menu Home chevron_right
Berita Sumut

Waspada Predator Anak di Sumut, Orangtua Diminta Melek Bahaya Child Grooming

Redaksi | 12 Februari 2026

Kasus kekerasan anak di Sumut meningkat drastis hingga 1.360 korban. Simak peringatan Dinas P3AKB mengenai bahaya child grooming dan pentingnya peran orang tua dalam memberikan edukasi seksual untuk menangkal predator anak.

Medan, StartNews – Fenomena kekerasan terhadap anak di Sumatera Utara (Sumut) kini mencapai titik yang mengkhawatirkan dengan munculnya ancaman manipulasi psikologis atau child grooming. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (P3AKB) meminta para orangtua lebih proaktif memberikan edukasi seksual sejak dini guna membentengi buah hati dari incaran predator.

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni) sepanjang tahun 2025, tercatat ada 1.975 kasus kekerasan di Sumut. Sebanyak 68,8% atau sekitar 1.360 korbannya adalah anak-anak. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 1.822 kasus. Tren kenaikan ini menjadi peringatan bagi ketahanan keluarga, mengingat pola kekerasan seksual kini semakin sistematis.

Kepala Dinas P3AKB Sumut Dwi Endah Purwanti mengungkapkan, dari total kasus tersebut, kekerasan seksual menempati urutan teratas dengan 775 laporan. Dia menyoroti adanya potensi besar kasus child grooming yang sering tidak disadari oleh lingkungan terdekat korban.

Berbeda dengan kekerasan seksual spontan, child grooming merupakan proses manipulatif jangka panjang untuk membangun kepercayaan semu sebelum akhirnya mengeksploitasi korban.

“Kasus child grooming tidak terjadi tiba-tiba seperti kasus kekerasan seksual lainnya. Ada tahapan yang dilakukan pelaku dengan mulai membangun hubungan dan kepercayaan, bahkan hingga korban merasa ketergantungan dan sampai mengalami krisis kepercayaan kepada orangtua dan lebih mempercayai pelaku,” ujar Dwi Endah Purwanti di Medan, Rabu (11/2/2026).

Kondisi ini kian memprihatinkan karena sebaran kasus tertinggi justru ditemukan di wilayah yang beragam, mulai dari Gunungsitoli dengan 213 kasus, Kota Medan 197 kasus, hingga Kabupaten Asahan 174 kasus.

Dwi mengatakan angka yang muncul ke permukaan hanyalah fenomena gunung es, yang berarti jumlah korban sebenarnya di lapangan bisa jauh lebih banyak namun belum berani melapor.

Dampak pola manipulasi ini merusak, karena menyasar mentalitas anak secara perlahan. Selain trauma fisik, korban sering mengalami krisis identitas, rasa minder, hingga gangguan tumbuh kembang yang permanen.

Oleh karena itu, edukasi seksual dari rumah bukan lagi hal tabu, melainkan kebutuhan mendesak untuk memperkenalkan batasan tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang asing.

Dwi Endah mengingatkan benteng terkuat seorang anak adalah rasa aman yang diciptakan di dalam rumah. Jika anak merasa nyaman bercerita kepada orangtua, ruang gerak predator untuk melakukan manipulasi akan tertutup dengan sendirinya. Orang tua harus menjadi sosok pertama yang dipercayai anak agar mereka tidak mencari perlindungan atau validasi dari orang asing yang berpotensi menjadi pelaku kekerasan.

“Pengawasan orangtua sangat dibutuhkan, dengan siapa anak bersahabat dan di mana lingkungan tempatnya bergaul. Paling penting orang tua harus menjadikan diri mereka orang yang paling nyaman dan aman sehingga anak tidak mencari perlindungan kepada orang lain,” kata Dwi.

Reporter: Sir

Komentar Anda

komentar

Written by Redaksi

Comments

This post currently has no comments.

Leave a Reply


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses


  • Acara Saat Ini
  • Acara Akan Datang



  • play_circle_filled

    Streaming StArt 102.6 FM Panyabungan

play_arrow skip_previous skip_next volume_down
playlist_play