HUT-RI Bukan Formalitas Semata

HUT-RI Bukan Formalitas Semata

 

Sikap Redaksi – TIDAK kurang dari 300 tahun Republik Indonesia dijajah bangsa lain. Baik dari Eropa sampai Asia. Sejak sebelum bergabung menjadi Indonesia sampai ikrar kebangsaan diikrarkan pada tahun 1928, Indonesia sudah dirongrong oleh bangsa lain. Mulai dari Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris sampai Negara adidaya Asia, Jepang, pernah merasakan nikmat kekayaan alam Indonesia. Selama itu pula masyarakat Indonesia melakukan perlawanan untuk mengusir penjajah. Berkali-kali perang berkecamuk menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Kehilangan keluarga, harta, tahta, bahkan nyawa sudah menjadi hal yang lumrah pada masa itu. Semuanya demi satu kata “Merdeka”.

17 Agustus 1945 di Jalan Pengangsaan Timur, Jakarta Pusat, Soekarno dan Muhammad Hatta memperoklamirkan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan bangsa dengan biaya yang tidak sedikit serta banyaknya nyawa yang harus jadi martir akhirnya terbayar tuntas. Indonesia Merdeka! Sejak saat itu setiap tanggal 17 Agustus rakyat Indonesia mulai dari Ibu Kota sampai pelosok negeri gegap gempita turun ke jalan merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan. Tahun ini, tahun ke-74 sejak proklamasi di-proklamirkan Soekarno-Hatta di Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya setiap pemerintahan baik skala nasional sampai skala kelurahan sibuk menyiapkan perayaan kemerdekaan.

Pun di Mandailing Natal, persiapan perayaan sudah mulai terlihat. Misalnya, anak-anak muda yang berkumpul di tengah jalan meminta sumbangan untuk perayaan kemerdekaan. Ironis memang, dalam perayaan kemerdekaan pengguna jalan tidak sepenuhnya merdeka. Pada 16 Agustus nanti seperti tahun-tahun sebelumnya aka nada karnaval yang seyogiyanya menampilkan budaya-budaya tradisional dari tiap suku. Namun, sudah menjadi pemandangan biasa kalau nanti ada sekelompok pria berpakaian wanita ikut di barisan karnaval. Tentu kita mengernyitkan dahi, sembari bertanya ini budaya suku apa?

Boleh saja kita merasa senang. Ikut berbahagia, tapi ada satu hal yang terus menjadi pertanyaan “Sejauh mana esensi kemerdekaan itu dirasakan dan diaplikasikan dalam kehiidupan”. Apakah perayaan HUTRI hanya sebatas formalitas saja? Apakah sebatas karnaval saja? Atau sekadar baris-berbaris di jalan raya dan memenangkan panjat pinang? Tentu tidak.

Sudah seharusnya kita kembali merenung makna hakiki dari kata merdeka. Madina ini kaya, harusya kita bisa bersaing dengan daerah-daerah lain bahkan di tingkat global. Tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah. Tidak ada lagi prestasi yang diabaikan. Kita sudah merdeka sudah seharusnya pula kekayaan alam Madina dinikmati oleh warganya bukan justru didiamkan, apalagi kelak dikuasai orang asing dan kita kembali terjajah. Mari kita bunuh mental-mental penjajah dan inlander di dalam diri kita sehingga kemerdekaan tidak lagi perayaan semata. Mari kita jadikan perayaan kemerdekaan sebagai mmomentum untuk merenung sejauh mana makna kemerdekaan dan cita-cita bangsa telah tercapai.

Selamat Ulang Tahun Indonesia. Merdeka! Sekali merdeka tetap merdeka.

 

Tim Redaksi StArtNews

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...