Sosok Ketua DPRD Madina bak Sultan Melayu Pesisir di Karnaval Kemerdekaan
Panyabungan, StartNews – Ketua DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) H. Erwin Efendi Lubis beserta istri tampil mencuri perhatian dengan balutan busana kebesaran adat Melayu Pesisir bernuansa keemasan dalam semarak karnaval peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Panyabungan, Minggu (16/8/2026).
Karnaval tahunan ini tidak hanya sekadar ajang euforia perayaan kemerdekaan, tetapi bermetamorfosis menjadi panggung representasi bagi masyarakat dan jajaran pejabat daerah untuk merayakan keberagaman warisan budaya Nusantara.
Kehadiran sosok pimpinan legislatif itu di panggung kehormatan langsung menjadi pusat pandangan. Erwin tampil elegan mengenakan busana bernuansa kuning keemasan dengan sulaman khas.
Identitas kebudayaan Melayu terpancar kuat dari aksesori sang ketua Dewan yang mengenakan penutup kepala berupa tanjak berwarna emas. Penampilan ini menghadirkan nuansa kultural yang khas, mengingat pakaian adat suku Mandailing pada umumnya menggunakan ampu, yakni penutup kepala berwarna hitam dengan ornamen emas yang melengkung ke atas.
Pilihan busana ini merepresentasikan jejak kebudayaan Melayu Pesisir yang memang memiliki pengaruh dan akar tradisi yang kuat di kawasan pesisir barat wilayah Madina. Pemilihan warna dan ornamen pakaian tersebut membawa makna filosofis yang mendalam mengenai tatanan sosial masa lampau.
Warna kuning keemasan secara menyeluruh yang dikenakan Ketua DPRD Madina Erwin Efendi Lubis itu merupakan warna diraja. Dalam adat Melayu, warna kuning sangat sakral dan melambangkan kedaulatan, kejayaan, serta derajat kebesaran seorang Sultan atau kaum kerabat kerajaan.
Busana tersebut secara spesifik menyimbolkan kaum bangsawan. Derajat kebesaran ini dapat dilihat pada penggunaan tanjak. Tanjak untuk seorang Sultan menggunakan kain songket kuning emas dengan bentuk lipatan khusus yang melambangkan mahkota tertinggi.
Meski secara historis pakaian diraja kuning keemasan merupakan penanda mutlak status keturunan keraton, penggunaannya dalam konteks masyarakat modern masa kini membawa spirit pelestarian budaya.
Dikenakan dalam momen perayaan nasional yang sakral, busana kebesaran tersebut menjadi wujud dalam menjunjung tinggi adat istiadat, menjaga estetika tradisi, dan merayakan kekayaan identitas kebudayaan yang hidup berdampingan di Bumi Gordang Sambilan.
Reporter: Sir

Comments
This post currently has no comments.