Nadiem Makarim Perlu Melirik Pesantren

Penulis, Ahmad Riyansyah Parinduri

OPINI-Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi. Tidak hanya monoton pada pengajaran satu arah, salah satu poin dari prinsip-prinsip kurikulum berdasarkan KTSP inilah menjadi pandangan kita bersama akan pentingnya interaksi yang dilakukan oleh siswa dalam kegiatannya.

Banyak macam lembaga pendidikan di Indonesia, mulai dari lembaga pendidikan formal maupun non formal, senantiasa ikut serta berperan dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Salah satu yang masih memiliki peran penting dalam dunia pendidikan adalah pondok pesantren yang merupakan sebuah lembaga non formal yang merupakan lembaga pendidikan tertua di negeri ini.

Pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang mempunyai kekhasan tersendiri serta berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Dalam hal ini terkandung nilai-nilai yang dapat melepaskan dari dampak negatif globalisasi dalam bentuk ketergantungan dan hidup konsumerisme yang akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan umat manusia yaitu kemandirian, keikhlasan, kesederhanaan dan pembentukan akhlak sesuai ajaran Rasulullah.

Beberapa literasi banyak sekali mengungkapkan fakta sebuah Pesantren. Dalam keadaan aslinya pondok pesantren memiliki sistem pendidikan dan pengajaran non klasikal, yang dikenal dengan nama bandungan, sorogan, dan wetonan. Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran ini berbeda antara satu pondok pesantren dengan pondok pesantren lainnya, dalam arti tidak ada keseragaman sistem dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajarannya. Di samping itu, mata pelajaran yang diajarkan bersifat aplikatif, dalam arti harus diterjemahkan dalam perbuatan dan amal sehari-hari, sudah tentu kemampuan para santri untuk mengaplikasikan pelajaran yang diterimanya, menjadi perhatian pokok sang Kyai.

Pada awal berdirinya pondok pesantren, metode yang digunakan adalah metode wetonan dan sorogan bagi pondok non klasikal. Pada perkembangan selanjutnya metode pembelajaran pondok pesantren mencoba untuk merenovasi metode yang ada tersebut untuk mengembangkan pada metode yang baru yaitu metode klasikal. Kyai bertugas mengajarkan berbagai pengajian untuk berbagai tingkat pengajaran di pesantrennya, dan terserah kepada santri untuk memilih mana yang akan ditempuhnya.

Kalau santri ingin mengikuti semua jenis pengajian yang diajarkan, sudah tentu akan membutuhkan waktu yang lama. Akan tetapi keseluruhan struktur pengajaran tidak ditentukan oleh panjang atau singkatnya masa seorang santri mengaji pada Kyainya, karena tidak adanya keharusan menempuh ujian dari Kyainya. Satu-satunya ukuran yang digunakan adalah ketundukannya kepada sang Kyai dan kemampuannya untuk memperoleh “ngelmu” dari sang Kyai.

Di samping kurikulum pelajaran yang sedemikian fleksibel (luwes), keunikan pengajaran di pesantren juga dapat ditemui pada cara pemberian pelajarannya, juga dalam penggunaan materi yang telah diajarkan kepada dan dikuasai oleh para santri. Pelajaran diberikan dalam pengajian yang berbentuk seperti kuliah terbuka.

Pesantren tetap saja menarik untuk menjadi sorotan dalam telaah dan perhatian. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia merupakan lembaga keagamaan asli Indonesia yang memiliki nilai dan tradisi luhur serta telah menjadi karakteristik dalam seluruh perjalanan sejarahnya.

Menyoal pada pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim agaknya pesantren merupakan lembaga pendidikan yang pas untuk merubah gaya pembelajaran di sekolah-sekolah umum. Hal kuat lain untuk merujuk ke Pesantren karena ini adalah lembaga pendidikan asli Indonesia. Setidaknya ada lima hal yang merupakan seruan Nadiem Makarim ketika beliau menyampaikan pidato hari guru baru-baru ini. Pertama, ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar. Pola ini jika melihat pada pendidikan di Pesantren justru malah relevan dengan diberinya kesempatan tanya jawab bagi siswa pesantren atau yang disebut santri. Kajian-kajian seperti ceramah menjadi kebiasaan bagi santri untuk melakukan diskusi.

Kedua, berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas. Pada bagian kedua ini tentu jelas hampir sebagian besar pesantren memberikan kesempatan bagi santri untuk mengajar di kelas. Pelatihan-pelatihan berdakwah merupakan kekhasan pendidikan di pesantren. Di samping itu, kemandirian untuk mengajar dibangun pada pendidikan pesantren ketika siswa atau santri menjadi kakak kelas. Berbagi ilmu sudah menjadi hal biasa, bahkan untuk pergaulan dan contoh akhlak juga diajarkan kepada adik kelas.

Ketiga, cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas. Tidak hanya belajar di kelas dalam menuntut ilmu, santri-santri juga diajarkan untuk memiliki sikap peduli antar satu dan yang lainnya. Kepedulian ini terbangun ketika kehidupan bersama yang dibangun oleh para santri seperti berdiskusi menjawab tugas, memperhatikan teman yang sakit, bahkan sampai mengangkat pakaian yang dijemur ketika hujan. Dalam sisi lingkungan para santri termasuk dibentuk kepeduliannya untuk bergotong royong. Oleh sebab itu, poin ketiga yang dimaksud Nadiem selaras dengan keseharian santri di Pesantren.

Keempat, temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri. Seruan Menteri pada poin empat ini baik sekali adanya. Seluruh sekolah melakukan ekstra kulikuler untuk menemukan bakat dari siswanya. Mungkin tak cukup di ekstra kulikuler karena Pesantren pun sudah juga mengadakan aktivitas ekstra kulikuler. Jike menyoroti Pesantren untuk poin keempat ini maka bisa kita lihat sebagian pesantren mengarah serupa dengan SMK atau Sekolah Menengah Kejuruan, fokus pada jurusan untuk mengasah bakat anak didik. Pesantren sebagian lazimnya mencetak para generasi ilmu-ilmu agama. Tentunya sangat baik sekali seruan pada poin empat ini diamalkan untuk kurikulum baru, contohnya mendidik anak murid yang punya bakat sepakbola sejak dini agar bisa bersaing pada kanca internasional.

Kelima, tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan. Akhlak baik yang terus tumbuh di lingkungan pesantren adalah menghormati yang lebih tua. Seorang guru atau ustadz dalam istilah pesantren besar sekali tindakan saling hormatnya. Guru yang lebih mudah akan terus belajar kepada guru atau ustadz yang lebih tua, karena semakin tua guru di pesantren maka semakin dalam ilmu. Amalan para guru di pesantren adalah belajar dari buayan sampai ke liang lahat. Di poin kelima ini jelaslah Nadiem berpesan untuk tidak pernah berhenti belajar bagi seorang guru sekalipun, meski kalimat Nadiem dikemas dengan baik oleh kecerdasan retorikanya.

Metode pembelajaran di pesantren agaknya serupa dengan apa yang menjadi seruan Nadiem pada pidatonya. Sejalan dengan perkembangan zaman, lembaga pendidikan pesantren juga tidak menutup diri untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan baik metode maupun teknis dalam pelaksanaan pendidikan pesantren itu sendiri. Pesantren dikategorikan sebagai tempat pendidikan yang terbuka dan dinamis namun tetap memiliki ciri khas baik yang menjadi keunggulan dan mungkin bisa menjadi bahan rujukan untuk diterapkan Mendikbud Nadiem Makarim pada masa kepemimpinannya ini.

 

Penulis: Ahmad Riyansyah, S.E.I, M.E

Dosen tetap di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal Prodi Manajemen Bisnis Syariah, aktif sebagai Motivator dan Trainer dalam Seminar Motivasi dan Pelatihan Bisnis Islam.

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...

Hak Cipta @Redaksi