menu Home chevron_right
Berita Madina

Cahaya Al Qur’an di Masjid Raya Panyabungan, Warisan Sang Imam Besar Masjidil Haram

Redaksi | 26 Februari 2026

Menelusuri sejarah Masjid Al Qurro’ Wal Huffazh Panyabungan, warisan Syekh Abdul Qodir Al Mandili di Panyabungan, Mandailing Natal (Madina) yang mewajibkan imamnya seorang hafiz Al Qur’an.

Panyabungan, StartNews – Di tengah deru kendaraan yang melintasi Jalan William Iskandar, jantung Kota Panyabungan, berdiri sebuah bangunan dengan kubah hijau yang megah. Masjid Al Qurro’ Wal Huffazh atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Raya Panyabungan, bukan sekadar simbol arsitektur Islam di Mandailing Natal (Madina). Masjid ini menjadi laboratorium spiritual yang masih teguh memegang amanah besar dari tanah suci Mekkah sejak tujuh dekade silam.

Nama “Al Qurro’ Wal Huffazh” sendiri mengandung makna mendalam, yakni tempat para ahli baca dan penghafal Al Qur’an. Penamaan ini bukanlah tanpa alasan, melainkan sebuah visi besar yang dititipkan oleh tokoh ulama legendaris asal Mandailing yang pernah menjadi Imam Besar di Masjidil Haram, Syekh Abdul Qodir Al Mandili. Sejarah mencatat bahwa masjid yang berdiri sekitar tahun 1950 ini lahir dari kerinduan masyarakat terhadap bimbingan agama yang murni.

Ketua Kenaziran Masjid Al Qurro’ Wal Huffazh, Kholikan Lubis, menceritakan berdirinya masjid ini berawal dari permintaan tulus Raja Huta Siantar kepada Syekh Abdul Qodir Al Mandili. Sang ulama besar kemudian merespons permintaan tersebut dengan mengutus dua putra terbaiknya, Muhammad Ja’far dan Muhammad Ya’qub, untuk kembali ke kampung halaman dan menyebarkan ilmu kalamullah.

“Abdul Qodir Al Mandili kemudian mengirim anaknya Muhammad Ja’far dan Muhammad Yaqub untuk mengajar seni baca Al Qur’an dan haffazh atau menghapal Al Qur’an secara rutin setiap hari Senin,” ungkap Kholikan Lubis saat menjelaskan akar sejarah masjid tersebut.

Dari sebuah musala kecil yang menjadi cikal bakal, aktivitas pengajaran Al Qur’an ini berkembang pesat hingga melahirkan generasi-generasi penghafal Al Qur’an yang mumpuni. Hal inilah yang mendasari sebuah aturan unik dan sakral yang terus dipertahankan hingga saat ini. Setiap imam yang memimpin salat di Masjid Raya Panyabungan wajib memiliki kualifikasi sebagai seorang hafiz atau penghafal Al Qur’an.

Kekhususan ini semakin terasa getarannya saat memasuki bulan suci Ramadan. Masjid ini menjadi magnet bagi jamaah yang merindukan kualitas ibadah yang mendalam. Tradisi mengkhatamkan Al Qur’an dalam salat Tarawih menjadi daya tarik utama. Para hafiz akan melantunkan ayat-ayat suci secara berurutan setiap malamnya.

“Sampai sekarang, pada bulan suci Ramadan setiap salat Tarawih imamnya harus hafaz. Nanti ayatnya satu juz lebih satu malam, biasanya malam ke-27 sudah khatam semuanya,” kata Kholikan Lubis menekankan konsistensi tradisi tersebut.

Meski durasi salat menjadi sedikit lebih lama karena bacaan satu juz per malam, antusiasme warga tidak pernah surut. Masjid ini justru semakin penuh sesak oleh jamaah yang ingin merasakan atmosfer ibadah layaknya di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

Kehadiran Masjid Al Qurro’ Wal Huffazh membuktikan bahwa hubungan batin antara masyarakat Mandailing dengan tradisi keilmuan Islam sangatlah kuat.

Hingga kini, masjid tua ini tetap berdiri sebagai pusat syiar Islam dan rujukan sejarah bagi generasi muda di Mandailing Natal. Masjid ini menjadi pengingat bahwa di Bumi Gordang Sambilan ini, Al Qur’an bukan sekadar dibaca, melainkan dijaga, dihafal, dan dijadikan napas dalam setiap sujud para hamba-Nya.

Reporter: Sir

Komentar Anda

komentar

Written by Redaksi

Comments

This post currently has no comments.

Leave a Reply


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses


  • Acara Saat Ini
  • Acara Akan Datang



  • play_circle_filled

    Streaming StArt 102.6 FM Panyabungan

play_arrow skip_previous skip_next volume_down
playlist_play