menu Home chevron_right
Berita Madina

Konflik Keluarga Picu Dana BOS SMKS Mitra Mandiri Mandek, Ratusan Siswa Terancam Putus Sekolah

Redaksi | 14 Januari 2026

Panyabungan, StartNews – Konflik internal keluarga pendiri yayasan di SMKS Mitra Mandiri Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), berujung tragis bagi dunia pendidikan. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahap II Tahun Anggaran 2025 dipastikan gagal cair hingga melewati pergantian tahun dan akan dikembalikan ke kas negara sebagai Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA).

Mandeknya anggaran ini berdampak langsung pada operasional sekolah. Hingga Rabu (14/1/2026), gaji para guru selama enam bulan terakhir tidak terbayar. Kepala Sekolah SMKS Mitra Mandiri Fitri Rizqiyah Nasution menyatakan telah menyerah untuk mencairkan dana yang tersimpan di rekening sekolah sejak Agustus 2025.

“Kami sudah putuskan tidak akan mengambil uang itu lagi karena sudah lewat tahun anggaran. Para guru juga sudah pasrah dan merelakan gaji mereka yang tidak dibayar selama setengah tahun terakhir,” ungkap Fitri.

Kekisruhan ini bermula dari perselisihan antara anak-anak almarhum Muslim Nasution yang mengelola yayasan. Dana BOS tidak dapat ditarik karena bendahara lama, Syahrida Hafni, menolak menandatangani formulir penarikan setelah dirinya diberhentikan oleh Pembina Yayasan Pendidikan Haji Muslim Panyabungan (YPHMP) Yakhfazuddin Nasution pada 13 Agustus 2025.

Pihak Bank Sumut Cabang Panyabungan pun tetap membekukan rekening tersebut meskipun Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XI Sumut Dr. Tetti Mahrani Pulungan telah mengeluarkan surat pernyataan untuk memfasilitasi penarikan.

Di sisi lain, anggota keluarga lainnya yang dipimpin oleh Asrul Arifin Nasution, membentuk Yayasan Pendidikan Muslim Nasution Panyabungan (YPMNP) dan mengeklaim aset tanah serta bangunan sekolah. Bahkan, mereka telah melaporkan Fitri dan Yakhfazuddin ke pihak kepolisian.

“Bagi kami penyelesaiannya hanya dua, mereka keluar dari sekolah itu atau menunggu putusan hukum,” tegas Asrul.

Terkait gaji guru yang menunggak, Asrul menyatakan pihaknya tidak bertanggung jawab karena menganggap para guru bernaung di bawah yayasan yang berbeda.

Dampak paling memilukan dirasakan oleh seratusan siswa. Fitri mengaku khawatir tidak akan mampu lagi menjalankan aktivitas belajar-mengajar tanpa adanya dukungan biaya operasional. Bahkan, dia sudah menyarankan para siswa untuk mencari sekolah pindahan.

“Saya sudah sampaikan kepada anak-anak agar memilih tempat pindah, tapi mereka tidak mau. Banyak yang menangis dan ingin tetap sekolah di sini. Saya sedih melihat mereka,” tutur Fitri.

Hingga saat ini, pihak sekolah masih menunggu langkah selanjutnya dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara untuk menyelamatkan nasib pendidikan para siswa yang terancam putus sekolah akibat sengketa keluarga tersebut.

Reporter: Rls

Komentar Anda

komentar

Written by Redaksi

Comments

This post currently has no comments.

Leave a Reply


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses


  • Acara Saat Ini
  • Acara Akan Datang



  • play_circle_filled

    Streaming StArt 102.6 FM Panyabungan

play_arrow skip_previous skip_next volume_down
playlist_play