menu Home chevron_right
Berita MadinaSikap Redaksi

Menagih Kedewasaan Madina di Usia 27 Tahun

Redaksi | 9 Maret 2026

SEMBILAN Maret 2026 bukan sekadar deretan angka di kalender bagi warga Mandailing Natal (Madina). Ini penanda kabupaten ini telah menapak usia 27 tahun. Ini fase yang dalam siklus kehidupan manusia dianggap sebagai puncak masa dewasa awal.

Namun, bagi sebuah daerah yang lahir dari rahim otonomi daerah pada tahun 1999, usia ini seharusnya menjadi cermin besar untuk bertanya, apakah kemandirian yang dicita-citakan sudah benar-benar mewujud? Ataukah kita masih terjebak dalam romantisme masa lalu yang semu?

Sejauh ini, Madina memang tidak sepenuhnya diam di tempat. Kita harus jujur mengakui bahwa wajah Panyabungan hari ini jauh lebih dinamis dibandingkan dua dekade silam. Pemanfaatan energi panas bumi di Sorik Marapi telah menempatkan Madina sebagai salah satu lumbung energi terbarukan yang strategis secara nasional.

Begitu pula dengan komoditas Kopi Mandailing yang tetap konsisten menjaga martabat daerah di pasar internasional. Ini membuktikan potensi alam kita adalah aset kelas dunia yang tak terbantahkan.

Secara perlahan, akses ke wilayah-wilayah terisolasi di Mandailing Pesisir mulai terbuka, sehingga memberikan harapan baru bagi denyut ekonomi masyarakat bawah.

Namun, di balik gemerlap investasi energi dan nama besar komoditas unggulan, Madina masih menyimpan luka lama dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Jika kita berani melirik kabupaten tetangga atau daerah lain yang lahir pada era otonomi yang berdekatan, seperti Serdang Bedagai, Madina tampak masih tertatih dalam pemerataan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Sungguh sebuah ironi yang menyesakkan dada melihat daerah yang kaya emas, perkebunan sawit yang luas, dan potensi tambang yang melimpah. Namun, angka kemiskinannya masih sering bertengger di posisi yang kurang membanggakan di tingkat provinsi.

Masalah utama yang menghantui di usia 27 tahun ini bukanlah ketersediaan anggaran, melainkan konsistensi manajemen prioritas. Kita sering melihat pembangunan infrastruktur jalan yang seolah hanya bertahan seumur jagung, rusak dalam waktu singkat karena lemahnya pengawasan dan perencanaan.

Kesenjangan antara kekayaan korporasi besar yang beroperasi di Madina dengan kualitas hidup warga lokal menjadi bukti nyata bahwa ada mata rantai yang terputus dalam tata kelola pemerintahan selama hampir tiga dekade ini.

Pembangunan yang sifatnya kosmetik di pusat kota tidak akan pernah bisa menutupi fakta bahwa banyak desa di pelosok masih berjuang melawan buruknya sinyal telekomunikasi dan fasilitas publik yang alakadarnya.

Merayakan hari jadi dengan upacara dan pidato manis tentu sah-sah saja sebagai bentuk syukur. Namun, kado terindah bagi rakyat Madina di tahun 2026 bukanlah perayaan yang megah, melainkan keberanian pemimpinnya untuk melakukan otokritik dan reformasi birokrasi yang nyata.

Usia 27 tahun menjadi garis batas dimana alasan sebagai “daerah baru” tidak lagi laku untuk dijual sebagai tameng kegagalan. Sudah saatnya Mandailing Natal berhenti menjadi raksasa yang tertidur di atas tumpukan emasnya sendiri dan mulai berlari mengejar ketertinggalan dari daerah lain yang sudah lebih dulu mandiri. (*)

Penulis: Saparuddin Siregar | Pemimpin Redaksi StartNews.co.id

Komentar Anda

komentar

Written by Redaksi

Comments

This post currently has no comments.

Leave a Reply


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses


  • Acara Saat Ini
  • Acara Akan Datang



  • play_circle_filled

    Streaming StArt 102.6 FM Panyabungan

play_arrow skip_previous skip_next volume_down
playlist_play