Gunung Anak Krakatau Turun ke Level II, Muncul Fenomena ‘Telor Ceplok’ di Kawahnya
Lamsel, StartNews – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), Provinsi Lampung, berangsur mereda dan menyisakan fenomena visual unik menyerupai ‘telor ceplok’ di kawah aktifnya pasca-erupsi besar awal bulan lalu.
Berdasarkan laporan pengamatan pada Senin, 21 September 2026, kondisi gunung yang memiliki ketinggian 157 meter di atas permukaan laut ini terpantau berada dalam fase tenang.
Pengamat Gunung Api, Anggi Nuryo Saputro, melaporkan tingkat kegempaan kini hanya didominasi tremor menerus dengan amplitudo satu hingga lima milimeter dan satu kali gempa hybrid berdurasi delapan detik.
Penurunan intensitas ini sejalan dengan rekomendasi pihak berwewenang yang mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati kawah aktif dalam radius dua kilometer, mengindikasikan aktivitas telah turun di Level II atau Waspada.
Meredanya pergolakan magma ini justru memberikan ruang bagi terbentuknya genangan air dengan pola warna mencolok yang terekam kamera dan viral di media sosial. Visual kawah menampilkan perpaduan warna kuning cerah akibat belerang di bagian luar dan bagian tengah yang menggelap akibat material dinding kawah, persis menyerupai telur mata sapi atau telur ceplok raksasa.
Merespons kehebohan fenomena alam tersebut, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lamsel, Suwarno, memastikan penampakan visual itu adalah kondisi alamiah yang biasa terjadi setelah gunung api memuntahkan material erupsinya. Suwarno menegaskan genangan tersebut murni hasil reaksi kimia vulkanik pasca-erupsi besar pada 3 September 2026 dan bukan merupakan anomali bahaya baru.
“Iya itu kawah GAK. Jadi, itu adalah air yang terkontaminasi dengan gas belerang. Tidak semuanya, kalau belerang semuanya gunung api pasti ada. Di sana ada genangan air, terkontaminasi oleh belerang jadi seperti itu warnanya, dan juga bisa terkontaminasi dengan lapisan dinding kawah itu,” kata Suwarno.
Kendati kawah menunjukkan fenomena yang menarik dan erupsi telah mereda, potensi bahaya kegempaan mikro vulkanik masih terus berlangsung di dapur magma. Masyarakat, pendaki, maupun nelayan setempat diminta tidak terlena oleh ketenangan visual permukaan kawah dan diwajibkan tetap mematuhi zona larangan masuk pada radius dua kilometer demi menghindari potensi bahaya gas beracun.
Reporter: Sir

Comments
This post currently has no comments.