Hak Cipta @Redaksi

Aksi Teror Hadir Semakin Nyata

Pojok Redaksi-Aksi bom panci di Bandung menegaskan kembali aksi teroris nyata hadir di tengah kehidupan masyarakat. Meski banyak anggota kelompok teroris tertangkap aparat kesatuan khusus, aksi-aksi berikutnya tidak lantas padam. Pelaku bom di Taman Pendawa tersebut teridentifikasi sebagai residivis atas kasus teror.

YC, pelaku yang tewas tertembak, diketahui terlibat dalam pelatihan militer di Aceh 2011, lalu menjalani proses hukum, dan divonis 3 tahun penjara. Ancaman teror tersebut tak terlepas dari gerakan ISIS. Menurut catatan kepolisian, pelaku tercatat dalam Jemaah Ansharut Daulah (JAD) Bandung.

Anggota kelompok tersebut juga tercatat menjadi pelaku bom di Jl Thamrin Jakarta, Solo, dan gereja di Samarinda. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan JAD sebagai pendukung utama ISIS di Indonesia.

Mereka menebarkan teror untuk menunjukkan eksistensinya terhadap masyarakat luas. Pelaku teror kali ini menjalankan aksinya sambil berteriak agar kawankawannya yang ditahan Detasemen Khusus Antiteror 88 dibebaskan. Seperti diketahui, bukan hanya pelaku bom Thamrin, Solo, dan Samarinda, Densus juga menahan pelaku teror yang tertangkap pada 21 Desember 2016. Tujuh terduga teroris di antaranya beraksi di Tangerang Selatan, Payakumbuh (Sumbar), Deli Serdang (Sumut), dan Batam. Meski beda kelompok, jaringan teroris sama-sama meresahkan. Ancaman mereka mengusik ketenangan warga. Teroris mengancam nilai-nilai kemanusiaan.

Pelaku bom Bandung mengacung-acungkan senjata tajam, kali lain mereka mengancam anggota keamanan, meledakkan pos polisi, dan menjadi ‘’pengantin’’ bom bunuh diri. Gerakan yang berafiliasi terhadap ISIS menjalankan aksinya lebih radikal dan kejam. Negara Islam di Irak dan Suriah memang tergolong baru yang muncul setelah ambruknya rezim Saddam Husein. Namun aksi yang dilancarkan kemudian dirilis oleh media menyita perhatian dunia, termasuk di Indonesia.

Mengapa aksi mereka tidak surut meski banyak pelaku teror yang ditangkap?

Penangkapan itu seakanakan justru membuat teroris semakin memusuhi aparat keamananan, khususnya anggota Densus. Mereka kerap melampiaskan sasaran sososk anggota kepolisian, kendati polisi tersebut tidak terkait sama sekali dengan penanganan teror.

Menilik kemunculan kelompok ISIS ini setelah jatuhnya sebuah rezim pemerintahan, perang terhadap mereka tak cukup hanya dengan menangkap dan mematikan para pentolannya. Kita mengapresiasi kerja aparat yang tidak pernah tidur memerangi teroris. Perlu dicatat pula, langkah tersebut dalam beberapa kasus melahirkan dendam dan tindakan balasan. Maka dibutuhkan jalur lain, membuka diplomasi jangka panjang, agar aksi teror tidak semakin meresahkan.

Sumber : suaramerdeka.com                   

Editor : Hanapi Lubis

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...