Wabup Atika Tabur Benih Ikan di Lubuk Larangan Desa Lumban Dolok
Siabu, StartNews – Aliran sungai Aek Katong di Desa Lumban Dolok, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal (Madina) menjadi titik bertemunya kepedulian lingkungan dan kearifan lokal pada Rabu (1/7/2026) kemarin. Wakil Bupati Madina Atika Azmi Utammi Nasution turun langsung ke perairan sungai untuk menabur ribuan benih ikan sebagai bagian dari upaya merawat tradisi turun-temurun bernama lubuk larangan.
Atika yang didampingi sejumlah pejabat, tokoh masyarakat, dan warga setempat melepaskan bibit ikan mas, ikan nila, dan ikan jurung ke habitat aslinya. Sebanyak 1.500 ekor benih ikan dibiarkan berenang bebas di perairan tersebut. Ikan-ikan ini nantinya dijaga oleh alam dan masyarakat setempat hingga tiba masa panen pada saat pembukaan lubuk larangan.
Kehadiran orang nomor dua di Pemkab Madina ini merupakan bentuk dukungan terhadap cara masyarakat adat menjaga kelestarian alamnya. Atika menyadari kearifan lokal ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan alam.
Menurut dia, keberadaan lubuk larangan menjadi wahana yang efektif dalam menjaga ekosistem dan pelestarian ikan, khususnya spesies endemik daerah.
“Kehadiran pemerintah daerah hanya memenuhi undangan panitia lubuk larangan untuk melakukan penaburan bibit ikan,” ungkap Atika merendah saat membaur bersama warga di tengah aliran sungai.

Wabup Atika dan masyarakat lebur dalam tradisi makan bersama setelah prosesi penaburan benih selesai. (FOTO: DISKOMINFO)
Lubuk larangan sejatinya lebih dari sekadar urusan menjaga ekologi sungai. Tradisi ini merupakan hukum adat yang mengatur larangan menangkap ikan di wilayah sungai tertentu sampai batas waktu yang telah disepakati oleh panitia desa.
Menariknya, tradisi ini memiliki dimensi sosial yang tinggi. Ketika lubuk larangan tersebut dibuka, hasil penjualan tiket untuk menangkap ikan tidak dinikmati secara pribadi, melainkan diserahkan kepada panitia untuk menyantuni anak-anak yatim di desa setempat.
Nilai kebersamaan dan kesetaraan dalam tradisi ini tidak berhenti di tepi sungai. Wabup Atika dan masyarakat lebur dalam tradisi makan bersama setelah prosesi penaburan benih selesai.
Duduk lesehan beralaskan tikar, Atika beserta rombongan dan warga menikmati hidangan lauk-pauk berkuah yang disajikan memanjang di atas hamparan daun pisang.
Suasana kekeluargaan semakin kental dengan sajian buah durian yang dinikmati bersama, merepresentasikan kuatnya ikatan sosial dan budaya gotong-royong masyarakat Mandailing.
Melihat tingginya nilai ekologis dan sosial yang terkandung di dalamnya, Atika mendorong masyarakat untuk terus menginisiasi dan menjaga keberlanjutan kearifan lokal itu di berbagai wilayah lainnya. Dia tidak ingin budaya yang penuh kebaikan alam dan manusia ini pudar ditelan zaman.
“Kegiatan ini dapat terus berlanjut kedepan. Jangan hanya sebatas seremonial, tetapi tradisi lubuk larangan ini harus terus dilestarikan,” kata Atika.
Dia berharap kelestarian sungai dan kesejahteraan sosial di Madina dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Reporter: Sir

Comments
This post currently has no comments.