Kampanye Tanpa Kekerasan Verbal

Pojok Redaksi – BERKAMPANYE dan membangun optimisme bagai dua sisi dari mata uang, menjadi satu kesatuan dan tidak terpisahkan. Apa pun hasil kampanye nantinya, kemajuan hanya bisa dicapai jika setiap anak bangsa percaya akan daya negerinya.

Kesadaran optimisme ini sesungguhnya juga bukan hal sulit. Mereka yang mencintai bangsa ini mestinya mudah mengerti karena memang demikianlah hakikat berbangsa dan bernegara.

Menjadi aneh, sangat aneh, jika ada calon yang berkontestasi menjadi pemimpin negara justru yang terdepan menghancurkan optimisme. Penghancuran itu dilakukan lewat kekerasan verbal di berbagai kesempatan di ruang publik.

Ada calon yang menyebut kondisi Tanah Air sebagai ‘Ibu Pertiwi sedang diperkosa’. Bukan itu saja, dalam sebuah kesempatan kampanye dilontarkan sebutan ‘bajingan’ dan kata ‘ndasmu’ yang merupakan umpatan kasar dalam bahasa Jawa. Ada juga sebutan ‘sontoloyo’.

Perangai emosional malah dipertontonkan tanpa malu-malu pula. Pada  beberapa kesempatan di depan publik, ada calon yang tidak segan menunjukkan kemarahan, termasuk menggebrak podium.

Perangai kasar dan kekerasan verbal di ruang publik tetap bukan hal yang bisa diterima akal sehat. Alasannya banyak, dampaknya tidak sepele, bahkan efeknya jauh lebih dahsyat ketimbang kekerasan fisik.

Pertama, tentu saja kekerasan, baik fisik maupun verbal, sangat tidak pantas dalam diri seorang pemimpin. Sebagai pribadi anutan, segala tindak tanduk pemimpin akan dicontoh, ibarat guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Pemimpin yang gemar berkata dan bersikap kasar sama halnya dengan mengajak masyarakat permisif terhadap sikap serupa. Dampaknya akan semakin berbahaya jika diserap begitu saja oleh para generasi muda dan usia anak. Nilai-nilai kesantunan akan luntur, terganti dengan budaya caci-maki.

Kedua, dalam momen kampanye ini, kekerasan verbal yang dilakukan calon pemimpin semakin berbahaya karena menghancurkan optimisme tadi. Apalagi, tudingan ‘Ibu Pertiwi diperkosa’ tidak berbasiskan data dan fakta.

Tudingan itu tidak saja menutupi berbagai kemajuan yang ada, tapi juga menepisnya sama sekali. Kita pantas menolak hal ini karena sesungguhnya bukan hanya kerja pemerintah yang dikerdilkan, melainkan juga prestasi banyak anak bangsa lainnya, termasuk sosok-sosok inovatif di berbagai sektor dan bidang yang sudah menorehkan prestasi Indonesia di dunia internasional.

Prestasi yang paling mudah diingat ialah melonjaknya peringkat Indonesia dari sebelumnya 16 ke peringkat 4 di Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta-Palembang. Prestasi ini jelas bukan semata keberhasilan pemerintah, melainkan juga buah kegigihan tiap-tiap atlet yang berlaga.

Di sisi lain, kekerasan verbal memang tidak boleh dilawan dengan kekasaran lainnya. Jika itu yang terjadi, hanya terus-menerus mereproduksi kekerasan verbal. Hanya kecerdasan yang bisa melawan kekerasan verbal.

Kecerdasan itu ditunjukkan calon presiden lainnya dengan mengatakan bahwa Ibu Pertiwi saat ini sedang berprestasi, bukan sedang diperkosa. Prestasi yang didulang anak negeri ini dipaparkan secara terang benderang untuk merawat optimisme.

Merawat optimisme sesungguhnya menjaga nyawa demokrasi dari ancaman bahaya laten pendangkalan nalar dan kekerasan ekspresi. Elok nian bila dalam kontestasi para calon berlomba-lomba menjaga adab lisan dengan membuang ke laut kekerasan verbal.

Source : Editorial Media Indonesia

 

 

 

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...