menu Home chevron_right
Berita Madina

Tangis Haru di Banjar Malayu, Saat Belenggu Isolasi Akhirnya Terputus

Redaksi | 23 Januari 2026

Batangnatal, StartNews – Kamis (22/1/2026) sore, udara di Desa Banjar Malayu, Kecamatan Batangnatal, terasa berbeda. Bukan lagi sunyi mencekam yang menyelimuti desa sejak awal Desember lalu, melainkan keriuhan penuh syukur. Di ufuk barat, matahari belum lagi terbenam, tetapi cahaya harapan sudah lebih dulu menyinari wajah-wajah warga.

Lambaian tangan dan binar mata yang berkaca-kaca menyambut kedatangan rombongan Bupati Mandailing Natal (Madina) H. Saipullah Nasution. Bagi 1.535 jiwa penduduk desa ini, kehadiran Sang Bupati bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan simbol berakhirnya masa isolasi yang membelenggu mereka selama hampir dua bulan.

Ingatan warga masih segar pada awal Desember 2025. Bencana alam melanda, memutus total jalan utama sepanjang 200 meter. Banjar Malayu seketika menjadi desa yang terisolasi. Akses logistik terhenti, roda ekonomi yang biasanya berdenyut lewat hasil bumi mendadak mati suri. Mobilitas warga lumpuh. Mereka seolah terkurung di rumah sendiri.

Namun, keputusasaan itu tidak dibiarkan berlarut. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madina bergerak cepat. Alat berat dikerahkan, jalur alternatif dibelah menembus perbukitan. Hasilnya, sebuah jalan penghubung sementara kini berdiri kokoh, siap dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Momen emosional memuncak saat Saipul Alamsyah, tokoh masyarakat setempat, berdiri di hadapan rombongan bupati. Mewakili ribuan warga, suaranya yang semula tegas perlahan melirih.

Saat dia menyinggung bantuan pangan yang terus mengalir dari Pemkab selama masa-masa sulit terisolasi, bibirnya bergetar. Ada rasa haru yang tak mampu disembunyikan.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada bupati, unsur Forkopimcam, dan semua pihak yang sudah bersusah payah membuka jalan ini,” ucapnya terbata, menahan sesak di dada karena rasa terima kasih yang mendalam.

Bagi Bupati Saipullah, melihat kendaraan kembali melintas adalah prioritas utama. Baginya, jalan ini urat nadi. Dengan terbukanya akses alternatif ini, bantuan pangan dan kebutuhan pokok kini tak lagi harus dipikul melalui jalur tikus yang terjal.

Kini, senyum warga Banjar Malayu bukan lagi sekadar basa-basi penyambutan, tetapi menjadi refleksi beban yang terangkat. Roda motor yang kembali menderu di jalan tanah itu menjadi bunyi kemandirian ekonomi yang mulai bangkit kembali.

Sore itu, di bawah bayang-bayang perbukitan Madina, Banjar Malayu tidak lagi terisolasi. Harapan yang sempat terkubur bersama longsoran jalan, kini tumbuh kembali, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

Reporter: Fadli Mustafid

Komentar Anda

komentar

Written by Redaksi

Comments

This post currently has no comments.

Leave a Reply


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses


  • Acara Saat Ini



  • play_circle_filled

    Streaming StArt 102.6 FM Panyabungan

play_arrow skip_previous skip_next volume_down
playlist_play