menu Home chevron_right
Berita Madina

Bertaruh Nyawa di Sungai Batang Gadis Demi Menyapa Warga Siulangaling

Redaksi | 14 Desember 2025

MBG, StartNews – Suara mesin perahu robin itu menderu keras, seolah beradu nyaring dengan gemuruh arus Sungai Batang Gadis yang sedang tidak bersahabat. Di atas perahu kayu yang sempit itu, Bupati Mandailing Natal (Madina) H. Saipullah Nasution duduk diam, menatap jauh kedepan.

Sabtu (13/12/2025) bukanlah akhir pekan untuk beristirahat bagi Saipullah. Sebaliknya, menjadi hari untuk membayar rindu dan tunai janji.

Untuk mencapai Siulangaling, Kecamatan Muara Batang Gadis (MBG), nyali saja tidak cukup. Dibutuhkan kesabaran menempuh perjalanan empat jam menyusuri sungai, membelah belantara, dan menaklukkan arus deras yang bisa saja membalikkan perahu sewaktu-waktu. Namun, risiko itu diambil demi satu tujuan, menyapa warga yang terisolasi.

Siulangaling sedang terluka. Banjir telah merendam harapan di empat desa—Hutarimbaru, Lubuk Kapundung I, Lubuk Kapundung II, dan Ranto Panjang. Akses yang terputus membuat wilayah ini seolah hilang dari peta, menyisakan warga dalam keterbatasan yang menyesakkan.

Ketika haluan perahu akhirnya mencium bibir sungai di Desa Hutarimbaru, lokasi pertama yang dikunjungi, suasana mendadak berubah. Tidak ada protokol kaku. Begitu kaki sang Bupati menginjak tanah berlumpur itu, hening menyergap sejenak.

Warga menatap dengan mata berkaca-kaca. Bukan tatapan kepada seorang pejabat, melainkan tatapan kerinduan seorang anak yang melihat ayahnya pulang. Seketika, duka akibat bencana luruh, pecah berganti tawa dan sorakan haru. Mereka sadar, mereka tidak dilupakan.

Di sana, bantuan logistik diserahkan. Namun, bagi warga, kehadiran fisik Saipullah yang rela bertaruh nyawa di sungai deras lebih berharga daripada sekadar beras dan mi instan. Itu simbol kepedulian yang nyata.

Perjalanan berlanjut ke Desa Lubuk Kapundung I. Alam seolah mengatur skenario terbaiknya. Kedatangan rombongan Saipullah bertepatan dengan sayup-sayup kumandang azan Asar.

Pemandangan di desa ini tak kalah menggetarkan. Anak-anak kecil, orang dewasa, hingga para lansia dengan langkah tertatih, perlahan mendekat. Mereka berebut menyalami tangan pemimpin mereka.

Sorot mata Saipullah tampak dalam, menyapu wajah-wajah lelah warganya. Dia tak banyak bicara, seolah kata-kata tak cukup untuk mewakili rasa empatinya melihat luka yang terpampang nyata.

Di tengah kerumunan, Pak Rusli (63), warga setempat, tak kuasa menahan getar dalam suaranya saat melihat sosok bupati yang berdiri di hadapan mereka dengan pakaian yang lembap oleh percikan air sungai.

“Kami tahu betul betapa ganasnya sungai itu kalau sedang banjir. Nyawa taruhannya,” ujar Rusli sambil menyeka sudut matanya dengan ujung sarung.

“Makanya, saat melihat perahu Bapak sandar, rasanya seperti mimpi. Kami pikir pejabat tidak akan mau lewat jalan sesulit itu cuma untuk melihat orang kampung seperti kami. Kedatangan beliau hari ini mengobati hati kami lebih dari bantuan apapun. Rasanya kami tidak lagi yatim-piatu di kampung sendiri.”

Sore itu, duka bencana dan kerinduan akan kehadiran pemimpin bertemu dalam diam yang khusyuk.

Usai menunaikan salat Asar berjamaah, Saipullah menemui warga yang telah berkumpul. Pada momen inilah, sisi kemanusiaan seorang pemimpin teruji. Tidak ada pidato pembelaan diri atau klaim keberhasilan. Kata pertama yang terucap dari bibirnya justru sebuah pengakuan yang merendah.

“Maaf,” ucapnya pelan tetapi tegas dengan nada yang tulus.

“Maaf kami datang terlambat ke wilayah ini. Tiga hari sesudah bencana kami sudah di Singkuang dan sempat ingin ke sini. Namun, dari laporan camat, akses menuju lokasi belum dapat dilalui,” kata Saipullah.

Dia menjelaskan meski raga belum sampai, hati dan pikiran pemerintah daerah tak pernah lepas dari Siulangaling. Laporan dari kecamatan dan desa terus dipantau setiap detiknya.

Permintaan maaf itu mendarat lembut di hati warga. Tidak ada amarah yang meledak. Yang ada hanyalah kelapangan dada dan pengertian. Bagi warga Siulangaling, melihat bupati mereka berdiri di sana, setelah menaklukkan ganasnya sungai selama empat jam, sudah cukup menjadi bukti ketulusan yang tak terbantahkan.

Reporter: Fadli Mustafid

Komentar Anda

komentar

Written by Redaksi

Comments

This post currently has no comments.

Leave a Reply


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses


  • Acara Saat Ini
  • Acara Akan Datang



  • play_circle_filled

    Streaming StArt 102.6 FM Panyabungan

play_arrow skip_previous skip_next volume_down
playlist_play