Pemkab Tapsel All Out Dorong Sanusi Pane Jadi Pahlawan Nasional
Medan, StartNews – Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan (Pemkab Tapsel) menggalang kekuatan bersama Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara untuk mengusulkan sastrawan sekaligus konseptor bahasa persatuan, Sanusi Pane, sebagai Pahlawan Nasional.
Bupati Tapsel H. Gus Irawan Pasaribu mengatakan Sanusi Pane merupakan tokoh intelektual lintas zaman yang meletakkan gagasan awal bahasa Indonesia sejak Kongres Pemuda 1926 dan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo pada 1938. Menurut dia, perjuangan tokoh kelahiran Muarasipongi tersebut tidak menggunakan senjata api, melainkan lewat penguatan fondasi kebudayaan serta persatuan bangsa.
“Beliau memilih perjuangan tidak dengan bedil, tetapi dengan satu kata kunci sebetulnya adalah persatuan, dengan bahasa,” kata Gus Irawan saat menjadi narasumber siaran kebahasaan di Studio TVRI Sumatera Utara, Kota Medan, Kamis (8/10/2026).
Gus Irawan menjelaskan, aspirasi penetapan Pahlawan Nasional ini berawal dari gerakan pemuda KNPI Tapsel pada Hari Sumpah Pemuda 2025 dan kembali diperkuat dalam panggung utama Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026.
Pemkab Tapsel aktif mendampingi Balai Bahasa Sumut untuk mengumpulkan arsip, dokumen sejarah, serta karya-karya lama Sanusi Pane guna melengkapi portofolio pengusulan ke pemerintah pusat.
Selain mendorong gelar pahlawan, Pemkab Tapsel menghidupkan warisan literasi keluarga Pane melalui penguatan taman bacaan, pengenalan karya sastra di sekolah, serta digitalisasi rekam jejak tokoh-tokoh Tapanuli.
Hal ini bertujuan agar nilai pengabdian tanpa pamrih Sanusi Pane—termasuk keteladanannya yang pernah menolak penghargaan Satyalancana Kebudayaan dari Presiden Soekarno—dapat menginspirasi generasi muda pada era digital.
Penerjemah Ahli Madya Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Yolferi, menilai Sanusi Pane memegang peran kunci yang tidak kalah penting dari Mohammad Yamin dalam sejarah bahasa nasional. Sanusi Pane memberikan landasan bahwa bahasa Indonesia harus tumbuh dinamis sebagai bahasa kebudayaan tanpa kehilangan akar tradisi Timur.
“Banyak karya Sanusi Pane yang tersebar di surat kabar dan majalah pra-kemerdekaan. Sebagian fisiknya sudah rapuh sehingga harus ditranskripsi dan dikaji kembali. Namun, melalui kerja sama akademisi, Balai Bahasa dan Pemkab Tapsel, portofolio perjuangan kebahasaan beliau terus kita formulasi secara ilmiah,” jelas Yolferi.
Reporter: Lily Lubis

Comments
This post currently has no comments.