menu Home chevron_right
Berita Sumut

Pasca Longsor, Warga Marancar Kini Diteror Ular Liar

Redaksi | 17 Januari 2026

Tapsel, StartNews – Dua bulan telah berlalu sejak bencana banjir bandang dan tanah longsor mencabik ketenangan Kecamatan Marancar, Tapanuli Selatan (Tapsel). Namun, bagi warga setempat, ujian belum benar-benar berakhir. Saat sisa-sisa lumpur mulai dibersihkan dari pelataran rumah, muncul invasi ular liar yang merayap hingga ke badan jalan dan pemukiman.

Warga yang sebelumnya berjibaku dengan sekop dan cangkul untuk membuang material longsor, kini harus membekali diri dengan kewaspadaan ekstra. Dari Desa Simaninggir hingga Aek Malakkut, desisan ular berbisa kini menjadi latar bunyi yang membuat bulu kuduk berdiri.

Awal pekan ini, suasana gotong-royong di lokasi longsor Aek Malakkut mendadak berubah menjadi kepanikan singkat. Di tengah tumpukan kayu dan batu yang sedang dibersihkan oleh petugas dan aparat desa, seekor ular piton berukuran besar menampakkan diri.

Kemunculan predator melata ini seakan mengirim pesan bahwa ada yang berubah di ekosistem Marancar. Meski wilayah ini bersinggungan langsung dengan hutan, kehadiran piton sebesar itu di area terbuka jarang terjadi. Ular muncul dengan tenang, seolah ikut memantau pergerakan manusia yang sedang mengusik sisa-sisa habitat barunya.

Jika piton di Aek Malakkut membuat terperanjat, pemandangan di Desa Simaninggir pada Kamis (15/1/2026) justru memicu kengerian yang lebih nyata. Dua ekor ular kobra, masing-masing diperkirakan sepanjang dua meter, dengan santai melintas di badan jalan desa.

Warga yang tengah berkendara terpaksa menghentikan laju kendaraan. Tak ada yang berani mendekat. Jarak aman menjadi aturan tak tertulis saat “sang raja” berbisa itu mengklaim jalur utama desa.

“Setelah bencana, ular berbisa jadi sering muncul. Dulu jarang terlihat, sekarang malah muncul di jalan,” kata Sekretaris Desa Simaninggir Alex Ritonga, dirilis antaranews.com, Jumat (16/1/2026).

Fenomena ‘lumpur pergi, ular datang’ ini bukan tanpa alasan. Pakar lingkungan sering menyebut bencana alam seperti longsor menghancurkan sarang dan sumber makanan satwa liar. Akibatnya, ular-ular yang kehilangan tempat tinggal terpaksa bermigrasi ke wilayah yang lebih rendah, yang sayangnya adalah pemukiman dan lahan pertanian warga.

Kini, rutinitas berkebun yang menjadi nadi ekonomi warga Marancar tak lagi sama. Setiap langkah di atas rumput kini diawali dengan tatapan waspada ke kiri dan kanan. Para orangtua pun harus bekerja ekstra mengawasi anak-anak yang biasanya bermain bebas di halaman.

Langkah antisipatif kini dinantikan. Alex Ritonga mengimbau warganya untuk meningkatkan kewaspadaan. Namun, warga berharap ada tindakan lebih konkret dari pihak terkait untuk menangani konflik antara manusia dan satwa liar ini.

Bagi masyarakat Marancar, kepulihan pasca-bencana bukan hanya soal pembangunan kembali jembatan yang putus atau pembersihan jalan dari lumpur. Kepulihan sejati ketika mereka bisa kembali melangkah menuju ladang tanpa bayang-bayang kejutan bersisik yang mengancam nyawa.

Reporter: Lily Lubis

Komentar Anda

komentar

Written by Redaksi

Comments

This post currently has no comments.

Leave a Reply


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses


  • Acara Saat Ini
  • Acara Akan Datang



  • play_circle_filled

    Streaming StArt 102.6 FM Panyabungan

play_arrow skip_previous skip_next volume_down
playlist_play