Bawa Bakteri, Karantina Pertanian Musnahkan 530 Batang Tanaman Hias Asal China

Karantina Pertanian Tanjungpriok memusnahkan 530 batang tanaman hias jenis Aglaonema asal China, karena membawa bakteri Dickeya chrysantemi yang belum ada di Indonesia. (FOTO: BARANTAN)

Jakarta, StartNews – Karantina Pertanian Tanjungpriok memusnahkan 530 batang tanaman hias jenis Aglaonema asal China, karena terdeteksi adanya infestasi bakteri Dickeya chrysantemi yang belum ada di Indonesia.  Infestasi bakteri ini terdeteksi melalui pengujian laboratorium dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR).

Pemusnahan merupakan tindakan karantina yang diatur dalam Pasal 16 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.  Pasal 47 dan 48 undang-undang ini mengatur tindakan pemusnahan terhadap komoditas yang dimasukkan dari luar negeri dan terdeteksi adanya OPTK yang tidak bisa dibebaskan dengan tindakan perlakuan.

Dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 25 Tahun 2020 tentang Jenis OPTK, bakteri Dickeya chrysantemi termasuk kategori OPTK A1 yang belum terdapat di Indonesia dan golongan I yang tidak bisa dibebaskan dari media pembawa dengan tindakan perlakuan.

Tindakan pemusnahan bibit Aglaonema tersebut dilaksanakan di lokasi pemilik dengan cara dibakar oleh Nopriawansyah, Masanto, dan Duan Bari selaku Analis Perkarantinaan Tumbuhan. Juga disaksikan oleh Almen Marulitua Simarmata, koordinator Substansi Karantina Tumbuhan.

“Selain mengancam keragaman spesies tanaman hias di Indonesia, bakteri ini apabila tersebar luar berpotensi menyerang pertanaman sayuran dan buah-buahan nusantara,” ujar Almen.

Secara terpisah, Kepala Karantina Pertanian Tanjungpriok Hasrul mengatakan sebagai garda terdepan pertanian Indonesia, karantina akan memaksimalkan pertahanan dengan pencegahan masuk dan tersebarnya OPTK yang kemungkinan terbawa melalui importasi komoditas pertanian.

“Kami akan ketat memitigasi risiko pemasukan komoditas pertanian yang terdeteksi adanya OPTK. Satu batang sekalipun akan dimusnahkan jika memang tidak bisa dibebaskan melalui tindakan perlakuan,” tutur Hasrul.

Reporter: Rls/Sir

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...

Hak Cipta @Redaksi