Areal Persawahan di Sekitar Sungai Batang Angkola Berubah Jadi Lautan Ribuan Hektar Padi Petani Gagal Panen

Areal Persawahan Masyarakat yang berubah menjadi lautan akibat meluapnya air sungai Batang Angkola.

Panyabungan.StArtNews-Ribuan hektar areal persawahan masyarakat yang berada di sekitar sungai batang angkola tepatnya di wilayah Kecamatan Siabu Kabupaten Mandailing Natal (Madina) berubah menjadi lautan dalam beberapa hari terakhir ini.

Hal ini akibat intensitas hujan yang sangat tinggi di wilayah itu sehingga debit air sungai batang angkola meningkat ditambah lagi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang sudah menyempit sehingga air sungai masuk ke areal persawahan masyarakat dan merendam ribuan hektar areal persawahan masyarakat yang ada di wilayah Kecamatan Siabu Madina dan Kecamatan Tantom Tapsel berubah jadi lautan air.

Berdasarkan pantauan di beberapa wilayah di seputaran Kecamatan Siabu Madina dan Kecamatan Tantom Tapsel banjir kali ini lebih besar dari banjir yang terjadi beberapa waktu yang lalu.

Akibat banjir tersebut banyak petani yang resah akibat bajir tersebut, karena masyarakat tidak dapat melakukan panen tanaman padi mereka padahal sudah waktunya untuk dipanen, sehingga masyarakat mengalami gagal panen.

“Padi saya yang sudah selesai disabit tidak bisa dirontok, karena areal persawahan saya berubah seperti lautan, sehingga akibat genangan air tersebut kita mengalami kerugian yang sangat besar,” ujar Abdurrahman salah seorang petani di Desa Huta Puli Kecamatan Siabu Madina, senin (9/1).

Lebih lanjut disampaikan oleh Abdurrahman bahwa dia kwatir akibat padinya yang sudah selesai disabit tersebut dikwatirkan akan tumbuh karena telah direndam air sungai batang angkolah yang meluap hingga ke areal persawahannya.

“Saya kwatir bulir padi saya yang berada di onggokannya akan tumbuh dan membusuk karena sudah direndam oleh air, sudah beberapa hari ini,” keluhnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh petani lainnya dimana dia mengatakan akibat genangan air yang masuk ke areal persawahan mereka mengakibatkan padi yang sudah selesai dirontok tidak bisa diangkut, karena jalan menuju tumpukan padinya sudah digenangi air.

“Air sungai batang angkola ini cukup cepat naiknya ke areal persawahan kami, dan ketinggian air mencapai 1-2 Meter, sehingga kita dari masyarakat petani mengalami kerugian yang cukup besar, untuk itu kita meminta kepada Pemerintah untuk dapat melakukan pengerukan aliran sungai sehingga apabila tejadi musim penghujan air sungai tidak meluap separah sekarang ini,” harap masyarakat petani.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun di lapangan bahwa banjir yang terjadi kali ini lebih besar dari banjir-banjir yang terjadi selama ini, karena banjir kali ini sudah menjalar ke wilayah melanda morang, parmonangan, Kecamatan Tano Tombangan Tapsel.

“Selama ini memang sering tejadi banjir namun tidak separah kali ini, memang banjir kali ini sudah lain dari yang biasanya tejadi,” ujar warga petani.

Diris (50) salah seorang penangkap ikan di wilayah Kecamatan Siabu mengatakan bahwa banjir kali ini memang cukup besar lain dari yang biasanya, karena selama ini apabila terjadi banjir hanya sebentar saja, namun kali ini sudah melebih.

“Banjir kali ini sudah hampir sampai ke pemukiman warga di Desa Hutapuli Kecamatan Siabu Madina, sekarang ini hanya berkisar 300 meter lagi air sudah sampai ke permukiman warga, ini sangat jarang terjadi, bahkan saya belum pernah melihat air sungai batang angkola sebesar ini,” jelasnya.

Reporter : Z ray

Editor : Hendra Ray

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...

Hak Cipta @Redaksi