Ironi, Kebutuhan Beras Madina Dipasok dari Lampung dan Bengkulu

Ironi, Kebutuhan Beras Madina Dipasok dari Lampung dan Bengkulu

Kotanopan, StartNews Sebuah ironi terjadi di Kabupaten Mandiling Natal (Madina), Sumatera Utara. Areal pertanian yang luas di kabupaten ini bukan jaminan ketersediaan beras di wilayah ini. Buktinya, sebagian kebutuhan beras di kabupaten yang tanahnya subur ini ternyata dipasok dari luar Provinsi Sumut seperti Lampung dan Bengkulu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai pedagang di Kecamatan Kotanopan dan Kecamatan Panyabungan pada Jumat (10/2/2023) mengakui pasokan beras dari luar daerah ini masih terus berlangsung hingga Februari 2023. Tidak tanggung-tanggung, pasokan beras itu bisa mencapai 70 hingga 80 ton per pekan.

Suplai beras dari luar daerah ini disebabkan keberadaan gabah kering di pasaran Madina sangat terbatas. Kondisi ini dipicu berkurangnya hasil panen petani di beberapa wilayah Madina yang dilanda musim penghujan. Selain itu, banyak petani yang mengalihkan lahan pertaniannya untuk berkebun jagung.

Begitu juga musim panen di sebagian wilayah Madina saat ini, terutama di daerah Mandailing Julu. Kebutuhan masyarakat terhadap bahan pokok beras tidak tercukupi akibat berkurangnya hasil panen padi.

Para petani berhenti bercocok tanam padi lantaran saluran irigasi yang seharusnya mengairi sawah mereka sudah lama dibiarkan tersumbat. Belum lama musim hujan yang kerap menyebabkan banjir membuat sawah petani gagal panen.

Besarnya pasokan beras dari luar daerah membuat harga beras di Madina terus mendaki. Harga gabah kering pun makin mahal dan saat ini mencapai Rp6.200 per kilogram. Ironisnya, kendati harga gabah kering tergolong mahal, tetapi para petani enggan menjual padinya karena pendapatannya hanya cukup untuk kebutuhan makan keluarga selama satu musim.

Ucok Manambin, pedagang beras di Kotanopan, mengatakan suplai beras dari luar daerah sudah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir. Ucok memesan beras ke Lampung dan Bengkulu hingga 20 ton per pekan.

“Bukan saya saja yang memesan beras dari Lampung dan Bengkulu. Banyak juga agen beras di Panyabungan dan Muarasipongi yang memesan dari provinsi itu. Kalau dihitung-hitung, jumlah beras yang didatangkan dari Lampung dan Bengkulu sekitar 70 sampai 80 ton per minggu,” ujar Ucok Manambin.

Pasokan beras dari Lampung dan Bengkulu itu diakui Irsan, sopir truk membongkar muatan beras di Kotanopan.

Irsan mengaku jumlah beras dari Lampung dan Bengkulu yang dia bawa tergantung pesanan, terkadang satu atau dua trip dalam sepekan. Dalam satu trip truknya membawa 10 hingga 11 ton beras dari Lampung dan Bengkulu.

Suplai beras dari luar daerah ini semestinya menjadi perhatian bagi pemerintah daerah. Pasalnya, secara geografis areal persawahan di Madina terhampar luas. Namun, realitasnya produksi beras di kabupaten justru berbanding terbalik dengan kebutuhan masyarakat Madina.

Reporter: Lokot Husda Lubis

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...