menu Home chevron_right
Berita MadinaSikap Redaksi

Pisang Kepok Madina Bakal Naik Kelas

Redaksi | 28 April 2026

HALO, warga Mandailing Natal! Ada kabar segar dari Komplek Payaloting. Sepertinya, pisang kepok kita yang selama ini sering dianggap buah biasa-biasa saja, bakal naik kelas. Hari ini, 28 April 2026, Bupati Mandailing Natal (Madina ) H. Saipullah Nasution baru saja tanda tangan kerja sama (MoU) dengan Universitas Medan Area (UMA).

Isinya? Fokus mengembangkan pisang kepok jadi komoditas unggulan daerah. Jujur saja, langkah ini patut kita kasih dua jempol. Kenapa? Karena selama ini kita punya tanah yang subur, tapi manajemennya seringkali jalan di tempat.

Kita harus puji keberanian Pak Bupati yang secara blak-blakan bilang kalau petani kita jangan lagi dibiarkan kerja tanpa arah. Selama ini, banyak petani kita yang menanam karena ikut-ikutan, lalu pas panen malah bingung jualnya ke mana karena harga anjlok.

Rencana hilirisasi—alias nggak cuma jual buah mentah—inilah kuncinya. Bayangkan kalau pisang kepok Madina nggak cuma keluar daerah dalam bentuk tandan, tapi sudah jadi tepung, keripik premium, sampai pakan ternak. Nilai tambahnya bakal balik lagi ke kantong petani, bukan cuma ke kantong tengkulak. Plus, keterlibatan UMA untuk bawa teknologi pertanian presisi dan sekolah lapang itu keren banget. Zaman sekarang, bertani nggak bisa cuma modal cangkul dan doa, harus pakai data dan sains.

Tapi, sebagai masyarakat yang kritis, kita juga nggak boleh tutup mata. MoU itu di atas kertas memang manis, tapi tantangan di lapangan itu pahit, sepahit kulit pisang yang masih muda.

Pertama, soal penyakit darah bakteri. Ini musuh bebuyutan pisang kepok. Kalau tim dari UMA dan dinas terkait nggak benar-benar turun ke desa buat kasih solusi nyata, ya bibit unggul sekalipun bakal tumbang.

Jangan sampai demplot (proyek percontohan) cuma bagus di lokasi yang sering dipantau, tapi di kebun rakyat tetap kena serangan penyakit.

Kedua, soal mentalitas. Mengubah cara kerja petani dari asal tanam ke industri itu nggak gampang. Program beasiswa dan magang buat anak muda (generasi milenial) memang solusinya. Tapi, pertanyaannya, seberapa cepat birokrasi kita bisa bergerak? Jangan sampai niat baik ini tersangkut di rumitnya urusan administrasi.

Satu lagi yang paling penting, soal pasar. Pemkab janji mau bantu izin edar, sertifikasi halal, sampai masuk ke e-katalog. Ini harus dikawal! Produk olahan pisang kita bakal bersaing dengan produk dari daerah lain. Kemasannya harus oke, rasanya harus konsisten, dan harganya harus bersaing.

Ya, yang namanya berusaha, kita harus dukung dan apresiasi langkah Pemkab Madina yang mulai serius melirik potensi lokal selain kopi dan aren. Ini pertanda bahwa pemerintah mau bergerak lebih maju. Kita dukung penuh kolaborasi dengan UMA ini supaya nggak cuma jadi pilot project yang selesai setelah laporan dibuat.

Kita tunggu tanggal mainnya. Semoga kedepan, kalau orang tanya “Apa oleh-oleh khas Madina?”, jawabannya bukan cuma kopi, tapi produk pisang kepok kelas dunia.

Gaspol, Pak Bupati! Tapi ingat, jangan biarkan petani berjuang sendirian lagi! (*)

Komentar Anda

komentar

Written by Redaksi

Comments

This post currently has no comments.

Leave a Reply


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses


  • Acara Saat Ini
  • Acara Akan Datang



  • play_circle_filled

    Streaming StArt 102.6 FM Panyabungan

play_arrow skip_previous skip_next volume_down
playlist_play