Parkir ‘Abu-abu’ di Sepanjang Jalan Willem Iskander Panyabungan

Sejumlah titik di Jalan Willem Iskander, Panyabungan, menjadi lokasi parkir di tepi jalan umum yang dipungut retribusi. (FOTO: STARTNEWS/IAN SIREGAR)

Panyabungan, StartNews – Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dari sektor retribusi parkir di tepi jalan umum masih berada di ranah abu-abu. Meski telah ada Perarutan Bupati (Perbup) Madina No. 16 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Retribusi Pelayanan Parkir di Terpi Jalan Umum, tetapi pelaksanaanya di lapangan tidak sesuai regulasi.

Buktinya, beberapa petugas parkir berseragam Dinas Perhubungan Madina mengutip retribusi parkir di tepi jalan umum tidak sesuai tarif yang ditetapkan dalam Perbup tersebut. Pasal 8 dalam Perbup Madina No. 16 Tahun 2012 disebutkan: struktur dan besarnya tarif retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum adalah: beca bermotor Rp 750, sepeda motor Rp 1.000, taxi, motor pribadi dan sejenisnya Rp 2.000, truk/pick up roda 4 Rp 2.000, dan truk roda 6 ke atas Rp 2.500.

Berdasarkan pantauan startnews di sepanjang Jalan Willem Iskander pada Kamis (15/7/2021), mulai dari depan Kantor Polsek Panyabungan hingga Pidoli, ada sejumlah titik yang dijakdikan lokasi parkir di tepi jalan umum. Di antaranya, di depan Warung Bakso Metal, di depan Indomaret, di depan Madina Square.

FOTO: STARTNEWS/IAN SIREGAR

Jika malam hari, pinggir jalan di depan Toko Bangunan Ivan Group dan di depan Lopo Mandailing Coffee juga menjadi lokasi parkir yang dipungut retribusi.

Seorang juruparkir di depan Warung Bakso Metal mengaku bersatus resmi sebagai petugas yang memungut retribusi parkir, karena dilengkapi kartu tanda anggota (KTA) dari Dinas Perhubungan Madina. “Kami resmi (petugas parkir) dan semua memiliki kartu tanda anggota,” katanya.

Menurut dia, para petugas memungut retribusi parkir di titik-titik parkir tersebut mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Selama kurun waktu itu, dia mengaku rata-rata memungut retribusi parkir sebesar Rp 80 ribu per hari.

Ironisnya, meski Perbup Madina No.16 Tahun 2012 telah mengatur besaran tarif parkir untuk setiap jenis kendaraan, tetapi para juruparkir itu tidak mematok tarif resmi kepada para pengendara.

“Kalua dikasih Rp 1.000 kita terima. Kalau dikasih Rp 2.000 juga kita terima. Mobil juga sama. Bahkan, kalau orang yang parkir (kendaraan) nggak kasih, nggak apa-apa, kita nggak paksa,” katanya.

Sebaliknya, para juruparkir ini juga tidak ditetapkan target setoran retribusi parkir per hari kepada Dishub Madina.

“Tidak ada target. Kalau dapat Rp 80 ribu, itu yang disetor. Kalau nggak sampai Rp 80 ribu, seberapa yang dapat, segitu aja yang disetor,“ ungkapnya.

Dia mengaku uang hasil retribusi parkir di sepanjang Jalan Willem Iskander disetorkan kepada dua koordinator lapangan (korlap). Sedangkan uang hasil retribusi parkir di Pasarbaru dan Pasarlama disetorkan kepada korlap yang berbeda.

Terkait honor yang mereka terima sebagai juruparkir, dia mengatakan besaran honornya tidak menentu, tetapi tergantung ramai-tidaknya kendaraan yang parkir.

“Tergantung ramainya pengunjung (kendaraan) yang datang. Kalau ramai  bisa dapat sampai Rp 120 ribu. Kalau lagi sepi, kadang cuma dapat Rp 80 ribu sampai Rp 90 ribu per hari. Itu sudah pendapatan bersih selain dari setoran,” ujarnya.

Reporter: Ian Siregar

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...

Hak Cipta @Redaksi