4 Kuliner Ramadan Khas Mandailing yang Bikin Perantau Pengen Pulang
Jelajahi 4 kuliner khas Mandailing yang hanya muncul saat Ramadan. Dari pahitnya Pusuk Otang hingga manisnya Toge Panyabungan, temukan rahasia rasa yang selalu dirindukan.
Panyabungan, StartNews – Begitu hilal dipastikan tegak di ufuk barat, suasana di pasar-pasar tradisional Mandailing Natal (Madina) hingga sudut-sudut kota Medan yang dihuni perantau suku Mandailing mendadak berubah. Bukan sekadar hiruk-pukuk biasa, melainkan aroma asap pembakaran dan legitnya santan yang memicu memori kolektif tentang rumah.
Bagi masyarakat Mandailing, Ramadan bukan hanya soal ibadah, tapi juga tentang kepulangan citarasa. Ada empat kuliner autentik yang seolah memiliki janji suci, yakni mereka hanya muncul atau setidaknya mencapai puncak popularitasnya saat azan magrib berkumandang di bulan suci.
Berikut ini empat primadona kuliner Mandailing yang paling dicari saat Ramadan.

Pusuk Otang (Pucuk Rotan Bakar)
Tidak ada yang lebih ikonik dari Pusuk Otang. Jika biasanya rotan dikenal sebagai bahan furnitur, di tangan orang Mandailing, pucuk rotan muda disulap menjadi hidangan pembuka yang magis.
Prosesnya unik. Rotan dibakar di atas bara api hingga kulit luarnya menghitam, lalu bagian dalamnya yang putih diambil. Rasanya? Ada sensasi pahit yang samar, tapi meninggalkan jejak manis (aftertaste) di tenggorokan.
Pusuk Otang dipercaya mampu meningkatkan nafsu makan setelah seharian berpuasa. Biasanya disantap sebagai lalapan dengan cocolan sambal tuk-tuk yang pedas getir.

Toge Panyabungan
Jangan terkecoh dengan namanya. Di Mandailing, toge bukanlah kecambah, melainkan minuman takjil yang meriah. Toge Panyabungan adalah simfoni rasa manis yang terdiri dari campuran lupis, cenil, tape ketan hitam, candil, dan siraman santan serta gula merah cair.
Keistimewaannya terletak pada tekstur yang beragam—kenyalnya lupis berpadu dengan lembutnya tape—menjadikannya penawar dahaga yang sempurna. Di bulan Ramadan, penjual Toge Panyabungan dadakan akan menjamur di pinggir jalan, menawarkan kesegaran yang sulit ditemukan di bulan-bulan lain.

Ikan Sale (Gulai Asam Pade)
Meskipun Ikan Sale (ikan yang diasapi) bisa ditemukan sepanjang tahun. Namun, saat Ramadan, permintaannya melonjak tajam. Ikan sale—biasanya ikan limbat atau baung—menjadi primadona untuk menu sahur maupun berbuka.
Aroma asapnya yang tajam memberikan karakter kuat pada kuah gulai yang merah membara. Bagi banyak perantau, mencium aroma Ikan Sale saat berbuka adalah obat penawar rindu paling ampuh terhadap suasana kampung halaman di Bumi Gordang Sambilan.

Kue Bongko (Si Lembut Hijau yang Manis)
Jika ada satu takjil yang paling melambangkan kelembutan hati orang Mandailing, itu adalah Kue Bongko. Dibungkus rapi dengan daun pisang, kue ini terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan santan dan perasan pandan alami hingga berwarna hijau pucat.
Keunikan Bongko terletak pada teksturnya yang “goyang” alias sangat lembut, berpadu dengan siraman air gula merah (gula aren) yang kental di dalamnya. Menikmati Bongko saat berbuka memberikan sensasi dingin dan nyaman di perut. Di luar bulan Ramadan, kue ini cukup sulit ditemukan karena proses pembuatannya yang membutuhkan ketelatenan tinggi.
Ramadan di tanah Mandailing bukan sekadar menahan lapar, melainkan merayakan warisan leluhur melalui lidah. Empat makanan ini menjadi pengikat silaturahmi, pengingat akar budaya, dan tentu saja, alasan mengapa Ramadan selalu terasa lebih berisi bagi mereka yang menggemari citarasa tradisional.
Reporter: Sir

Comments
This post currently has no comments.