Mengidap Kanker Kista, Wanita Asal Siabu Ini Butuh Bantuan

Yusriani Nasution dan suaminya Harmei Lubis. (FOTO: STARTNEWS/HASMAR LUBIS)

Siabu, StArtNews – Yusriani Nasution (32) sudah bertahun-tahun menahan rasa sakit di perutnya. Meskipun sudah beberapa kali berobat ke dokter, tetapi penyakit yang diderita warga Desa Hutapuli, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) ini belum sembuh.

Saat disambangi wartawan Yusriani terlihat menahan sakit saat duduk terlalu lama. Untuk berjalan pun dia tampak kepayahan.

Yusriani bersama suami dan dua anaknya tinggal di rumah berukuran 3 x 3 meter di Desa Hutapuli, Kecamatan Siabu, Madina. Mereka menyewa rumah itu Rp 480 ribu per tahun.

“Rumah ini bukan milik saya. Ini rumah tetangga yang kami sewa,” kata Harmei kepada wartawan, Minggu (4/7/2021).

Keterbatasan ekonomi membuat Harmei dan istrinya mengiba. Mereka mengharapkan uluran tangan dermawan untuk membiayai pengobatan penyakitnya.

Yusriani kali pertama berobat ke dokter di Rumah Sakit Pirngadi Medan. Dokter mendiagnosis Yusriani mengidap penyakit Kista Folikel.

Kabar itu bagaikan petir di siang bolong bagi Yusriani. Harmei Lubis yang sehari-hari bekerja mengolah kebun karet milik orang lain kesulitan membiaya pengobatan istrinya. Belum lagi dia harus menafkahi kedua anaknya.

Itu sebabnya, Harmei Lubis juga memohon bantuan dari pemerintah dan dermawan. Dia mengatakan istrinya sudah lima tahun mengidap penyakit kista. Dia sudah empat kali membawa istrinya berobat ke rumah sakit.

“Yang pertama itu berobat ke Rumah Sakit Pirngadi Medan. Namun, penyakit itu tak kunjung sembuh. Ke rumah sakit di Sidimpuan juga pernah berobat, ke rumah sakit di Bukit Tingggi juga pernah berobat. Yang terakhir berobat ke rumah sakit di Padang pada tahun 2020,” katanya.

Menurut Harmei, istrinya terdaftar sebagai peserta BPJS. Selama perobatan istrinya, Harmei sudah mengeluarkan uang sekitar Rp 50 juta. “Tapi apa daya, kehendak Tuhan belum mengijinkan istri saya sembuh,” ujarnya berlinang air mata.

Dia juga mengaku pernah berobat ke rumah sakit di Padang. Dia bersama istrinya kekurangan uang untuk makan dan terpaksa membeli nasi bungkus seharga Rp 10.000 untuk dimakan berdua.

“Untuk biaya pengobatan istri saya, adik kandung saya juga sudah menjual sawah miliknnya. Sebagian hasil penjualan sawah itu digunakan untuk biaya pengobatan istri saya,” katanya.

Harmei mengaku kesulitan mencari biaya pengobatan istrinya. Sementara penyakit yang diderita istrinya semakin parah. “Kata dokter, penyakit yang diderita istri saya sudah masuk kategori tumor ganas,” katanya.

Reporter: Hasmar Lubis

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...

Hak Cipta @Redaksi