkurang pada masa pagebluk Covid-19 saat ini.

Muhammad Rasoki, pedagang lembu di Saba Salalak, Desa Parbangunan, Kecematan Panyabungan, mengatakan biasanya sepekan menjelang Hari Raya Idul Adha, lembu kurban sudah habis terjual. Lain halnya tahun ini, warga yang membeli lembu untuk hewan kurban jauh berkurang.

“Di tahun ini masih banyak (lembu) tersisa. Padahal, sudah lima hari lagi untuk memasuki Hari Raya Idul Adha,” kata Rasoki, Kamis (15/7/2021).

Meski pandemi Covid-19 di Madina tidak separah di daerah lain, Rasoki mengaku dampaknya besar jika dilihat dari sisi ekonomi masyarakat yang kian terpuruk.

“Salah satu faktor ekonomi juga yang memang sulit saat ini, karena pandemi Covid-19,” ujarnya.

Sebelum masa pandemi, Rasoki berhasil menjual 80 hingga 100 ekor lembu. Hingga tahun 2020, kata dia, jumlah lembu yang terjual masih terbilang lumayan, mencapai 60 ekor lembu.

“Yang parah ini memang di tahun ini, baru bisa terjual 20 ekor. Padahal, hari raya kurban tinggal menghitung hari. Jadi, penjualannya menurun signifikan,” ungkapnya.

Tahun ini, Rasoki hanya menyediakan hewan kurban sebanyak 31 ekor lembu. Padahal, tahun 2020 dia masih berani menyediakan 61 ekor lembu.

Menurut dia, pembeli hewan kurbannya biasanya lebih banyak dari panitia kurban di desa. Namun, ada juga pembeli perseorangan.

“Kalau pesanan (panitia kurban) yang bertambah tahun ini dari daerah Kecamatan Tambangan. Mereka memesan sampai 9 ekor lembu,” katanya.

“Tapi, (pemesanan) yang menurun drastis dari Kayulaut. Biasanya mereka membeli lembu 8 ekor, tapi tahun ini cuma 3 ekor,” ucapnya.

Terkait harga, Rasoki menjual seekor lembu seharga Rp 14 juta hingga Rp 15 juta yang ukuran biasa. Yang paling mahal Rp 2I juta per ekor dengan berat sekitar 1 ton.

Dalam sebulan terakhir, dia mengungkapkan, petugas dari Dinas Pertanian Madina sudah dua kali mengecek kesehatan hewan kurban di peternakannya.

“Mereka (petugas) melihat kondisi hewan kurban apakah sehat atau tidak. Alhmudulillah, semuanya sehat ,” sebut Rasoki.

Reporter: Hasmar Lubis

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...

Hak Cipta @Redaksi