Berpisah dengan Istri, Pria di Tapsel Akhiri Hidup dengan Gantung Diri
Penemuan jenazah SAB (33) yang tewas gantung diri di Angkola Sangkunur, Tapanuli Selatan (Tapsel), mengungkap fakta pilu. Korban diduga depresi berat selama dua tahun hidup menyendiri setelah berpisah dengan istri.
Tapsel, StartNews – Kisah pilu datang dari Desa Malombu Kampung Bukkas, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), setelah seorang pria berinisial SAB (33) ditemukan tak bernyawa dalam kondisi gantung diri di dalam rumhnya, Selasa (10/3/2026). Selama dua tahun terakhir pasca berpisah dengan sang istri, SAB hidup menyendiri.
Peristiwa ini terungkap saat seorang kerabat sekaligus tetangga korban berniat menyambangi kediaman SAB untuk mengajaknya berbuka puasa bersama. Namun, suasana rumah yang sunyi dan pintu yang terkunci rapat memicu kecurigaan mendalam bagi saksi yang datang berkunjung sore itu.
“Awalnya saksi yang merupakan tetangga sekaligus anggota keluarga korban datang ke rumahnya untuk mengajak berbuka puasa. Namun, saat pintu rumah diketuk dan korban dipanggil beberapa kali tidak ada jawaban,” ujar Kapolsek Batangtoru AKP Penggar Marinus Siboro.
Rasa penasaran membawa saksi untuk mengintip melalui celah jendela. Dia melihat tubuh korban sudah dalam posisi tergantung menggunakan seutas tali. Temuan itu langsung dilaporkan kepada kepala desa dan diteruskan ke pihak kepolisian untuk dilakukan evakuasi serta olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Berdasarkan hasil identifikasi awal oleh tim medis Puskesmas Angkola Sangkunur, kondisi jenazah menunjukkan korban telah meninggal dunia sekitar dua hari sebelum ditemukan. Hal ini diperkuat dengan adanya tanda-tanda pembusukan alami pada tubuh pria tersebut saat petugas tiba di lokasi.
“Dari hasil pemeriksaan tenaga kesehatan, kondisi jenazah sudah mengalami pembusukan dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban,” kata AKP Penggar Marinus Siboro menjelaskan hasil visum luar di tempat kejadian.
Fakta menyedihkan terungkap dari keterangan pihak keluarga yang menyebutkan SAB mengalami gangguan kejiwaan selama masa kesendiriannya. Tekanan mental tersebut diduga menjadi pemicu utama korban nekat mengakhiri hidupnya, meski sebelumnya sudah pernah ada upaya pencegahan dari pihak medis dan perangkat desa.
“Bahkan menurut keterangan istrinya, almarhum sebelumnya pernah beberapa kali mencoba melakukan bunuh diri, namun berhasil dicegah,” ungkap Kapolsek mengenai riwayat depresi yang dialami korban.
Meski upaya pengobatan medis telah dilakukan secara rutin oleh pihak Puskesmas setempat, takdir berkata lain pada Selasa sore tersebut. Di lokasi, polisi mengamankan barang bukti berupa tali nilon dan pakaian korban. Sementara pihak keluarga telah mengikhlaskan kejadian ini sebagai musibah murni.
“Pihak keluarga telah membuat surat pernyataan penolakan autopsi dan menerima kejadian ini sebagai musibah. Kami tetap melakukan klarifikasi terhadap saksi-saksi untuk memastikan seluruh fakta kejadian,” tutur AKP Penggar Marinus Siboro.
Reporter: Lily Lubis

Comments
This post currently has no comments.