menu Home chevron_right
Berita Madina

DIVA FEBRIANI

Redaksi | 1 Agustus 2025

DIVA FEBRIANI, usia lima belas, ia tewas. Ia berhenti dicari. Jasad gadis manis itu ditemukan dalam lubang sedalam 1,5 meter, terkubur di lahan sawit. Seragam SMA nya mungkin dilipat di tas, atau tercecer di mana saja. Atau seragam manis putih abu-abu itu bernoda darah.

Jangan mendahului polisi, katanya. Tapi polisi selalu didahului pembunuh, perampok, penculik, dan pemerkosa. Di mana polisi ketika warga negara butuh?

Mungkin di kebun jagung. Bisa jadi sedang bagi-bagi takjil. Atau sedang menyantuni anak yatim. Atau di ranah-ranah pamer sosial. Atau sedang ngopi dengan jurnalis.

Kan media diperlukan untuk bungkus sosial bahwa kita juga nabi? Ya kan? Jurnalisme juga melacur, menjajakan diri maksudnya.

Diva Febriani, mati. Kita harus marah. Tentu saja ia dibunuh. Kalau tidak, kenapa ia terkubur. Padahal siang tadi ia masih latihan paskibra.

Ingin sekali ia mengibarkan bendera merah putih. Karena pengibar ia kira masih kerhormatan, seperti yang diajarkan guru PKN.

Indonesia akan ulang tahun. Ke-80. Hore…. Sudah sepuh.

Tapi tampak seperti bayi tumbuh. Orang bisa mati terkapar di jalan setiap hari. Nyawa manusia bisa seharga tiket parkir. Atau nyawa melayang karena kelaminmu perempuan. Iya.

Di negeri ini tak ada yang bisa merencanakan masa depan. Anakmu berangkat sekolah pagi ini, jangan terlalu yakin akan bertemu kembali nanti sore.

Setiap pagi bisa jadi pertemuan terakhir, karena anakmu belum tentu kembali. Ia bisa diculik, dilindas truk, diperkosa, dicecoki narkoba ke dalam mulut kecilnya, dan berbagai kesadisan lain.

Emang siapa yang menjaga mereka? Emang siapa yang kau kira akan melindunginya? Emang kau siapa sampai minta perlindungan? Menteri? Hanya dalam bangsa merdeka nyawa setiap warga negara dilindungi setara.

Siapa peduli nyawamu? Artis juga tidak. Kau dicatat sebagai warga negara hanya ketika mereka butuh pajak dan coblosanmu dalam pemilu.

Maka peluklah anakmu setiap pagi. Karena itu bisa jadi pelukan terakhir sebelum nyawanya direnggutkan. Dan jika itu terjadi, itu tanda kau sedang berada di Indonesia.

Anak-anak menggerek bendera merah putih entah untuk kemulyaan siapa, kemerdekaan siapa.

Di masa kolonial, orang hanya mati kalau sakit atau digigit harimau dan ular. Delapan puluh tahun merdeka siapa saja bisa mati di jalanan, di sekolah, di kebun sawit, atau bahkan di rumah-rumah tuhan. Bahkan jika kau matipun, mayatmu belum tentu aman dalam kuburmu. Kapan-kapan mayat juga digusur.

Di masa kolonial, kau menikahi gadis semarga saja, kau bisa dipenjara. Karena kelamin wanita masih dihormati. Tidak sebatas dibungkus kain tipis. Kehormatannya dilindungi.

Setelah merdeka kelamin wanita sama murahnya dengan sebungkus roti mungil yang bisa kau dapat di gang-gang sempit atau di kebun sawit.

Kita marah saat bendera bajak laut berkibar berdampingan dengan bendera merah putih. Kita sedih saat bendera separatisme terang-terangan digerek di depan orang berseragam tentara. Tapi menggerek merah putih juga seakan kehilangan ruh di usia 80. Makin kita kibarkan, makin miris hati kita. Karena kita tahu bukan begini yang disebut merdeka. (*)

ASKOLANI NASUTION (Penulis dan Budayawan)

Komentar Anda

komentar

Written by Redaksi

Comments

This post currently has no comments.

Leave a Reply


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses


  • Acara Saat Ini
  • Acara Akan Datang



  • play_circle_filled

    Streaming StArt 102.6 FM Panyabungan

play_arrow skip_previous skip_next volume_down
playlist_play