menu Home chevron_right
Berita MadinaSikap Redaksi

81 Tahun RI Merdeka, Enam Tahun Mereka Putus Sekolah

Redaksi | 1 September 2026

SUDAH 81 tahun Republik Indonesia ini merdeka, kawan. Tapi, kalau kita nengok ke Kelurahan Pidoli Dolok, Kecamatan Panyabungan, rasanya kata “merdeka” itu masih sekadar slogan buat keluarga Poso Yasri dan Miftahul Jannah.

Cemana awak nggak sedih, empat anak mereka – Laung, Sakiani, Paet, dan Sri Ayu – terpaksa putus sekolah sampai enam tahun lamanya murni gara-gara impitan ekonomi dan ruwetnya birokrasi.

Enam tahun itu bukan waktu yang sebentar, loh. Di sinilah kita patut mengkritik dan bertanya, kemana kepekaan sosial orang-orang kaya di sekeliling kita?

Di saat banyak yang bisa hidup nyaman dan pamer harta, ada satu keluarga yang harus putar otak bertahan hidup dengan penghasilan 60 ribu perak sehari dari pekerjaan menjaga warung.

Kemana juga pantauan aparat pemerintah daerah di tingkat bawah selama ini? Kok bisa ada empat anak yang hilang hak pendidikannya bertahun-tahun luput dari radar?

Yang bikin awak makin miris, waktu orangtua ini mencoba menyekolahkan anaknya saat merantau ke Kota Pinang, kabarnya sekolah asal menahan surat pindah cuma karena takut jumlah siswanya berkurang. Ini kan kebangetan kali! Masa depan anak dikorbankan cuma demi kuota sekolah.

Tapi, di balik kisah pilu ini, awak harus kasih apresiasi dan jempol buat Pemkab Mandailing Natal yang akhirnya melek dan turun tangan.

Instruksi tegas Bupati Madina Saipullah Nasution langsung dijawab Dinas Sosial P3A dan Dinas Pendidikan. Tim Dinsos yang dipimpin Reni udah turun ke rumah mereka, memastikan sandang dan pangan keluarga ini aman dulu.

Sementara Disdik langsung membereskan administrasi sekolah yang sempat jadi tembok tebal. Langkah solutif dan tepat sasaran macam inilah yang paten dan memang kita butuhkan dari sebuah pemerintahan.

Sebagai pers yang berpegang teguh pada fungsi kontrol sosial dan Kode Etik Jurnalistik, kita wajib terus mengawal kasus macam ini. Kemerdekaan ke-81 tahun harusnya diisi dengan pemerataan hak pendidikan bagi seluruh rakyat, bukan cuma sekadar seremonial.

Jangan sampai ada lagi birokrasi yang menyandera siswa. Jangan sampai masyarakat kita kehilangan empati. Mari kita kawal agar keempat kakak-beradik ini benar-benar bisa kembali mengejar cita-cita mereka di bangku sekolah layaknya anak-anak merdeka lainnya.

Penulis: Saparuddin Siregar | Pemimpin Redaksi StartNews.co.id

Komentar Anda

komentar

Written by Redaksi

Comments

This post currently has no comments.

Leave a Reply


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses


  • Acara Saat Ini
  • Acara Akan Datang



  • play_circle_filled

    Streaming StArt 102.6 FM Panyabungan

play_arrow skip_previous skip_next volume_down
playlist_play