Tangis Seorang Ibu dan Misteri Kematian Putri Kecilnya di Bukitmalintang
Bukitmalintang, StartNews – Kematian tragis seorang siswi kelas dua sekolah dasar (SD) di Kecamatan Bukitmalintang, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), menyisakan duka mendalam dan tanda tanya. Sang ibu berinisial NA kini hanya bisa meratapi kepergian putrinya yang ditemukan tak bernyawa dalam kondisi tergantung di area belakang rumah mereka.
Peristiwa nahas ini justru terungkap dari kepolosan sang adik yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak baru saja pulang dari sekolah. Dia berganti pakaian dan berjalan ke belakang rumah untuk mengambil mainannya. Tak berselang lama, sang adik berlari menghampiri ibunya membawa kabar yang menghancurkan hati NA.
“Mak, kenapa Kak di belakang. Udah bersemut mata sama bibirnya,” ujar NA menirukan ucapan anak bungsunya sambil menahan tangis saat ditemui di kediamannya, Senin (5/10/2029).
NA bergegas berlari menuju belakang rumah. Dunia seakan runtuh saat dia mendapati putri kesayangannya sudah terbujur kaku.
“Posisi anak saya sudah tergantung lidahnya keluar,” tuturnya lirih.
Di tengah suasana rumah yang sepi, NA memeluk erat dan menciumi wajah sang anak. Dia berteriak histeris meminta pertolongan warga. Sejumlah tetangga yang mendengar jeritan pilu tersebut langsung berdatangan ke lokasi. NA menyebut dirinya sempat membolak-balik tangan putrinya dan melihat kulit sang anak sudah berubah warna.
Misteri menyelimuti kepergian bocah perempuan ini. Pada hari Kamis sebelum kejadian memilukan tersebut, korban sempat pulang dari sekolah sekitar pukul 10.00 WIB. Sang anak menunjukkan ketakutan yang luar biasa untuk kembali ke sekolah.
“Takut kakak, nanti dimarahi guru lagi,” katanya mengenang curhatan terakhir putrinya.
Sang ibu berusaha menenangkan dan meminta anaknya agar tetap bersabar. Bocah itu masih sempat bermanja-manja di rumah. Dia meminta ibunya menemani membuat video TikTok bersama sambil berbaring. Setelah video selesai, NA kembali meminta anaknya berangkat ke sekolah.
Sang anak kembali menolak karena takut. Dia lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu. Karena posisi NA tidak lagi menghadap ke pintu, dia tidak melihat ke mana arah langkah kaki putrinya pergi hingga sang adik membawa duka tersebut.
NA mengungkapkan keluhan putrinya bukan hal baru. Dalam satu bulan terakhir, korban sering mengaku takut ditegur oleh seorang gurunya. Sang ibu mengakui bahwa dia memang memiliki persoalan dengan guru tersebut, yang juga berstatus sebagai tetangga mereka.
Selama ini, NA hanya berusaha menenangkan anaknya tanpa pernah melapor ke kepala sekolah.
Sehari sebelum tragedi, korban masih beraktivitas normal. Usai pulang sekolah dan mengikuti kegiatan tahfiz pada hari Rabu, sang anak tiba-tiba meminta ibunya pergi ke Panyabungan untuk mengunjungi kerabat. NA menyebut putrinya tampak senang menghabiskan waktu sore itu.
Kini senyum bahagia itu telah sirna. Keluarga korban telah membawa jenazah ke Puskesmas dan melaporkan peristiwa ini ke pihak kepolisian.
NA menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat penegak hukum. Dia berharap penyelidikan berjalan tuntas agar seluruh fakta kebenaran di balik kematian putri kecilnya dapat segera terungkap.
Sementara guru yang disebutkan ibu korban tidak ditemukan lagi di sekolah. Para guru di sekolah itu enggan memberikan nomor handphone guru yang bersangkutan.
Reporter: Fadli Mustafid

Comments
This post currently has no comments.