Hak Cipta @Redaksi

EKONOMI SYARIAH ARUS BARU PEREKONOMIAN INDONESIA

Foto: Penulis, Sunarji Harahap

EKONOMI SYARIAH ARUS BARU PEREKONOMIAN INDONESIA

(MOMENTUM  ISEF 2019)

OPINI-Bank Indonesia (BI) dan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) memiliki mimpi mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Ekonomi syariah layak menjadi arus baru perekonomian Indonesia. Puncak rangkaian International Sharia Economic Festival (ISEF) yang diikuti 47.745 peserta dari 45 negara ditunjukkan dengan catatan transaksi senilai Rp 29,8 miliar, investor deals sebesar Rp 22,5 triliun, serta transaksi business matching yang mencapai Rp 149,3 miliar dan mengenalkan lebih dekat  “Halal Lifestyle”, baik itu dari kuliner, fashion, traveling, hingga pengelolaan keuangan.

Festival ini diselenggarakan dengan tujuan menjadikan ekonomi dan keuangan syariah sebagai sumber ekonomi baru. Sumber ekonomi ini tidak inklusif hanya bagi kalangan Muslim saja, tapi juga menjaga serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi Nasional. Untuk mencapai hal ini perlu kerja sama dan kesadaran membangun ekonomi keuangan syariah, baik sosialisasi dalam negeri maupun luar negeri.

Ekonomi syariah sebuah kekuatan besar yang harus dilihat dan mulai dipikirkan, untuk mengambil peluang ekonomi yang begitu besar ini. Namun, sayangnya lanjut Presiden, menurut Global Islamic Economy Indicator, di tahun 2018 Indonesia ini masih menempati urutan ke-10 dalam peringkat negara-negara yang menyelenggarakan ekonomi syariah.

Menurut Presiden, posisi Indonesia masih jauh di belakang Malaysia, Uni Emirat Arab, Bahrain, Arab Saudi, Oman, Yordan, Qatar, Pakistan, dan Kuwait.  Saatnya telah tiba untuk membangkitkan potensi ekonomi syariah di Indonesia, dan menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah terkemuka di dunia karena Indonesia memang negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Ekonomi syariah dapat mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan rakyat, mendorong keadilan sosial, dan juga melestarikan lingkungan sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang dilakukan.

Pemerintah telah membentuk manajemen eksekutif KNKS (Komite Nasional Keuangan Syariah) yang akan turut mengawal pelaksanaan Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia ke depan sebagai motor penggerak keuangan dan ekonomi syariah Indonesia dengan berbekal pedoman Masterplan Arsitektur Keuangan Syariah (MAKSI) dan Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI).

KNKS bersama Pemerintah membidik target ambisius menjadikan Indonesia sebagai kiblat keuangan dan ekonomi syariah dunia. Dengan meluncurkan Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019-2024, Indonesia melakukan lompatan besar untuk menguatkan ekosistem ekonomi syariah Indonesia karena membangun ekosistem ini paling sulit.

Masterplan ini akan menjadi panduan kita semua untuk dijalankan dalam pelaksanaannya, dimonitor progres perkembangannya, dan dipastikan pencapaian-pencapaiannya. Penguatan rantai nilai halal dengan fokus pada sektor makanan dan minuman, fashion, pariwisata, media, rekreasi serta farmasi dan kosmetik dan keuangan syariah yang berbasis digital. Komitmen menjalankan masterplan ekonomi syariah Indonesia ini, maka Indonesia akan segera menjadi pusat ekonomi syariah terkemuka di dunia.

Saat ini sudah ada marketplace yang tidak hanya 1-2 menawarkan produk-produk halal. Sebuah akselerasi  untuk kita memasarkan produk-produk kita yang sudah banyak. Sehingga kita tidak hanya menjadi negara konsumen terbesar produk halal global tetapi juga menjadi produsen terbesar dari produk-produk halal yang akan masuk ke negara-negara lain.

Tahun 2019 menjadi waktu yang menggembirakan bagi kemajuan keuangan dan ekonomi syariah Indonesia. Cambridge Institute ofIslamic Finance, dalam laporan Global Islamic Finance Report (GIFR) 2019, menempatkan Indonesia sebagai peringkat wahid dalam hal kepemimpinan dan potensinya dalam perbankan dan keuangan Islam global, dengan angka capaian 81,93. Atas prestasi ini, Indonesia berhasil mencapai peringkat satu dari negara jiran Malaysia yang mendominasi sejak 2011.

Capaian atas penghargaan GIFR Award 2019 ini merupakan pengakuan atas usaha bersama semua pihak, baik pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dalam mewujudkan MAKSI dan MEKSI. Perkembangan industri keuangan syariah tidak lepas dari peran serta institusi pendidikan dalam menyediakan dan meningkatkan kualitas SDM keuangan syariah. Saat ini, Indonesia memiliki institusi keuangan syariah terbanyak di dunia.

Indonesia menargetkan peningkatan peran keuangan syariah dalam rencana strategis pembangunan ekonomi nasional.  Semua usaha dan capaian ini membutuhkan komitmen yang kuat dan terintegrasi dari pemangku kepentingan dalam merealisasikan visi Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah terkemuka di dunia.

Capaian memuaskan perkembangan keuangan syariah Indonesia tecermin dari pertumbuhan institusi keuangan syariah, produk dan layanannya, hingga berkembangn infrastruktur pendukung keuangan syariah. Bahkan di pasar global, Indonesia memiliki indeks keuangan syariah terbesar di dunia. Berdasarkan data OJK pada Juni 2019, aset keuangan syariah Indonesia, tidak termasuk saham syariah dan Baitul Malwat Tamwil (BMT), mencapai US$ 94,44 miliar dengan pangsa pasar 8,29 persen.

Total aset perbankan syariah tercatat sebesar 500 triliun rupiah atau hampir 6 persen dari total pangsa pasar keuangan syariah. Hal ini menunjukkan pertumbuhan aset, pembiayaan, dan kekuatan deposito perbankan syariah yang menjadi motor penggerak utama keuangan syariah di Indonesia.

Selain perbankan syariah, Lembaga Keuangan Non-Bank (LKNB) syariah yang mencakup asuransi syariah, pembiayaan syariah, dan institusi lainnya tercatat memiliki nilai 102 triliun rupiah. Industri pasar modal syariah juga mengalami pertumbuhan positif, di antaranya aset reksadana syariah sebesar 33 triliun rupiah, juga sukuk negara dan sukuk korporasi senilai Rp700 triliun.

Kapitalisasi saham Syariah berdasarkan Indeks Saham Syariah Indonesia mencapai Rp3.700 triliun pada akhir Juni 2019, dengan total aset sekitar Rp 7,2 triliun yang dikelola BMT. Pertumbuhan investasi syariah semakin didukung dengan pembentukan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

BPKH dipandang sebagai anugerah bagi investasi syariah dan dianggap sebagai pendorong pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia ke tahap pertumbuhan berikutnya. Pembentukan BPKH diharapkan akan menciptakan pergeseran peta keuangan di seluruh pasar modal dan menjadi pengelola dana haji terbesar di dunia yang mengungguli Lembaga Tabung Haji Malaysia dalam dekade berikutnya. BPKH yang saat ini mengelola sekitar Rp 100 triliun atau US$ 6,57 miliar, kini diberi mandat untuk berinvestasi 50 persen di luar industri perbankan, untuk semakin mendorong pertumbuhan keuangan dan ekonomi syariah di Indonesia, KNKS mempercepat implementasi potensi ekonomi syariah di Indonesia melalui 10 program prioritas, di antaranya program berbasis teknologi yaitu Zakat Sharing Platform, Microfinance, Halal Marketplace dan Sharia Digital Payment System.

KNKS sudah memetakan sejumlah langkah strategis untuk mendorong kemajuan keuangan dan ekonomi syariah di Indonesia, di antaranya memetakan MEKSI menjadi rencana implementasi yang cukup detail, mendorong perkembangan perbankan syariah, melakukan uji coba gerakan Indonesia Ramah Zakat di Palembang dan Tangerang, hingga meluncurkan Link Aja Syariah sebagai dompet digital berbasis syariah pertama yang dapat dipakai membeli produk halal di marketplace halal seperti TokopediaSalam dan Bukalapak.

Lebih dari 4.000 institusi menawarkan layanan dan produk keuangan syariah yang terdiri dari Bank Syariah, Bank Perkreditan Rakyat Syariah, Operator takaful/Asuransi Syariah, Multifinance Syariah, Penjaminan Syariah, Dana Pensiun Syariah, Lembaga Keuangan Mikro Syariah, Pegadaian Syariah, Modal Ventura Syariah, Koperasi Syariah dan Fintech Syariah.

Perkembangan industri keuangan syariah di atas tidak lepas dari peran serta institusi pendidikan dalam menyediakan dan meningkatkan kualitas SDM keuangan Syariah. Saat ini, Indonesia memiliki institusi pendidikan ekonomi syariah dan sejenis sebanyak 1.010 program studi, terdiri dari 52 program vokasi, 861 program sarjana, 87 program magister, dan 10 program doktoral.

Pemerintah bersama KNKS memiliki visi dan misi yang jelas, yaitu mempercepat realisasi target Indonesia menjadi kiblat keuangan dan ekonomi syariah dunia, dengan tujuan besar mencapai Indonesia yang mandiri, makmur, dan madani.

Ekonomi syariah menjadi arus baru perekonomian Indonesia mempunyai harapan peningkatan signifikan dalam pembangunan ekonomi, keuangan dan bisnis syariah sehingga cita-cita Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia pada tahun 2024 bisa terealisasi.Konsep arus baru ekonomi Indonesia. Pertama, arus baru ekonomi harus mengamalkan sila ke-5 Pancasila, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, agar kesenjangan ekonomi dapat segera teratasi. Bagaimana kontribusi ekonomi dan keuangan syariah semakin signifikan menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran, mengurangi kemiskinan, pengendalian inflasi, penguatan daya beli masyarakat dan penguatan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Sehingga, Indonesia betul-betul kuat dan sejahtera. Seluruh komponen masyarakat bisa menikmati dampak dari pembangunan ekonomi nasional ini.

Kedua, arus baru ekonomi juga harus mengedepankan ekonomi keumatan atau kerakyatan. Sebab, kekuatan utama dari ekonomi Indonesia berada di tangan masyarakat sendiri. Pemerintah harus mendorong adanya redistribusi bahan dan sumber daya kepada masyarakat. Pembangunan ekonomi didasari membangun ekonomi dari bawah (grass root), karena bagian terbesar bangsa ini adalah umat kalau umatnya kuat, maka secara otomatis ekonomi juga bisa kuat. Makanya dibutuhkan redistribusi aset supaya masyarakat memperoleh akses bahan yang selama ini hanya dikuasai segelintir pihak. Dalam kaitan ini, ekonomi syariah memiliki keunggulan, khususnya dalam konsep zakat dan wakaf.

Ketiga, arus baru ekonomi harus memuat konsep kemitraan antar sesama pengusaha, termasuk didalamnya pelaku bisnis usaha kecil. Tujuan dari konsep ini, untuk menguatkan kekuatan ekonomi pelaku usaha yang memiliki sumber ekonomi yang rendah. agar terus berdaya saing. Kemitraan ini dengan mengkolaborasi antara pengusaha, bukan harus melemahkan yang kuat tetapi menguatkan yang lemah, sehingga terjadi penguatan-penguatan. Hal ini mendorong agar para pengusaha dapat berkontribusi maksimal terhadap penguatan ekonomi, serta menjadi memberi kontribusi signifikan dalam menstimulasi pertumbuhan ekonomi

Terakhir, arus baru ekonomi harus memiliki semangat juang yang tinggi . Bangsa Indonesia sejatinya memiliki semangat juang yang tinggi yaitu optimisme. Optimisme ini diwujudkan dengan penguatan – penguatan yang harus didukung semua pihak, penguatan literasi, penguatan interkoneksi antar sektor dalam ekonomi, penguatan regulasi yang mendukung penguatan pembangunan ekonomi, hingga penguatan iklim kehidupan berbangsa dan bernegara yang akan mendorong produktivitas perekonomian negara dan tidak menimbulkan hal-hal yang bersifat kontraproduktif.

Keempat hal di atas merupakan nilai – nilai luhur yang juga diusung dalam konsep ekonomi syariah, sehingga implemtasi arus baru ini, secara tidak langsung juga akan menguatkan ekonomi dan keuangan syariah. Maka diharapkan, ekonomi Indonesia akan semakin kuat, khususnya ekonomi dan keungan syariah dan menjadi role model yang baik bagi bangsa lain di dunia. Masa depan ekonomi syariah dan perekonomian bangsa akan semakin cerah.

Sunarji Harahap

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara / Penulis Mendunia /Pemerhati Ekonomi Syariah / Pengamat Ekonomi Milenial

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...