Saatnya Pisang Jadi ‘Emas’ di Madina
LANGKAH Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) merevitalisasi komoditas pisang bukan sekadar urusan tanam-menanam biasa. Ini perlawanan terhadap stagnasi ekonomi yang selama ini menjerat petani kita.
Keputusan bupati dan wakil bupati menggandeng pakar dari Universitas Medan Area (UMA) menjadi sinyal bahwa Madina tidak lagi mau mengandalkan keberuntungan alam, melainkan kekuatan ilmu pengetahuan.
Sudah terlalu lama petani kita dipaksa menyerah pada keadaan. Petani menanam tanpa standar, memanen tanpa kepastian harga, dan menjual tanpa nilai tambah. Konsep pengembangan komprehensif dari hulu ke hilir yang diusung Dinas Pertanian Madina boleh jadi jawaban yang paling logis.
Kita tidak butuh sekadar janji atau bagi-bagi bibit gratis yang kemudian layu sebelum berbuah. Kita butuh integrasi agroteknologi dan agroindustri yang nyata di lapangan.
Kepala Dinas Pertanian Madina Taufik Zulhandra Ritonga berani menegaskan bahwa program ini bukan sekadar wacana. Ini janji yang sangat mahal bagi publik. Integrasi multi-sektor yang dia tawarkan—mulai dari standarisasi pola tanam moderen hingga menciptakan produk turunan yang kompetitif— merupakan fondasi untuk menjadikan Madina sebagai pemain utama di pasar luas, bukan sekadar penonton di pinggir jalan.
Apalagi dengan adanya rencana menyulap lahan pertanian menjadi destinasi wisata edukasi. Ini terobosan cerdas yang menghapus stigma bahwa sektor pertanian itu membosankan dan miskin inovasi.
Jika dikelola dengan benar, pisang bukan lagi sekadar buah di meja makan, melainkan motor penggerak ekonomi kerakyatan yang mampu membangkitkan kebanggaan warga Madina.
Kita harus mendukung penuh langkah ini, tetapi sekaligus mengawasi secara ketat. Optimisme yang dibangun Distan Madina harus menjadi api yang membakar semangat birokrasi di lapangan untuk bekerja benar. Sinergi dengan akademisi UMA harus melahirkan solusi nyata bagi tantangan lahan dan penyakit tanaman, bukan sekadar teori di ruang seminar.
Sudah saatnya ‘Emas Kuning’ dari Madina ini naik kelas. Jika program ini berhasil dieksekusi dengan presisi, maka kejayaan Bumi Gordang Sambilan bukan lagi sekadar dongeng masa lalu, melainkan kenyataan yang menyejahterakan.
Kita dukung transformasi ini, karena mengembalikan kejayaan pisang berarti mengembalikan martabat di setiap dapur petani Madina. (*)
Penulis: Saparuddin Siregar | Pemimpin Redaksi StartNews.co.id

Comments
This post currently has no comments.