Bupati Tapsel Naik Motor untuk Kawal Bantuan Kopi dan Ikan di Desa-desa
Tapsel, StartNews – Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) H. Gus Irawan Pasaribu memastikan optimalisasi anggaran dan kejelasan dampak program di sektor pertanian dan perkebunan terhadap kesejahteraan warga di sejumlah desa.
Gus Irawan memilih menunggang sepeda motor menyusuri jalur pedesaan di Kecamatan Sipirok, Arse, hingga Saipar Dolok Hole demi memantau realisasi bantuan hilirisasi kopi 600 hektare serta penyebaran 2.500 benih ikan.
Upaya jemput bola ke wilayah terpencil ini bertujuan memutus mata rantai birokrasi dan menghindari ketergantungan pada laporan administratif formal semata.
Dalam peninjauan yang didampingi Kapolres Tapsel AKBP Anton Santoso dan Sekda H. Sofyan Adil Siregar pada Minggu (6/9/2026), pemerintah daerah menekankan efisiensi alokasi APBD yang terbatas dengan langsung melihat kondisi riil di lapangan.
Di Kecamatan Arse, rombongan menyerahkan bibit kopi Arabika serta insentif pembuatan lubang tanam kepada kelompok tani di Desa Pinagar, Aek Haminjon, dan Nanggarjati. Mengingat komoditas kopi membutuhkan masa tunggu panen hingga dua tahun, strategi tumpang sari dengan tanaman jagung diterapkan agar kondisi finansial petani tetap stabil melalui panen jangka pendek setiap empat bulan.
Pendekatan ini berfokus pada penguatan rantai pasok dan penciptaan nilai tambah, dengan target menjadikan kopi Sipirok sebagai merek dagang mandiri yang siap menembus pasar ekspor.
Selain sektor perkebunan, pemulihan ekosistem sungai pascabencana banjir dan longsor di Desa Dalihan Natolu juga disikapi dengan melakukan restocking 2.500 benih ikan jurung, tawes, dan mas guna menghidupkan kembali tradisi lubuk larangan.
Pemkab Tapsel berupaya melepaskan warga dari jeratan pembiayaan berbunga tinggi dengan mengarahkan kemitraan modal kerja yang lebih ramah melalui Bank Sumut. Pada saat yang sama, masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar demi menjaga ruang hidup dan kelestarian kawasan hutan di tengah ancaman musim kemarau.
“Kita ingin melihat langsung, bukan hanya berdasarkan laporan. Apalagi kemampuan APBD kita terbatas, sehingga kita harus menentukan skala prioritas,” tegas Gus Irawan Pasaribu di sela-sela peninjauan.
Dia menegaskan keberhasilan program bukan diukur dari angka pembagian bibit, melainkan dari keberlanjutan pemeliharaan hingga mampu meningkatkan pendapatan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anak ke jenjang yang lebih tinggi.
Reporter: Lily Lubis

Comments
This post currently has no comments.