Perjuangan Demi Menimba Ilmu Harus Rela Berjalan Kaki 14 Km Saban Hari

perjuangan-demi-menimba-ilmu-harus-rela-berjalan-kaki-14-km-saban-hari

Panyabungan (Start News) – Menempuh empat belas kilometer saban hari, dengan berjalan kaki menuju sekolah. Berangkat dari rumah ketika fajar, meretas air embun melewati hutan dengan langkah cepat, agar  tidak terlambat sampai di sekolah.

Pulang ke dirumah ketika sudah senja. Kondisi ini merupakan bagian dari keseharian anak-anak dari Desa Siobon Julu kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), dalam menuntut ilmu.

Perjuangan demi menimba ilmu di sekolah, anak-anak di Desa Siobon Julu harus rela berjalan kaki dengan menempuh jarak empat belas kolimeter saban hari, sebab jarak dari rumahnya ke satu-satunya sekolah di daerah itu berjarak tujuh kilo meter. Berjalan kaki di belantara hutan merupakan keseharian mereka, karena infrastruktur jalan menuju desa mereka masih jauh dari kata memadai.

Hotma Sari Nasution, Kasih Nasution dan Napisah Batubara serta Sunni Lubis, saat berbincang dengan wartawan baru- baru ini, merupakan bagian dari beberapa anak desa terisolir yang gigih dalam menuntut ilmu. Saat ini mereka berempat tercatat sebagai siswi pada SMP Negeri 7 Satu Atap Panyabungan di Siobon Jae.

“Pagi buta, harus berangkat dari rumah, tidak ada kenderaan, berjalan kaki diantara rimbunnya pepohonan, kita harus berjalan cepat kalau tidak ingin terlambat sampai di sekolah, sampai di sekolah sudah lelah, tapi kita tetap semangat dalam mengikuti pelajaran,” ujar Hotma dengan wajah berseri.

Meski kondisi sudah lelah habis berjalan kaki untuk sampai di sekolah, terlihat di wajah mereka kebahagian karena dapat mengikuti mata pelajaran yang disuguhkan oleh gurunya. ”Guru-guru kami baik dan pengertian tentang kondisi dan situasi yang kami lalui saban hari,” ucap Kasih yang mengaku punya citi-cita untuk menjadi bidan. Cita-cita yang sama juga dimiliki oleh Sunni dan Hotma Sari,  mereka bertiga bercita-cita jadi bidan karena di desa mereka sangat membutuhkan tenaga medis.

“Kalau tidak hujan,  perjalan menuju sekolah bisa agak cepat, dua setengah jam, tetapi kalau hujan suasana membuat kita jadi sedih, kita harus bawa pakaian salin kalau tidak ingin pakaian seragam basah,” ucap Napisah yang punya cita-cita jadi guru.

Dalam kesempatan bincang-bincang dengan  mereka,  berharap agar bisa mengikuti pelajaran bagaimana yang dirasakan oleh anak-anak lainya tidak terbatas dengan sarana sekolah.

Sementara itu Kepala Sekolah SMP Negri 7 Satu Atap Panyabungan Sahruddin, S.Pd membenarkan apa yang dikatakan anak didiknya tersebut. “Memang benar anak didik itu berjalan kaki dari rumah mereka ke sekolah, makanya kita sudah umumkan jika ada kegiatan ekstra, jika anak tidak pulang bermalam disekolah orangtua jangan mencarinya. Kalau jalan rabat beton ini hanya sekitar 400 meter saja itupun masih di Desa Siobon Jae setelah adanya dana desa baru terbangunkan, beberapa kilometer lagi jalan tanah. Untuk harapan bantuan komputer kita dari pihak sekolahpun sangat mengharapkan adanya bantuan tersebut” ucapnya.

Reporter : Z Ray

Manager Program & Pemberitaan : Hendra Ray

Admin : Ade

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...

Hak Cipta @Redaksi